Surah ini dikenal dengan beberapa sebutan: Al-Insyirah, Alam Nasyrah, dan Asy-Syarḥ. Seluruh nama tersebut merujuk pada ayat pembukanya yang berbunyi, “Alam nashrah laka shadrak”, sebuah kalimat yang sejak awal sudah mengarahkan pembaca pada tema kelapangan.
Dalam mushaf Al-Qur’an, surah ini tercatat sebagai surah ke-94, terdiri dari delapan ayat yang ringkas, padat, dan saling bertaut satu sama lain. Ia berada di Juz 30, bagian akhir Al-Qur’an yang paling akrab dibaca dan dihafal oleh umat Islam, khususnya di Indonesia.
Pada mushaf standar Kementerian Agama Republik Indonesia, Surah Al-Insyirah berada di halaman 596, bersebelahan langsung dengan Surah Ad-Duha. Kedekatan ini bukan sekadar urutan teknis, sebab secara tematik keduanya kerap dipasangkan. Surah Ad-Duha menenangkan Rasulullah dari sisi pengalaman hidup yang terasa berat, sementara Al-Insyirah menguatkan dari sisi batin dan tanggungan jiwa.
Golongan Surah Al-Insyirah
Surah Al-Insyirah tergolong sebagai surah Makkiyah. Keterangan ini diriwayatkan melalui banyak jalur, dari Aisyah, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, hingga Qatadah dan az-Zuhri, yang seluruhnya mengarah pada satu kesimpulan yang sama.
Bahkan sebagian riwayat secara tegas menyebutkan bahwa surah ini turun setelah Surah Ad-Duha. Karena itu, para mufassir sejak awal mengingatkan agar keduanya tidak dipisahkan dalam pembacaan dan pemahaman, sebab yang satu berfungsi menenangkan dari luar, sementara yang lain menguatkan dari dalam.
Tema Utama Surah Al-Insyirah
Tema penghiburan menjadi benang merah surah ini. Ia berbicara tentang kelapangan dada, janji kemudahan setelah kesulitan, serta dorongan untuk terus bergerak dalam amal, meskipun jalan hidup belum sepenuhnya lapang.
Arti Kata Al-Insyirah
Secara bahasa, Al-Insyirah berarti kelapangan, atau terbukanya sesuatu yang sebelumnya terasa sempit. Namun sebagaimana akan terlihat dalam ayat-ayat selanjutnya, kelapangan yang dimaksud bukanlah hilangnya ujian.
Yang dibentangkan oleh ayat ini adalah ruang di dalam diri manusia, agar ia mampu menanggung ujian tanpa kehilangan arah, meskipun beban hidup belum diangkat sepenuhnya.
Bacaan Surat Al-Insyirah
Berikut bacaan Surah Al-Insyirah lengkap dari ayat 1–8 dalam teks Arab, latin, dan terjemahan Depag.

Index Ayat Surat Al-Insyirah
- QS Al-Insyirah ayat 1 – Alam nashrah laka shadrak
- QS Al-Insyirah ayat 2 – Wa wadha‘na ‘anka wizrak
- QS Al-Insyirah ayat 3 – Alladzi anqadha zahrak
- QS Al-Insyirah ayat 4 – Wa rafa‘na laka dzikrak
- QS Al-Insyirah ayat 5 – Fa inna ma‘al ‘usri yusrā
- QS Al-Insyirah ayat 6 – Inna ma‘al ‘usri yusrā
- QS Al-Insyirah ayat 7 – Fa idzā faraghta fanshab
- QS Al-Insyirah ayat 8 – Wa ilā rabbika farghab
Makna Kelapangan Dada dalam Surah Al-Insyirah (QS Asy-Syarh)
Penting untuk dicatat, karena Surah Al-Insyirah merupakan surah Makkiyah, maka kelapangan yang dimaksud di dalamnya tidak mungkin dipahami sebagai kelonggaran situasi atau berakhirnya ujian. Fase Makkah justru dikenal sebagai fase paling menyesakkan dalam perjalanan dakwah Rasulullah, ketika penolakan berlangsung, tekanan terus hadir, dan luka belum sembuh. Karena itu, sejak awal makna kelapangan dalam QS Asy-Syarh diarahkan bukan pada perubahan keadaan, melainkan pada perluasan kapasitas batin.
