Bacaan Al-Quran Juz 3 dan Penjelasannya

Al-Qur’an Juz 3 dimulai dari Surah Al-Baqarah ayat 253 dan berakhir pada Surah Ali ‘Imran ayat 92. Bagian ketiga dari susunan mushaf Al-Qur’an ini memuat 126 ayat yang berasal dari dua surah Madaniyyah, yaitu bagian akhir Surah Al-Baqarah dan bagian awal Surah Ali ‘Imran.

Dalam bacaan Juz 3, pembaca akan menjumpai sejumlah tema penting yang berkaitan dengan akidah, ibadah, dan kehidupan sosial.

Surah Al-Baqarah mengawali pembahasan dengan Ayat Kursi yang menjelaskan keagungan Allah, kemudian menguraikan prinsip tidak ada paksaan dalam beragama, larangan riba, serta ketentuan pencatatan utang-piutang yang dijelaskan dalam ayat terpanjang Al-Qur’an.

Memasuki Surah Ali ‘Imran, pembahasan berlanjut pada kebenaran wahyu, kisah keluarga Imran, kelahiran Maryam dan Nabi Isa ‘alaihissalam, serta anjuran menginfakkan harta yang dicintai.

Halaman ini menyajikan teks Al-Qur’an Juz 3 lengkap dalam tulisan Arab yang jelas dan mudah dibaca. Dilengkapi susunan ayat, pemetaan pokok bahasan, karakteristik kebahasaan, serta panduan tilawah, halaman ini dapat menjadi pendamping untuk membaca, memahami, dan mendalami kandungan Juz 3 secara bertahap.

Teks Al-Qur’an Juz 3

Berikut adalah bacaan mushaf Al-Qur’an Juz 3 yang dapat dibaca secara langsung.

Teks bacaan ditampilkan utuh mulai dari Surah Al-Baqarah ayat 253 sampai Surah Ali ‘Imran ayat 92 mengikuti kaidah rasm Utsmani standar Kementerian Agama Republik Indonesia.

Naskah juz 3 ini dilengkapi tanda tajwid sehingga ini memudahkan pembaca dalam menjaga kelancaran tilawah, baik untuk tadarus mandiri maupun muraja’ah hafalan.

Struktur Pembagian Surah dan Batas Ayat

Juz 3 terdiri atas bagian akhir Surah Al-Baqarah dan bagian awal Surah Ali ‘Imran. Pembagian ini menunjukkan bahwa batas juz tidak selalu bertepatan dengan pergantian surah.

Secara keseluruhan, terdapat 126 ayat yang terbagi dalam dua surah sebagai berikut.

Nama Surah Nomor Surah Rentang Ayat Jumlah Ayat
Al-Baqarah 2 253–286 34 ayat
Ali ‘Imran 3 1–92 92 ayat
Total 126 ayat

Bacaan Juz 3 dimulai dari Surah Al-Baqarah ayat 253, yang diawali dengan firman Allah Ta’ala:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍۘ

Tilkar-rusulu fadh-dhalna ba’dhahum ‘ala ba’dh.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah memberikan keutamaan kepada sebagian rasul atas sebagian yang lain.

Sementara itu, batas akhir Juz 3 berada pada Surah Ali ‘Imran ayat 92. Ayat ini menegaskan hubungan antara kebajikan dan kesediaan menginfakkan harta yang dicintai:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ

Lan tanalul-birra hatta tunfiqu mimma tuhibbun.

Setelah ayat ini, tilawah berlanjut ke Juz 4 yang dimulai dari Surah Ali ‘Imran ayat 93.

Kandungan Paruh Akhir Surah Al-Baqarah

Sebanyak 34 ayat terakhir Surah Al-Baqarah (ayat 253–286) memuat pembahasan tentang keimanan, tanggung jawab sosial, dan ketentuan muamalah. Bagian ini memperlihatkan bagaimana keyakinan kepada Allah diwujudkan dalam kehidupan, baik melalui ibadah maupun hubungan antarmanusia.

