Surat Al-Maun Beserta Artinya Ayat 1-7

Surat Al-Maun adalah surah ke-107 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 7 ayat dan berada di Juz 30 atau Juz Amma. Dalam penulisan dan penelusuran sehari-hari, surah ini kerap dicari dengan sebutan al maun, qs al maun, maupun qs al ma’un. Surat pendek ini memuat kritik tegas terhadap siapa saja yang mengaku beragama atau tekun menjalankan ibadah ritual, namun menutup mata terhadap penderitaan anak yatim, enggan menolong orang miskin, serta gemar memamerkan amal kebaikan.

Kalau kita perhatikan bacaan sehari-hari, surat al Maun termasuk surat yang paling sering dihafal sejak kecil dan dibaca ketika shalat berjamaah. Namun, di balik susunan kalimatnya yang ringkas, surat ini menyimpan pesan pokok tentang hubungan erat antara ibadah ritual dan kepedulian sosial. Al-Qur’an menegaskan bahwa kesalehan seorang muslim tidak boleh berhenti pada gerakan raga di atas sajadah, melainkan harus terbukti nyata dalam kepekaan sosial terhadap sesama manusia.

Ketika membaca surat Al Maun beserta artinya, kita diajak merenungkan sebuah pertanyaan pokok: apakah ibadah yang kita kerjakan selama ini sudah melahirkan kepedulian nyata, atau justru baru sebatas rutinitas lahiriah belaka?

Identitas dan Fakta Penting Surah Al-Maun

Sebelum mengkaji tafsirnya secara terperinci, kita perlu mengenali terlebih dahulu identitas dan duduk perkara penamaan surah ini dalam khazanah ilmu Al-Qur’an.

Informasi Keterangan
Nama Surah Surat Al-Ma’un / al ma’un (الماعون)
Arti Nama Bantuan atau barang berguna yang biasa dipinjamkan
Nomor Urut Mushaf Surat ke-107
Jumlah Ayat 7 ayat
Letak Juz Juz 30 (Juz Amma)
Golongan Surat Makkiyyah menurut mayoritas ulama tafsir
Urutan Penempatan Terletak setelah Surat Quraisy (106) dan sebelum Surat Al-Kautsar (108)
Nama Lain Surat Ara’aita, Ad-Din, Al-Yatim, At-Takdzib

Nama Al-Ma’un diambil dari kata penutup pada ayat ketujuh. Secara bahasa, kata ini merujuk pada bantuan sederhana atau peralatan rumah tangga yang lumrah dipinjamkan antar-tetangga. Adapun sebutan Surat Ara’aita disandarkan pada kata pembuka ayat pertama, yang berarti “tahukah kamu?”.

Mengenai status penurunan wahyu, mayoritas mufassir menggolongkan surat ini sebagai Makkiyyah karena gaya penegasannya yang lugas dalam mencela tabiat kaum musyrikin Quraisy. Namun, ada pula sebagian ulama yang memandangnya sebagai Madaniyyah karena perilaku orang munafik yang suka pamer shalat dan riya lebih kentara berkembang di Madinah.

Jalan tengah yang dikemukakan banyak mufassir mu’tabar membagi surat ini menjadi dua konteks: ayat 1 hingga 3 turun di Makkah berkaitan dengan tokoh Quraisy yang menindas anak yatim, sedangkan ayat 4 hingga 7 turun di Madinah berkaitan dengan sikap kaum munafik yang lalai dari esensi shalatnya.

Bacaan Surat Al-Maun Lengkap

surat al maun beserta arti nya
Surat Al Maun

Berikut adalah bacaan lengkap surat al ma un (atau dikenal pula sebagai qs almaun) ayat 1 sampai 7 merujuk naskah resmi Mushaf Standar Indonesia Kementerian Agama RI.

Bagi yang sedang memperlancar pelafalan, panduan bacaan surah al maun latin dan terjemahan per ayat di bawah ini dapat membantu menyelaraskan makhraj huruf serta memahami kandungannya

Audio Murottal Surat Al-Ma’un (MP3)

Dengarkan lantunan tartil Surat Al-Ma’un untuk menyelaraskan makhraj huruf dan memperlancar hafalan:

Qari Syaikh Misyari Rasyid Al-Afasi:

Qari Syaikh Sa’ad Al-Ghamidi:

Unduh audio: MP3 Misyari Rasyid (1,1 MB) | MP3 Sa’ad Al-Ghamidi (750 KB)

Lembar Mushaf Madinah Surat Al-Ma'un Halaman 602

Surat Al-Maun Ayat 1

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ

Cara Membaca (Latin): Ara’aital-ladzi yukadzdzibu bid-din.

