Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh dalam bahasa arab ditulis dengan السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ yang mengandung arti “Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya senantiasa tercurah kepada kalian”.
Lafal salam ini merupakan pembuka yang secara sunnah diucapkan ketika seorang muslim bertemu saudara seimannya, memulai pembicaraan, bertamu, hingga mengawali sambutan dalam berbagai acara.
Berbeda dengan salam penutup, ucapan salam pembuka ini mengawali doa dan kebaikan sebelum segala urusan duniawi dibicarakan. Mengucapkan salam hukumnya adalah sunnah, sedangkan menjawabnya adalah wajib. Mengetahui tulisan yang benar, makna per kata, dan bagaimana cara membalasnya akan menghindarkan kita dari salah kaprah dalam keseharian.
Tulisan Arab Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Lengkap

Bagi Anda yang sedang menyiapkan undangan pernikahan, membuat teks sambutan acara, menyusun surat resmi, maupun untuk keperluan percakapan digital, berikut adalah tulisan Arab assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh lengkap dengan harakat maupun versi tanpa harakat yang bisa langsung disalin:
Bentuk Tulisan Tanpa Harakat (Arab Gundul):
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Transliterasi Lazim:
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Perlu diperhatikan bahwa meskipun dalam penulisan Latin sering dijumpai bentuk “Assalamu’alaikum” dengan tanda petik untuk mewakili huruf ‘ain (ع), ejaan yang telah dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah assalamualaikum tanpa tanda baca pemisah apa pun.
Arti Kata demi Kata Rangkaian Salam
Salam bukanlah semata basa-basi atau sapaan biasa, melainkan satu kesatuan doa yang sarat akan makna luhur. Di dalamnya terkandung tiga permohonan kebaikan yang ditujukan kepada lawan bicara. Berikut rincian makna tiap komponen katanya:
| Unsur Kata | Tulisan Arab | Transliterasi | Arti Per Kata |
|---|---|---|---|
| Isim Ma’rifah | السَّلَامُ | As-Salamu | Semoga keselamatan dan kesejahteraan |
| Jar & Majrur | عَلَيْكُمْ | ‘Alaikum | Tercurah atas kalian |
| Kata Sambung | وَ | Wa | Dan |
| Mudhaf & Mudhaf Ilaih | رَحْمَةُ اللَّهِ | Rahmatullah | Kasih sayang dan rahmat Allah |
| Kata Sambung | وَ | Wa | Dan |
| Mudhaf & Dhamir | بَرَكَاتُهُ | Barakatuh | Keberkahan dari-Nya |
Doa ini adalah peninggalan dari ajaran para Nabi terdahulu, yang kemudian diabadikan dan disempurnakan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi sapaan resmi umat Islam yang menumbuhkan rasa kasih sayang dan persaudaraan sejati.
Assalamualaikum Warahmatullahi Ta’ala Wabarakatuh: Apa Bedanya?
Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar seseorang menambahkan kata “ta’ala” (sehingga berbunyi: assalamualaikum warahmatullahi ta’ala wabarakatuh) saat berpidato atau memberi sambutan. Kata ta’ala berarti “Maha Tinggi”, yang disematkan setelah lafazh Allah untuk mengagungkan kebesaran-Nya.
Dari segi fikih, para ulama menjelaskan bahwa penambahan ini pada dasarnya diperbolehkan, mengingat tujuannya adalah sebagai bentuk pengagungan kepada Allah Ta’ala. Sebagian ulama juga menukil riwayat dari beberapa sahabat yang pernah menambahkan lafaz tertentu saat menjawab salam.
Meski demikian, banyak ulama besar yang menegaskan bahwa redaksi yang lebih utama dan afdhal adalah tetap pada lafazh asalnya, yaitu tanpa tambahan “ta’ala”. Hal ini merujuk pada prinsip bahwa doa atau sapaan yang diajarkan dan sering dicontohkan langsung oleh Rasulullah beserta para sahabatnya lebih utama untuk diteladani secara utuh. Oleh karena itu, mencukupkan diri dengan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh adalah langkah yang paling dianjurkan.
Penulisan Assalamualaikum yang Benar menurut Kaidah

Dalam komunikasi tulis, pedoman ejaan sering menjadi pertanyaan. Berikut adalah panduan penulisan kata salam yang benar menurut berbagai standar yang berlaku.
1. Berdasarkan Standar KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan salam yang resmi dan baku adalah disatukan dan tanpa tanda petik, yakni assalamualaikum (menggunakan dua ‘s’ dan huruf kecil jika bukan di awal kalimat). Bentuk frasa sempurnanya ditulis: assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
2. Menulis di Dokumen Formal
Untuk keperluan pengetikan naskah, surat dinas, ataupun undangan resmi, Anda disarankan untuk mencetak tebal (bold) atau cetak miring (italic) istilah ini guna menunjukkan kekhususannya sebagai serapan dari bahasa asing (Arab). Jika ditulis menggunakan bahasa Arab, posisikan teks rata kanan dan gunakan font khusus Arab yang mendukung penempatan harakat tanpa terputus.
Singkatan Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dalam percakapan daring, kita terbiasa dengan kepraktisan berbalas pesan instan, sehingga muncul kecenderungan menyingkat salam menjadi “Ass” (ini sangat tidak dianjurkan karena memiliki konotasi negatif), “Askum”, atau “Ass. Wr. Wb.”.
