Surah Al-Balad merupakan salah satu surah pendek di Juz ke-30 yang kerap dibaca, tetapi sering kali hanya berhenti pada lisan semata. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, di balik 20 ayatnya, surah ke-90 ini memuat narasi kuat tentang realitas hidup manusia, kerasnya perjuangan, serta tanggung jawab moral yang tidak bisa ditawar.
Surah ini menegaskan bahwa iman tidak berhenti pada pengakuan verbal, melainkan harus hadir secara nyata dalam sikap dan relasi sosial sehari-hari.
Tentang Surah Al-Balad
Sebelum masuk pada bacaan Surah Al-Balad serta pembahasan kandungan dan pesannya, penting untuk terlebih dahulu menempatkan surah ini dalam kerangka dasarnya. Dengan memahami posisi Surah Al-Balad di dalam susunan Al-Qur’an, pembaca dapat menangkap konteks tematik dan alur pesan yang mengitarinya.
Surah Al-Balad berada di antara Surah Al-Fajr (surah ke-89) dan Surah Asy-Syams (surah ke-91). Ketiganya sama-sama termasuk surah Makkiyah yang berbicara tentang ujian hidup, pilihan moral manusia, serta konsekuensi dari sikap dan perbuatannya.
Data Surah Al-Balad
Informasi berikut disajikan untuk membantu memahami kedudukan Surah Al-Balad dalam struktur mushaf Al-Qur’an sekaligus konteks umum turunnya.
- Nama surah: Al-Balad (البلد)
- Nomor surah: 90
- Jumlah ayat: 20 ayat
- Penempatan juz: Juz 30
- Klasifikasi: Makkiyah, diturunkan sebelum hijrah Nabi ﷺ
- Nomor Mushaf Kemenag: 594
Bacaan Surah Al-Balad Arab Latin dan Terjemahan

Setelah memahami posisi dan gambaran umum Surah Al-Balad, langkah berikutnya adalah membaca ayat-ayatnya secara utuh.
Surah al Balad latin dan Artinya
Penyajian bacaan Qs Al-Balad Arab, transliterasi Latin, dan terjemahannya dimaksudkan agar pembaca dapat mengikuti teks Al-Qur’an dengan lebih mudah, baik untuk keperluan tilawah, penghayatan makna, maupun rujukan dalam kajian.
1. lā uqsimu bihāżal-balad(i).
Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah),
2. wa anta ḥillum bihāżal-balad(i).
dan engkau (Muhammad) bertempat di negeri (Mekah) ini,
3. wa wālidiw wa mā walad(a).
dan demi (pertalian) bapak dan anaknya.
4. laqad khalaqnal-insāna fī kabad(in).
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.
5. ayaḥsabu allay yaqdira ‘alaihi aḥad(un).
Apakah dia (manusia) mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?
6. yaqūlu ahlaktu mālal lubadā(n).
Dia mengatakan, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.”
7. ayaḥsabu allam yarahū aḥad(un).
Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya?
8. alam naj‘al lahū ‘ainain(i).
Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata,
9. wa lisānaw wa syafatain(i).
dan lidah serta sepasang bibir?
10. wa hadaināhun-najdain(i).
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan).
11. falaqtaḥamal-‘aqabah(ta).
Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar.
12. wa mā adrāka mal-‘aqabah(tu).
Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?
13. fakku raqabah(tin).
(Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya),
14. au iṭ‘āmun fī yaumin żī masgabah(tin).
atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan,
15. yatīman żā maqrabah(tin).
(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat,
16. au miskīnan żā matrabah(tin).
atau orang miskin yang sangat fakir.
17. Ṡumma kāna minal-lażīna āmanū wa tawāṣau biṣ-ṣabri wa tawāṣau bil-marḥamah(ti).
Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta saling berpesan untuk berkasih sayang.
18. ulā’ika aṣḥābul-maimanah(ti).
Mereka adalah golongan kanan.
19. wal-lażīna kafarū bi’āyātinā hum aṣḥābul-masy’amah(ti).
Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.
20. ‘alaihim nārum mu’ṣadah(tun).
Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.
Tafsir untuk Surah Al-Balad
Bagi pembaca yang ingin mengkaji Surah Al-Balad lebih jauh, tafsir klasik dan modern dapat dijadikan rujukan.
