Salah satu bentuk fawātiḥ as-suwar atau pembuka-pembuka surat di dalam Al-Qur’an adalah huruf-huruf muqatha’ah. Huruf-huruf ini dibaca terpisah dan tidak dirangkai sebagai kata, sehingga cara membacanya berbeda dengan rangkaian huruf hijaiyah pada ayat-ayat biasa.
Dalam literatur Ulumul Qur’an dan ilmu tajwid, huruf muqatha’ah dikenal sebagai huruf pembuka yang memiliki kaidah bacaan tersendiri. Perbedaan ini tidak bersifat opsional, tetapi menjadi bagian wajib dari disiplin tilawah yang harus diperhatikan agar bacaan tetap sesuai dengan riwayat.
Artikel ini mengulas cara membaca huruf muqatha’ah dari sudut pandang ilmu tajwid, sekaligus menjelaskan pembagiannya berdasarkan panjang bacaan, sebagaimana dinukil dalam kitab al-Mufīd fī ‘Ilm at-Tajwīd karya Abdurrahman bin Sa‘dullah Aytani.
Apa itu Huruf Muqatha’ah?
Huruf Muqaṭṭa‘āt (الحروف المقطعة) adalah huruf-huruf hijaiyah yang muncul di awal sebagian surah Al-Qur’an, dibaca terpisah satu per satu menurut nama hurufnya, menjadi pembuka surah (fawātiḥ as-suwar), serta memiliki ketentuan panjang bacaan dan hukum tajwid khusus yang tidak berlaku pada bacaan ayat biasa.
Penjelasan Definisi:
1. Huruf-huruf hijaiyah yang muncul di awal sebagian surah Al-Qur’an
Jadi, huruf muqaṭṭa‘āt hanya terdapat pada posisi awal surah dan tidak muncul di tengah atau akhir ayat. Keberadaannya bersifat khusus dan terbatas pada surah-surah tertentu.
Dengan demikian, huruf hijaiyah yang berada di tengah atau akhir ayat, meskipun sama secara bentuk, bukan huruf muqaṭṭa‘āt dan tidak dibaca dengan kaidah khusus ini.
2. Dibaca terpisah satu per satu menurut nama hurufnya
Setiap huruf dibaca dengan menyebut nama huruf, seperti alif, lām, mīm, bukan dirangkai sebagai kata dan bukan dibaca berdasarkan harakat. Sehingga huruf yang dibaca sebagai bagian dari kata atau lafaz ayat, seperti المؤمنين atau كتاب, tidak dibaca dengan cara mengeja nama huruf.
3. Berfungsi sebagai pembuka surah (fawātiḥ as-suwar)
Huruf muqaṭṭa‘āt memiliki fungsi struktural sebagai pembuka surah, berdiri sebelum ayat-ayat berikutnya tanpa menjadi bagian dari susunan kalimat.
Jika ada huruf atau lafaz yang berada setelah ayat pertama, meskipun memiliki keutamaan tertentu, tidak disebut fawātiḥ as-suwar.
4. Memiliki panjang bacaan yang berbeda
Huruf muqaṭṭa‘āt tidak dibaca dengan satu pola panjang yang sama; ada yang pendek, ada yang dua harakat, ada yang empat, dan ada yang enam harakat sesuai kaidah tajwid.
Dari hal itu dapat dipahami bahwa huruf hijaiyah biasa dalam ayat tidak otomatis dibaca panjang kecuali ada sebab mad yang jelas dalam hukum tajwid.
5. Memiliki hukum tajwid khusus
Bacaan huruf muqaṭṭa‘āt tunduk pada hukum tajwid yang khas, seperti mad lāzim ḥarfī dan penjagaan ghunnah tertentu, yang tidak diterapkan pada bacaan kata biasa.
Dengan demikian, huruf muqaṭṭa‘āt adalah huruf pembuka surah yang dibaca terpisah, dengan nama huruf, panjang bacaan tertentu, dan hukum tajwid khusus, sehingga tidak boleh disamakan dengan bacaan huruf hijaiyah dalam ayat Al-Qur’an secara umum.
Cara Membaca Huruf Muqatha’ah
Prinsip dasar membaca huruf muqatha’ah adalah menyebutkan nama hurufnya, bukan membacanya seperti huruf yang diberi harakat. Misalnya, huruf ن pada pembuka Surah Al-Qalam dibaca “nūn”, bukan “na” atau “ni”.