Para ulama sangat tidak menganjurkan penyingkatan salam, terutama singkatan-singkatan yang justru mendistorsi atau merusak makna. Mengucapkan dan menulis salam seutuhnya memuat doa kebaikan yang sempurna. Ketika salam dipangkas habis, fungsi doa dan nilainya juga menghilang.
Jika waktu amat terbatas, setidaknya tulislah versi terpendek yang diperbolehkan dengan maknanya yang masih terselamatkan, yaitu assalamualaikum. Menuliskan seutuhnya secara lengkap memakan waktu tidak sampai lima detik, namun keutamaan mendoakan kebaikan mengalir untuk diri Anda sendiri dan pembacanya.
Jawaban Salam: Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Kewajiban menanggapi salam pembuka ditegaskan secara khusus oleh Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 86. Jika seseorang mengucapkan salam pembuka, maka jawaban yang tepat adalah mengawalinya dengan “Wa’alaikum…” (dan atas kalian…).
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
“Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang sepadan)…” (QS. An-Nisa: 86)
Jawaban terindah ketika kita menerima ucapan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh adalah membalasnya dengan sepadan, yaitu dengan mengatakan: وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ (Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh).
Untuk membaca pembahasan menyeluruh mengenai tulisan dan tata cara menjawab salam secara lengkap, silakan merujuk pada kajian Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh dalam Bahasa Arab sebelumnya.
Pembuka Pidato Lengkap: Salam, Puji Syukur, dan Shalawat
Dalam forum pengajian, khutbah, atau sambutan kenegaraan, salam pembuka sering kali dirangkai secara berurutan dengan tahmid (pujian kepada Allah) dan shalawat kepada Nabi.
Rangkaian itu lazim disebut muqaddimah. Berikut adalah template kalimat pembuka yang ringkas dan pas dibacakan saat Anda mengawali sambutan:
| Bagian | Teks Arab / Transliterasi |
|---|---|
| 1. Salam Pembuka | السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ |
| Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh | |
| 2. Tahmid (Pujian) | الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ |
| Alhamdulillahi rabbil ‘alamin | |
| 3. Shalawat Nabi | وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ |
| Wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah |
Sesudah membaca rangkaian muqaddimah di atas, Anda dapat langsung menyambungnya dengan sapaan audiens (misalnya “Yang kami hormati…”) dan memulai inti pidato atau penyampaian sambutan.
Salam dalam Shalat
Salam juga merupakan bagian penting dalam pelaksanaan shalat. Dalam mazhab Syafi‘i, mengucapkan salam termasuk rukun qauli shalat. Lafaz minimal yang mencukupi adalah “assalāmu ‘alaikum”, sedangkan penyempurnaan lafaz salam dengan “wa raḥmatullāh” termasuk bagian yang disunnahkan.
Adapun dalam shalat jenazah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai lafaz salam yang paling sempurna. Di antara pendapat yang dikenal adalah mengucapkan salam hingga “assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh”.
Tanya Jawab (FAQ)
Bagaimana tulisan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh yang benar dalam bahasa Indonesia?
Menurut panduan ejaan baku KBBI, penulisannya disatukan tanpa jeda atau tanda petik, yakni “assalamualaikum”. Adapun kalimat lengkapnya ditulis “assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”.
Apakah boleh menambahkan kata ta’ala di dalam salam?
Sebagian ulama pada dasarnya membolehkan hal itu sebagai bentuk pengagungan kepada Allah Ta’ala. Namun, mayoritas menganjurkan agar kita mencukupkan diri pada kalimat asal assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, karena bentuk inilah yang paling diajarkan dan dianjurkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Bagaimana cara membalas assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh?
Cara membalas yang utama adalah dengan mengucapkan doa serupa, yakni wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, yang mana sejalan dengan tuntunan Al-Qur’an agar saling berbalas salam dengan penghormatan yang setara atau lebih baik.
Bolehkah menyingkat salam menjadi “Ass. Wr. Wb.”?
Sangat tidak disarankan. Singkatan salam ke dalam wujud akronim atau huruf awal saja membuat salam tersebut kehilangan maknanya sebagai doa memohon keselamatan. Menuliskan salam sepenuhnya jauh lebih berpahala dan menenteramkan pembacanya.
Apakah boleh diucapkan untuk mengakhiri pembicaraan?
Assalamu’alaikum sejatinya adalah salam pembuka. Apabila Anda akan menutup perjumpaan atau akhir sebuah pidato formal di tanah air, kalimat salam penutup yang biasa digunakan adalah bentuk yang diawali dengan wawu, yakni “Wassalamualaikum”.
Kesimpulan
Kalimat assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh bukan sekadar sapaan santun untuk memulai percakapan, melainkan doa ikhlas yang penuh dengan pengharapan keselamatan, kasih sayang, dan keberkahan berlipat bagi pendengarnya. Membiasakan pengucapan dan penulisannya sesuai tuntunan—dari segi ejaan KBBI, kaidah Arab asli, hingga menghindari penyingkatannya—merupakan bentuk adab yang mulia.
Dengan menerapkan prinsip ini dalam keseharian kita—baik saat mengirim pesan tertulis, membuka acara rapat, maupun sekadar bertamu—semoga rangkaian doa ini terus mengalirkan kebaikan demi kebaikan bagi semua yang menyebarkan dan membalasnya.