Al-Insyirah tidak berbicara tentang hidup yang tiba-tiba menjadi mudah, tetapi tentang dada yang dijadikan cukup luas untuk menanggung kesulitan tanpa kehilangan arah. Yang dilapangkan bukan jalan dakwah, melainkan ruang di dalam diri Rasulullah agar beliau tetap tegak berjalan di jalan yang belum lapang.
QS Asy-Syarh dan Rasa yang Tidak Dinegasikan
Dalam perjalanan dakwah yang digambarkan Surah Al-Insyirah, Rasulullah tidak berada dalam kondisi batin yang steril dari rasa. Beliau mengalami duka yang berlapis, menyaksikan kehilangan para sahabatnya, dan menanggung beratnya amanah yang terus bertambah. Kesedihan itu nyata, manusiawi, dan tidak pernah dinegasikan oleh QS Asy-Syarh.
Maka ketika Allah menurunkan firman-Nya, “Bukan urusanmu menentukan mereka,” yang diluruskan bukanlah keberadaan emosi, melainkan arah beban. Apa yang berada di luar kuasa manusia tidak dibiarkan terus dipikul oleh dada seorang hamba, bahkan oleh dada seorang Nabi. Setelah pelurusan itulah Surah Al-Insyirah kembali mengingatkan, “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu,” sebagai penegasan bahwa rasa boleh hadir dan duka boleh tinggal, tetapi kehancuran tidak harus menjadi akhirnya.
Al-Insyirah dan Riwayat tentang Syarh Ash-Shadr
Pemahaman tentang firman “Alam nashrah laka shadrak” dalam Surah Al-Insyirah tidak lahir dalam ruang hampa.
Sejak generasi awal, para mufassir mengaitkan QS Asy-Syarh dengan sejumlah riwayat tentang peristiwa syarh ash-shadr, yaitu pembelahan dan pembersihan dada Rasulullah, yang diriwayatkan terutama melalui Anas bin Malik dan jalur para sahabat lainnya.
Dalam beberapa hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah didatangi Jibril, lalu dada beliau dibelah, dibersihkan dengan air Zamzam, dan diisi dengan hikmah serta iman sebelum ditutup kembali. Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa peristiwa serupa terjadi sejak masa kecil beliau, sebagai bagian dari penyiapan batin Rasulullah untuk menanggung amanah yang tidak ringan.
Para ulama menjelaskan bahwa kata “syarh” secara bahasa bermakna membuka dan melapangkan. Karena itu, peristiwa pembelahan dada dalam riwayat-riwayat tersebut tidak dipahami semata sebagai kejadian fisik, melainkan sebagai penegasan bahwa Allah telah memperluas kapasitas jiwa Rasul-Nya. Inilah makna kelapangan yang ditegaskan oleh Surah Al-Insyirah, agar beliau mampu menanggung amanah tanpa runtuh oleh beratnya jalan yang harus ditempuh.
Dalam kebiasaan membaca Al-Qur’an, Surah Al-Insyirah jarang diperlakukan sebagai bacaan yang berdiri sendiri. Banyak orang melanjutkannya dengan Surah Ad-Duha yang bukan semata karena urutan mushaf, tetapi karena keduanya terasa saling menyambung.
Al-Insyirah menata ulang dada yang berat, sementara Ad-Duha melanjutkan penguatan itu dengan penegasan bahwa Allah tidak meninggalkan hamba-Nya.
Dari sini, langkah berikutnya sering mengalir dengan sendirinya menuju rangkaian surat-surat pendek Juz Amma yang dibaca secara runtut dan berkesinambungan.