Ada tiga kelompok pembahasan yang menonjol dalam bagian ini.

1. Keagungan Tauhid dan Bukti Kekuasaan Allah (Ayat 253–260)

Pembahasan tentang keimanan mencapai salah satu puncaknya pada Ayat Kursi yaitu Surah Al-Baqarah ayat 255. Ayat ini memperkenalkan keagungan Allah melalui nama dan sifat-Nya, terutama Al-Hayy (Maha Hidup) dan Al-Qayyum (Maha Berdiri Sendiri dan terus-menerus mengurus seluruh makhluk).

Salah satu penegasan penting dalam ayat ini adalah bahwa Allah tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur. Seluruh yang ada di langit dan bumi merupakan milik-Nya, sementara ilmu dan kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu.

Setelah penjelasan tersebut, ayat 256 menyatakan prinsip tidak adanya paksaan dalam agama:

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّۚ

Ayat ini menegaskan bahwa petunjuk telah nyata berbeda dari kesesatan.

Selanjutnya, ayat 258–260 menghadirkan beberapa peristiwa yang menunjukkan kekuasaan Allah dalam menghidupkan dan mematikan, termasuk dialog Nabi Ibrahim dengan seorang penguasa, peristiwa seseorang yang melewati negeri yang telah runtuh, dan permohonan Nabi Ibrahim untuk menyaksikan bagaimana Allah menghidupkan makhluk yang telah mati.

2. Keadilan Ekonomi melalui Infak dan Larangan Riba (Ayat 261–281)

Pembahasan ekonomi dalam bagian ini memperlihatkan perbedaan antara infak yang mendatangkan kebaikan dan praktik riba yang dilarang Allah. Keduanya dijelaskan melalui perintah, larangan, serta perumpamaan yang mudah dipahami.

Pada ayat 261, infak di jalan Allah diumpamakan seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai. Setiap tangkai menghasilkan seratus biji. Perumpamaan ini menggambarkan besarnya balasan bagi orang yang menginfakkan hartanya dengan ikhlas.

Namun, pemberian juga harus dijaga dari sikap mengungkit-ungkit kebaikan (al-mann) dan menyakiti penerima (al-adza). Ayat 264 mengingatkan bahwa perbuatan tersebut dapat menghilangkan nilai sedekah.

Sebaliknya, ayat 275–280 membahas larangan riba dan memerintahkan orang beriman untuk meninggalkannya. Dalam hal utang-piutang, ayat 280 juga memberikan perhatian kepada pihak yang mengalami kesulitan membayar. Pemberi utang dianjurkan memberikan kelonggaran waktu, bahkan membebaskan utang sebagai sedekah apabila mampu melakukannya.

Dengan demikian, pembahasan ini tidak hanya mengatur cara memperoleh dan mengelola harta, tetapi juga menegaskan tanggung jawab terhadap hak dan keadaan orang lain.

3. Ketertiban Muamalah dan Doa Penutup Surah (Ayat 282–286)

Surah Al-Baqarah ayat 282 dikenal sebagai ayat terpanjang dalam Al-Qur’an dan sering disebut Ayat Mudayanah. Isinya mengatur pencatatan transaksi utang-piutang untuk jangka waktu tertentu, termasuk ketentuan mengenai penulis, saksi, dan kejelasan kesepakatan.

قَدْ تَرْشُدُ إِلَى أَنَّ تَوْثِيْقَ الْمُعَامَلَاتِ وَحِفْظَ الْحُقُوْقِ مِنْ مَقَاصِدِ هٰذِهِ الْآيَةِ

Ketentuan tersebut menunjukkan pentingnya kejelasan transaksi dan perlindungan hak dalam kehidupan bermasyarakat.

