Allahummakfini bi Halalika an Haramika

Manfaat doa Allahummakfini bi halalika an haramika dalam keseharian.


Urusan rezeki sering kali menjadi sumber kegelisahan. Harga naik, kebutuhan bertambah, sementara penghasilan tidak selalu sejalan. Dalam kondisi seperti ini, godaan untuk mengambil jalan pintas—meski samar-samar terasa “kurang beres”—bisa datang dari mana saja. Islam, sejak awal, sudah mengajarkan satu sikap penting: meminta dicukupkan oleh Allah dengan yang halal, agar tidak tergelincir ke yang haram.

Salah satu doa singkat namun sarat makna yang sering diajarkan para ulama adalah:

Allāhumma kfinī bi ḥalālika ‘an ḥarāmika wa aghninī bi faḍhlika ‘amman siwāk yang artinya: “Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga aku terhindar dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu agar aku tidak bergantung kepada siapa pun selain Engkau.”

Manfaat Doa Allahummakfini bi Halalika an Haramika dalam Kehidupan Sehari-hari

Allahummakfini bi halalika an haramika

Beberapa manfaat dari doa Allahmumma ikfini ini cukup banyak. Jika melihat dari redasksi dan susunan doanya, setidaknya ada 5 hal yang tercakup di dalamnya.

Doa ini juga sering dikenal sebagai doa pelunas utang yang diajarkan Rasul. Bukan karena utang langsung lenyap setelah dibaca, tapi karena doa ini menyentuh masalah paling dasar orang yang sedang berutang: hidup yang terus terasa kurang.

1. Meminta kecukupan, bukan sekadar kelimpahan

Kata kfinī artinya “cukupkan aku”. Yang diminta bukan jadi kaya mendadak, tapi hidup yang terasa cukup. Cukup buat makan, cukup buat jalanin kewajiban, cukup buat nyicil dan pelan-pelan melunasi utang tanpa harus gali lubang baru.

Banyak orang berutang bukan karena boros, tapi karena penghasilan selalu kalah cepat dari kebutuhan. Doa ini seperti mengajarkan kita bilang ke Allah: “Ya Allah, bikin hidupku cukup saja dulu.” Kalau rasa cukup itu datang, kepala jadi lebih jernih, langkah lebih tenang, dan jalan keluar dari utang pun pelan-pelan terbuka—tanpa harus nekat ke cara yang haram.

2. Benteng dari rezeki yang tidak bersih

Bagian bi ḥalālika ‘an ḥarāmika adalah pengaman hati. Terutama saat kondisi sedang sempit dan godaan “jalan belakang” terasa dekat: pinjaman berbunga, akal-akalan kecil, atau keuntungan cepat tapi meragukan. Doa ini seperti mengingatkan pelan-pelan, “Jangan karena kepepet, lalu mengorbankan ketenangan.” Lebih baik lambat asal bersih, daripada cepat tapi bikin hidup tidak tenang.

3. Menguatkan mental mandiri dan bermartabat

Kalimat wa aghninī bi faḍhlika bukan doa minta hidup mewah. Ini doa agar hati dibuat cukup oleh karunia Allah. Saat rasa cukup itu ada, kita tidak gampang iri melihat orang lain, tidak minder dengan keadaan sendiri, dan tidak memaksakan gaya hidup yang sebenarnya belum sanggup dijalani.

4. Melepaskan ketergantungan berlebihan pada manusia

Bagian ‘amman siwāk mengajarkan satu hal penting: tetap berusaha, tapi jangan menggantungkan hidup sepenuhnya pada manusia. Jabatan bisa berubah, bantuan bisa berhenti, orang bisa mengecewakan. Doa ini menata hati agar harapan utama tetap ke Allah, sehingga saat manusia mengecewakan, kita tidak ikut runtuh.

5. Relevan bagi siapa saja

Doa ini tidak khusus untuk satu golongan. Mau pedagang kecil, karyawan, pencari kerja, kepala keluarga, atau siapa pun yang sedang berjuang agar hidupnya tetap lurus—doa ini sangat dekat dengan kenyataan. Karena isinya bukan teori tinggi, tapi kebutuhan nyata: cukup, bersih, dan tenang menjalani hidup.

Doa Allahummakfini bi halalika an haramika adalah doa yang sangat masyhur. Isinya sederhana dan jujur. Ia tidak mendorong ambisi tanpa ujung, tapi mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: kita sedang mengejar yang banyak, atau yang cukup?

Di tengah realitas sosial yang keras, penuh perbandingan, flexing, dan tekanan ekonomi, doa ini seperti rem. Mengingatkan bahwa tidak semua yang terlihat “naik level” itu benar-benar naik kualitas. Tidak semua yang cepat datang membawa tenang, dan tidak semua yang kecil itu hina.

Kadang masalah kita bukan kurang, tapi meremehkan apa yang sudah ada. Sudah halal, tapi dianggap remeh. Sudah cukup, tapi terasa kurang karena sibuk menengok hidup orang lain. Doa ini mengajak kita bersyukur sebelum meminta lebih, menjaga yang bersih sebelum mengejar yang banyak.

Karena hidup yang benar-benar lapang bukan soal seberapa besar yang dikumpulkan, tapi seberapa tenang hati menjalaninya. Lebih baik sedikit tapi halal, terasa cukup, dan membuat jiwa ringan—daripada banyak tapi gelisah dan menjauhkan dari Allah.