Artinya: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?” (QS. Al-Ma’un: 1)

Surat Al-Maun Ayat 2

فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ

Cara Membaca (Latin): Fa dzalikal-ladzi yadu”ul-yatim.

Artinya: “Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,” (QS. Al-Ma’un: 2)

Surat Al-Maun Ayat 3

وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ

Cara Membaca (Latin): Wa la yahudhdhu ‘ala tha’amil-miskin.

Artinya: “dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 3)

Surat Al-Maun Ayat 4

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ

Cara Membaca (Latin): Fa wailul lil-mushallin.

Artinya: “Maka celakalah orang yang salat,” (QS. Al-Ma’un: 4)

Surat Al-Maun Ayat 5

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ

Cara Membaca (Latin): Alladzina hum ‘an shalatihim sahun.

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,” (QS. Al-Ma’un: 5)

Surat Al-Maun Ayat 6

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ

Cara Membaca (Latin): Alladzina hum yura’un.

Artinya: “yang berbuat ria,” (QS. Al-Ma’un: 6)

Surat Al-Maun Ayat 7

وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ

Cara Membaca (Latin): Wa yamna’unal-ma’un.

Artinya: “dan enggan (memberikan) bantuan.” (QS. Al-Ma’un: 7)

Ringkasan Surah Al-Ma’un

Untuk memahami pesan Surah Al-Ma’un secara terpadu dan menyeluruh, kita dapat memetakan unsur-unsur pembangunnya ke dalam entitas utama, entitas pendukung, padanan kata (sinonim), serta lapis maknanya (semantik).

Klasifikasi Rincian dan Unsur Penting
1. Main Entitas (Entitas Utama)
  • Pendusta agama: Sosok yang mengaku beriman namun perbuatannya mengingkari hari pembalasan dan mengkhianati ajaran agama.
  • Orang yang lalai dalam salat: Pelaku salat yang mengabaikan ketulusan, meremehkan waktu, dan membiarkan salatnya hampa dari nilai kebaikan.
2. Support Entitas (Entitas Pendukung)
  • Anak yatim: Generasi rentan yang wajib dimuliakan, disantuni, dan dilindungi hak nafkah serta hartanya.
  • Orang miskin: Kaum lemah yang membutuhkan pangan layak serta ajakan kolektif untuk membantunya.
  • Orang yang berbuat riya: Golongan yang memamerkan amalan ibadah semata-mata demi pujian manusia.
  • Orang yang enggan memberikan bantuan: Pihak yang bakhil dan menolak meminjamkan barang-barang keperluan sederhana.
3. Sinonim (Korelasi Kata)
  • Mendustakan: Menyangkal kebenaran risalah dan hari perhitungan.
  • Menghardik: Mengusir atau memperlakukan anak yatim dengan kasar dan semena-mena.
  • Menganjurkan: Mendorong dan memotivasi orang lain untuk ikut peduli memberi makan.
  • Lalai: Lengah, abai, atau menyepelekan waktu dan rukun ibadah.
  • Riya: Pamer ibadah dan haus sanjungan publik dalam beramal.
  • Al-Ma’un: Bantuan, pertolongan, atau perabot berguna yang lazim dipinjamkan.
4. Semantik (Makna Hakiki)
  • Pendusta agama: Tidak membuktikan keimanan melalui perbuatan baik dalam kehidupan bermasyarakat.
  • Anak yatim dan orang miskin: Pihak yang wajib diperhatikan, dijaga martabatnya, dan dibantu secara nyata.
  • Lalai dalam salat: Mengabaikan salat dari segi ketepatan waktu, kekhusyukan batin, dan dampak sosialnya.
  • Riya: Beribadah demi tepuk tangan dan pujian makhluk, bukan karena ridha Allah semata.
  • Enggan membantu: Bersikap dingin dan tidak peduli terhadap kesulitan tetangga atau sesama.

Inti Surah Al-Ma’un: Keimanan kepada Allah harus dibuktikan secara nyata melalui ibadah yang ikhlas, kepedulian terhadap anak yatim dan orang miskin, serta sikap suka menolong dan mempermudah urusan sesama.

Tafsir dan Penjelasan Lengkap Surat Al-Maun Ayat 1-7

Kalau kita telaah rangkaian ayatnya secara saksama, Surat Al-Maun memadukan kritik akidah dengan etika sosial secara terpadu. Setiap ayat memegang peran logis yang saling menguatkan.