Menjelang akhir surah, ayat 285–286 menjelaskan keimanan Rasul dan kaum mukmin terhadap Allah, para malaikat, kitab-kitab, dan para rasul-Nya. Bagian ini juga menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar kesanggupannya:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ

Ayat terakhir kemudian memuat doa memohon ampunan, rahmat, keringanan, dan pertolongan Allah. Rangkaian doa ini menjadi penutup Surah Al-Baqarah sekaligus pengingat tentang keterbatasan manusia dan kebutuhannya terhadap pertolongan Allah.

Kandungan Paruh Awal Surah Ali ‘Imran

Setelah Surah Al-Baqarah berakhir, Juz 3 berlanjut ke 92 ayat pertama Surah Ali ‘Imran. Pembahasannya mencakup dasar-dasar keimanan, cara menyikapi wahyu, kisah keluarga Imran, serta kedudukan Nabi Isa ‘alaihissalam.

1. Memahami Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat (Ayat 7–9)

Surah Ali ‘Imran ayat 7 memberikan landasan penting dalam memahami kandungan Al-Qur’an. Ayat tersebut menjelaskan adanya dua kelompok ayat, yaitu muhkamat dan mutasyabihat.

  • Ayat Muhkamat merupakan ayat-ayat yang maknanya jelas dan menjadi dasar dalam memahami kandungan Al-Qur’an. Dalam ayat ini, kelompok tersebut disebut sebagai Ummul Kitab.
  • Ayat Mutasyabihat merupakan ayat-ayat yang memerlukan kehati-hatian dan pemahaman lebih mendalam dalam penafsirannya.

Ayat ini juga mengingatkan tentang sikap orang-orang yang menyimpang dengan mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk mencari fitnah dan menimbulkan penafsiran yang menyimpang. Sebaliknya, orang-orang yang mendalam ilmunya menunjukkan sikap beriman dan tunduk kepada Allah.

Salah satu doa yang disebutkan dalam rangkaian ayat ini adalah permohonan agar hati tetap teguh setelah memperoleh petunjuk:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8).

2. Keluarga Imran, Maryam, dan Doa Nabi Zakaria (Ayat 33–41)

Nama Surah Ali ‘Imran berkaitan dengan keluarga Imran yang disebut dalam rangkaian kisah orang-orang pilihan Allah. Ayat 33–34 menyebut keluarga Adam, Nuh, Ibrahim, dan Imran sebagai keluarga yang memperoleh keutamaan dari Allah.

Kisah kemudian berlanjut dengan nazar istri Imran untuk mengabdikan anak yang dikandungnya kepada Allah. Anak tersebut ternyata seorang perempuan yang kemudian diberi nama Maryam.

Maryam mendapatkan pemeliharaan dan pendidikan di bawah asuhan Nabi Zakaria ‘alaihissalam. Ketika berada di mihrab, Nabi Zakaria menyaksikan berbagai karunia rezeki yang diberikan Allah kepada Maryam. Peristiwa ini menjadi salah satu sebab yang menggerakkan beliau untuk memohon keturunan yang baik, meskipun telah lanjut usia.

Doa Nabi Zakaria tersebut diabadikan dalam ayat 38:

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali ‘Imran: 38).

Allah kemudian memberikan kabar gembira tentang kelahiran Nabi Yahya ‘alaihissalam. Rangkaian kisah ini memperlihatkan keteguhan ibadah Maryam serta kekuasaan Allah dalam mengabulkan doa hamba-Nya.

3. Kelahiran Nabi Isa dan Seruan Tauhid (Ayat 42–68)

Bagian selanjutnya mengisahkan Maryam yang dipilih dan disucikan oleh Allah, kemudian mendapatkan kabar tentang kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam. Kelahiran beliau merupakan mukjizat karena terjadi tanpa ayah.

Allah juga memberikan berbagai mukjizat kepada Nabi Isa, di antaranya berbicara ketika masih dalam buaian, menyembuhkan orang yang terkena penyakit kusta, dan menghidupkan orang mati. Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa semua mukjizat tersebut terjadi dengan izin Allah (bi-idznillah).