Tafsir Ibnu Katsir menekankan aspek akidah dan peringatan moralnya. Tafsir Jalalain memberi penjelasan ringkas dan langsung pada makna ayat.
Sementara tafsir kontemporer, seperti karya M. Quraish Shihab, membantu mengaitkan pesan Surah Al-Balad dengan kondisi sosial masa kini.
Dengan demikian, Surah Al-Balad tidak hanya dibaca sebagai bagian dari hafalan, tetapi dipahami sebagai panduan sikap dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Konteks Historis dan Asbāb al-Nuzūl
Para mufassir menjelaskan bahwa Surah Al-Balad turun di Makkah, dengan latar sosial masyarakat Quraisy yang keras kepala dan enggan menerima kebenaran. Di satu sisi, mereka membanggakan kota Makkah sebagai tanah suci, pusat kehormatan, dan simbol kemuliaan. Namun di sisi lain, mereka menolak nilai-nilai keadilan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab moral yang dibawa oleh risalah Islam.
Ayat-ayat awal surah ini menegaskan kedudukan Makkah sebagai negeri yang dimuliakan, sekaligus mengingatkan bahwa kemuliaan tempat tidak otomatis menjadikan penghuninya mulia. Manusia, siapa pun dia, dilahirkan dalam kondisi penuh kesulitan dan perjuangan. Asbāb al-nuzūl di sini berfungsi membantu pembaca memahami konteks sosial-historis ayat, sehingga pesan moralnya tidak dipisahkan dari realitas zamannya.
Pokok Pembahasan Surah Al-Balad
Surah Al-Balad sejak awal menegaskan satu hal mendasar: kehidupan manusia tidak berjalan tanpa beban. Hidup digambarkan sebagai rangkaian usaha, tekanan, dan tanggung jawab yang harus dijalani, bukan kondisi yang selalu nyaman.
Al-Qur’an menyebut manusia sebagai makhluk yang diciptakan dalam kepayahan. Pernyataan ini bukan keluhan, tetapi penjelasan tentang kondisi dasar kehidupan. Dari titik inilah Surah Al-Balad kemudian mengarah pada konsep al-‘aqabah, yaitu jalan berat yang harus dihadapi manusia dalam hidupnya.
Kesulitan, keterbatasan, dan pergulatan batin merupakan bagian dari kenyataan yang melekat pada perjalanan manusia. Melalui gambaran ini, Surah Al-Balad mengarahkan manusia untuk belajar mengambil keputusan dan memikul tanggung jawab atas pilihannya.
Surah ini juga mengingatkan bahwa harta, kekuatan, dan kedudukan sosial tidak membebaskan seseorang dari perhitungan. Semua nikmat akan dimintai pertanggungjawaban, dan setiap pilihan—termasuk apakah ia mau menempuh al-‘aqabah atau menghindarinya—akan membawa akibat.
Pilihan Sikap dan Tanggung Jawab Sosial
Surah Al-Balad kemudian menjelaskan adanya jalan yang berat untuk ditempuh, yaitu jalan kebaikan yang menuntut tindakan nyata. Jalan ini tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi diwujudkan dalam kepedulian sosial.
Contoh yang disebutkan Al-Qur’an bersifat konkret: membebaskan hamba sahaya, memberi makan pada masa kelaparan, memperhatikan anak yatim, serta membantu orang miskin yang sangat membutuhkan. Semua itu diposisikan sebagai bentuk iman yang tampak dalam perbuatan.
Pada bagian ini, Surah Al-Balad menegaskan bahwa iman tidak diukur dari pengakuan lisan, tetapi dari sikap dan keberanian menjalani tanggung jawab sosial. Sebaliknya, sikap acuh, merasa cukup dengan diri sendiri, dan enggan peduli pada orang lain diperingatkan sebagai jalan yang berujung pada kerugian.
Ayat-ayat terakhir Surah Al-Balad memperjelas perbedaan antara dua kelompok manusia. Mereka yang beriman, beramal, dan saling mengingatkan dalam kesabaran serta kepedulian dijanjikan keselamatan. Adapun mereka yang menolak kebenaran dan mengabaikan tanggung jawab moral diingatkan tentang konsekuensi yang berat.
Penegasan ini berfungsi sebagai peringatan agar manusia tidak menunda sikap. Hidup selalu menuntut pilihan, dan Surah Al-Balad menempatkan setiap pilihan itu dalam bingkai akibat yang harus diterima.