1. Ayat 1: Hakikat Pendustaan Hari Pembalasan

Surat ini diawali dengan gaya kalimat tanya (istifham): ara’aita (tahukah kamu). Dalam balaghah Al-Qur’an, pertanyaan ini bukan bertujuan mencari jawaban atas hal yang tidak diketahui, melainkan untuk menggugah perhatian (at-tasywiq) serta mengajak akal mencermati suatu kejanggalan sikap beragama yang nyata.

Kata ad-din pada ayat pertama ini terutama dipahami oleh para ahli tafsir terkemuka seperti Imam Ath-Thabari dan Ibnu Katsir sebagai hari pembalasan (yaumul-jaza’) dan perhitungan amal di akhirat kelak. Penafsiran ini sangat mendasar. Ketika seseorang tidak meyakini bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, ia tidak memiliki rem batin untuk menahan diri dari menzalimi sesama. Ayat-ayat berikutnya segera membuktikan hal ini lewat perilaku sehari-hari.

2. Ayat 2: Sikap Kasar terhadap Anak Yatim

Lafazh yadu”ul-yatim berasal dari akar kata da’an yang bermakna menolak dengan keras, mendorong, menghardik, atau menzalimi. Tasydid pada huruf ‘ain menegaskan intensitas tindakan tersebut, mencakup kekerasan verbal melalui bentakan kasar maupun perbuatan semena-mena seperti memakan harta warisan anak yatim dan menelantarkan hak hidupnya.

Anak yatim adalah simbol kelompok paling rentan karena mereka kehilangan pelindung dan penopang nafkah. Dalam konteks kehidupan kita hari ini, wajah anak yatim ini hadir nyata pada anak-anak jalanan yang berjuang menyambung hidup sendiri, anak-anak yang terancam putus sekolah, atau mereka yang terlantar tanpa perlindungan keluarga. Al-Qur’an menempatkan pembelaan terhadap anak yatim sebagai tolok ukur kejujuran iman seseorang.

3. Ayat 3: Keengganan Mengajak Membantu Kaum Miskin

Pada ayat ketiga, Allah menggunakan kalimat wa la yahudhdhu ‘ala tha’amil-miskin (dan tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin). Perhatikan pemilihan katanya: ayat ini tidak sekadar mencela orang yang kikir mengeluarkan hartanya sendiri, tetapi mencela siapa saja yang bahkan enggan mengajak atau memotivasi orang lain untuk peduli.

Nah, di sinilah bekerja pola penalaran mafhum muwafaqah (pemahaman searah yang lebih kuat). Kalau sekadar menggerakkan lisan untuk mengajak orang lain saja ia enggan, tentu orang tersebut jauh lebih berat lagi jika harus mengeluarkan hartanya sendiri. Mengajak berbuat baik tidak memerlukan biaya sepeser pun. Ketiadaan kemauan untuk mengajak membuktikan bahwa empati terhadap orang yang lapar memang sudah padam dari nuraninya.

Dalam realitas sosial di sekitar kita, pesan ayat ini menyentuh kepedulian terhadap tetangga yang kesulitan membeli kebutuhan pokok, orang tua renta yang hidup sebatang kara, atau keluarga yang terhimpit kebutuhan mendesak. Membantu orang miskin bukan hanya urusan menyalurkan dana besar, melainkan kemauan untuk hadir dan menggerakkan solidaritas lingkungan.

4. Ayat 4: Peringatan Tegas bagi Orang yang Shalat

Ayat keempat menghadirkan peringatan yang sangat tegas: fawailul lil-mushallin (celakalah orang-orang yang shalat). Kata wail adalah kalimat ancaman celaka dan kebinasaan. Huruf penghubung fa’ mengaitkan kecaman ini secara langsung dengan perilaku pengabaian sosial pada ayat-ayat sebelumnya.

Peringatan ini menunjukkan bahwa ibadah shalat tidak otomatis menjamin keselamatan jika pelaksanaannya kehilangan ruh. Al-Qur’an tidak mencela ibadahnya, melainkan menyoroti kontradiksi antara rukun shalat yang dikerjakan di hadapan Allah dengan perilaku nir-empati yang ditampakkan kepada sesama manusia.