Untuk menjelaskan hakikat penciptaan Nabi Isa, ayat 59 menghadirkan perbandingan dengan penciptaan Nabi Adam:

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

“Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia.” (QS. Ali ‘Imran: 59).

Perbandingan tersebut menegaskan bahwa penciptaan tanpa ayah tidak menjadikan Nabi Isa sebagai Tuhan. Nabi Adam bahkan diciptakan tanpa ayah dan ibu, sementara keduanya tetap merupakan makhluk Allah.

Pada ayat 64, pembahasan berlanjut dengan ajakan kepada Ahli Kitab untuk kembali kepada kalimatin sawa’ atau titik kesepakatan bersama, yaitu menyembah hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. Rangkaian ayat ini juga menegaskan bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang yang hanif dan muslim, bukan penganut Yahudi maupun Nasrani sebagaimana disebutkan dalam ayat 67.

4. Kebajikan melalui Pengorbanan Harta (Ayat 92)

Juz 3 berakhir pada Surah Ali ‘Imran ayat 92. Ayat ini menjelaskan bahwa kebajikan tidak cukup diwujudkan melalui pengakuan atau keinginan, tetapi juga melalui kesediaan menginfakkan harta yang dicintai.

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.” (QS. Ali ‘Imran: 92).

Ayat ini menjadi penutup yang menghubungkan keimanan dengan tindakan nyata. Seorang mukmin diuji melalui kesediaannya memberikan sebagian dari sesuatu yang berharga demi memperoleh rida Allah.

Karakteristik Kebahasaan dan Balaghah dalam Juz 3

Selain memuat berbagai pokok akidah dan syariat, Juz 3 juga menghadirkan susunan bahasa Arab yang menarik untuk dipelajari. Beberapa contoh berikut dapat menjadi bahan pengamatan bagi santri yang sedang mendalami nahwu dan balaghah.

1. Fungsi Huruf Lan dalam Surah Ali ‘Imran Ayat 92

Pada ayat penutup Juz 3 terdapat kata لَنْ (lan) yang masuk pada fi’il mudhari’:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ

Dalam kaidah nahwu, lan merupakan huruf penafi, penashab, dan penunjuk waktu mendatang (harfu nafyin wa nashbin wa istiqbal). Huruf ini menyebabkan fi’il mudhari’ setelahnya berstatus manshub.

Pada ayat tersebut, kata تَنَالُوْا (tanalu) berasal dari fi’il mudhari’ yang berkaitan dengan makna memperoleh atau mencapai. Penggunaan lan bersama kata حَتّٰى (hatta) membentuk susunan yang menegaskan bahwa kebajikan yang dimaksud tidak dapat dicapai sebelum seseorang menginfakkan sebagian harta yang dicintainya.

2. Perumpamaan dalam Ayat-Ayat Infak

Surah Al-Baqarah ayat 261–264 menggunakan beberapa perumpamaan untuk menjelaskan nilai dan akibat suatu perbuatan.

Pada ayat 261, infak yang dilakukan di jalan Allah digambarkan seperti benih yang menghasilkan tujuh tangkai, masing-masing dengan seratus biji. Gambaran ini menunjukkan pelipatgandaan balasan bagi orang yang berinfak.

Sementara itu, ayat 264 menggunakan perumpamaan batu licin yang tertutup tanah, kemudian tersapu hujan deras hingga kembali terlihat tandus. Perumpamaan ini menggambarkan keadaan orang yang menginfakkan harta karena riya serta merusak sedekahnya dengan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti penerima.

Kedua perumpamaan tersebut memperlihatkan bahwa nilai suatu amal tidak hanya berkaitan dengan bentuk perbuatannya, tetapi juga niat dan sikap yang menyertainya.