Karena itu, huruf muqatha’ah tidak tunduk pada kaidah penyusunan kata, melainkan pada kaidah penamaan huruf. Inilah pembeda utama antara huruf muqatha’ah dan huruf hijaiyah yang berada di tengah ayat.
Jumlah dan Jenis Huruf Muqatha’ah
Huruf muqatha’ah berjumlah empat belas huruf dan menjadi pembuka pada dua puluh sembilan surah di dalam Al-Qur’an. Keempat belas huruf tersebut adalah:
ا ح ر س ص ط ع ق ك ل م ن ه ي
Yang dibaca dengan nama hurufnya masing-masing, yaitu:
alif, hā, rā, sīn, ṣād, ṭā, ‘ain, qāf, kāf, lām, mīm, nūn, hā, dan yā.
Dalam membacanya, selain menyebut nama huruf, pembaca juga harus memperhatikan panjang bacaan dan dengung (ghunnah) yang menyertainya.
Ghunnah dalam Bacaan Huruf Muqatha’ah
Pada beberapa rangkaian huruf muqatha’ah, terdapat ghunnah yang harus dijaga. Contohnya pada bacaan Alif Lām Mīm di awal Surah Al-Baqarah. Dengung muncul pada peralihan bunyi Lām ke Mīm, sehingga bacaan tidak terdengar terputus atau kering.
Penjagaan ghunnah ini bukan tambahan estetika, melainkan bagian dari sifat huruf yang harus dipenuhi dalam tilawah.
Pembagian Huruf Muqatha’ah Berdasarkan Panjang Bacaan
Ditinjau dari sisi mad, huruf muqatha’ah terbagi menjadi empat kelompok.
Pertama, huruf yang tidak dibaca panjang
Kelompok ini hanya terdiri dari huruf alif. Ketika dibaca sebagai huruf muqatha’ah, alif cukup diucapkan “alif” tanpa pemanjangan, baik pada bunyi awal maupun akhirnya. Contohnya alif lam mim bacaan terdapat pada pembuka Surah Al-Baqarah.
Kedua, huruf yang dibaca panjang sekitar dua harakat
Kelompok ini terdiri dari lima huruf, yaitu yā, ṭā, rā, hā (ح), dan hā (ه). Bacaan huruf-huruf ini dipanjangkan sekitar dua harakat tanpa tambahan bunyi hamzah mati di akhir.
Contohnya terdapat pada Surah Ṭāhā dengan bacaan “ṭā – hā”, serta pada Surah Yāsīn dengan bacaan “yā – sīn”, bukan dibaca sebagai satu kata.
Ketiga, huruf yang dibaca panjang empat atau enam harakat
Kelompok ini hanya terdiri dari huruf ‘ain. Perbedaan panjang bacaan terjadi karena di dalam struktur huruf ini terdapat bacaan lin, sehingga memungkinkan dua pilihan panjang, yaitu empat atau enam harakat.
Huruf ‘ain dapat dijumpai pada pembuka Surah Maryam dan Surah Asy-Syūrā. Contohnya pada Surah Maryam dibaca “kāf – hā – yā – ‘ain – ṣād” dengan pemanjangan yang dijaga sesuai kaidah.
Keempat, huruf yang dibaca panjang enam harakat
Kelompok ini terdiri dari tujuh huruf, yaitu sīn, ṣād, qāf, kāf, lām, mīm, dan nūn. Dalam mushaf, huruf-huruf ini biasanya diberi tanda khusus yang menunjukkan bacaan panjang enam harakat.
Contohnya pada pembuka Surah Al-A‘rāf dengan bacaan “alif – lāāām – mīīīm – ṣāāād”, bukan dirangkai dan bukan pula dipendekkan.
Huruf muqatha’ah merupakan bagian dari Al-Qur’an yang memiliki kekhasan dalam bacaan. Ia tidak dibaca seperti ayat biasa, tetapi mengikuti kaidah penamaan huruf, pemanjangan suara, dan penjagaan sifat huruf sebagaimana diajarkan dalam ilmu tajwid.
Memahami pembagian dan cara membacanya membantu pembaca Al-Qur’an menjaga ketepatan tilawah, sekaligus membedakan antara bacaan huruf pembuka surah dan rangkaian ayat yang mengikutinya.