3. Susunan Doa pada Penutup Surah Al-Baqarah

Dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah (285–286) memiliki susunan yang menarik untuk diamati. Setelah menjelaskan keimanan Rasul dan orang-orang mukmin, rangkaian ayat tersebut beralih kepada doa dan permohonan kepada Allah.

Di antara ungkapan doa yang terdapat pada ayat 286 adalah:

رَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا

Rabbana wa’fu ‘anna waghfir lana warhamna.

Permohonan tersebut mencakup permintaan maaf dan penghapusan kesalahan, ampunan, serta rahmat Allah. Susunan doa ini memperlihatkan bagaimana Al-Qur’an membimbing seorang mukmin untuk mengakui keterbatasan dirinya dan terus memohon pertolongan kepada Allah.

Tuntunan Tartil Tilawah Al-Qur’an Juz 3

Agar bacaan Juz 3 lebih terjaga sesuai kaidah tajwid, ada beberapa bagian yang memerlukan perhatian khusus, terutama pada huruf muqaththa’ah, pengaturan napas, dan perpindahan antarsurah.

1. Memperhatikan Mad pada Huruf Muqaththa’ah

Surah Ali ‘Imran diawali dengan huruf muqaththa’ah الۤمّۤ (Alif Lam Mim).

Ketika membacanya, huruf Lam dan Mim dipanjangkan masing-masing sebanyak 6 harakat sesuai hukum mad lazim harfi. Perhatikan pula hukum idgham mimi ketika mim sukun pada akhir bacaan Lam bertemu dengan mim pada awal bacaan Mim, disertai ghunnah selama 2 harakat.

2. Mengatur Waqaf dan Ibtida’ pada Ayat Terpanjang

Surah Al-Baqarah ayat 282 merupakan ayat terpanjang dalam Al-Qur’an. Karena susunannya memuat banyak ketentuan transaksi utang-piutang, pembaca perlu memperhatikan tempat berhenti (waqaf) dan memulai kembali bacaan (ibtida’).

Jangan memaksakan satu tarikan napas untuk menyelesaikan seluruh ayat. Berhentilah pada tempat yang sesuai dengan tanda waqaf dan makna kalimat. Apabila napas terputus pada tempat yang kurang tepat, ulangi bacaan dari bagian sebelumnya agar hubungan makna tetap terjaga.

3. Memperhatikan Perpindahan Antarsurah

Peralihan dari Surah Al-Baqarah ayat 286 menuju Surah Ali ‘Imran ayat 1 menjadi titik pergantian yang perlu diperhatikan dalam tilawah. Setelah menyelesaikan doa penutup Al-Baqarah, pembaca dapat mengambil jeda seperlunya sebelum melanjutkan dengan basmalah dan ayat pertama Ali ‘Imran sesuai tata cara membaca antarsurah.

Penutup

Al-Qur’an Juz 3 mempertemukan dua rangkaian pembahasan yang saling melengkapi. Bagian akhir Surah Al-Baqarah menguraikan keimanan, ketentuan muamalah, keadilan dalam transaksi, serta doa dan ketundukan kepada Allah. Sementara itu, bagian awal Surah Ali ‘Imran mengajak pembaca mendalami kebenaran wahyu, keteguhan tauhid, dan keteladanan keluarga para nabi.

Rangkaian pembahasan ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat dalam Al-Qur’an Juz 2 yang mengantarkan pembaca menuju bagian akhir Surah Al-Baqarah. Setelah menyelesaikan Juz 3 hingga Surah Ali ‘Imran ayat 92, perjalanan tilawah berlanjut ke Al-Qur’an Juz 4, yang meneruskan pembahasan Surah Ali ‘Imran mulai ayat 93.

Dengan mengikuti susunan bacaan secara berurutan, pembaca dapat memahami keterkaitan tema antarayat dan antarsurah dengan lebih utuh. Semoga tilawah tidak hanya menjadi rutinitas menyelesaikan bacaan, tetapi juga menjadi jalan untuk memperdalam pemahaman dan mengamalkan petunjuk Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.