5. Ayat 5: Makna Kelalaian terhadap Shalat

Ayat kelima segera merinci siapa gerangan orang shalat yang terancam celaka itu: alladzina hum ‘an shalatihim sahun (yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya). Para mufassir menelaah secara saksama penggunaan huruf jar ‘an (dari/terhadap) pada ayat ini, bukan huruf fi (dalam).

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah menegaskan hikmah di balik pemilihan huruf ini. Seandainya Allah berfirman fi shalatihim (lalai dalam shalatnya), niscaya celakalah kita semua. Lupa jumlah rakaat atau terlintas pikiran duniawi sesaat di tengah shalat adalah sifat lumrah manusia yang bahkan pernah dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga beliau mencontohkan sujud sahwi.

Sebaliknya, ungkapan ‘an shalatihim bermakna lalai dari kewajiban shalat itu sendiri: meremehkan waktunya hingga terlewat, mengerjakannya sekadar menggugurkan beban tanpa menyempurnakan rukun dan syarat, serta tidak membiarkan shalat tersebut mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar.

6. Ayat 6: Bahaya Riya dalam Ibadah dan Citra Diri

Sifat berikutnya yang dikecam adalah alladzina hum yura’un (orang-orang yang berbuat riya). Riya adalah mengerjakan ibadah atau kebajikan dengan niat agar dilihat, dipuji, atau memperoleh sanjungan dari manusia.

Dalam kehidupan bermasyarakat, godaan riya kerap menyusup halus. Amal kebajikan yang semestinya ditujukan semata-mata kepada Allah justru dibelokkan menjadi sarana memoles citra diri. Keikhlasan menuntut keteguhan niat agar kebaikan tetap tegak, baik saat disaksikan orang banyak maupun ketika berada dalam kesendirian.

7. Ayat 7: Menahan Bantuan Barang Sederhana

Surat ini dipuncaki oleh ayat ketujuh yang sangat konkret: wa yamna’unal-ma’un (dan mereka menolak memberikan bantuan). Para ulama mengartikan al-ma’un ke dalam dua cakupan makna: kewajiban zakat, serta barang-barang peralatan dapur dan pertukangan yang lazim dipinjamkan kepada tetangga, seperti timba, cangkul, kapak, panci, atau jarum.

Sebenarnya persoalannya bisa dipahami lewat logika akal sehat. Meminjamkan peralatan sederhana tidak akan mengurangi nilai harta pokok seseorang karena barang tersebut akan kembali setelah dipakai. Nah, jika meminjamkan barang sepele yang tidak merugikan saja seseorang merasa berat hati, bagaimana mungkin ia rela mengeluarkan zakat dan sedekah yang menuntut kerelaan berkorban harta?

Asbabun Nuzul Surah Al-Maun

Dalam berbagai kitab tafsir terdahulu, para ulama menukil beberapa riwayat mengenai latar belakang peristiwa yang mengiringi turunnya ayat-ayat Surat Al-Maun. Di antara nama tokoh Quraisy yang sering disebut dalam riwayat adalah Abu Jahal, Al-‘Ash bin Wa’il, Al-Walid bin Al-Mughirah, dan Abu Sufyan bin Harb.

Salah satu riwayat menceritakan bahwa Abu Jahal pernah menjadi pengampu seorang anak yatim. Ketika anak yatim tersebut datang dalam keadaan lapar meminta bagian dari harta peninggalan ayahnya, Abu Jahal justru menghardik dan mengusirnya. Riwayat lain mengisahkan Abu Sufyan yang biasa menyembelih dua ekor unta setiap pekan. Suatu hari, seorang anak yatim datang meminta sedikit potongan daging, namun Abu Sufyan justru memukulnya dengan tongkat.

Para ulama hadits dan tafsir mengingatkan bahwa riwayat-riwayat asbabun nuzul ini memiliki jalur periwayatan yang beragam dan sebagian sanadnya tidak sampai pada derajat shahih muttashil. Karena itu, kita tidak perlu membatasi sebab turunnya surat ini hanya pada sosok tokoh tertentu. Yang menjadi pegangan utama adalah kaidah ushul: hukum Al-Qur’an berlaku berdasarkan keumuman lafalnya (‘umumul-lafzhi), bukan semata-mata kekhususan peristiwanya (khususus-sabab). Siapa saja yang menindas kaum lemah dan melalaikan ibadahnya, maka teguran ayat ini tertuju kepadanya.

Hubungan Surat Al-Maun dengan Surat Quraisy dan Al-Kautsar

Susunan surat dalam mushaf Al-Qur’an memiliki keserasian tema (munasabah) yang sangat padu. Surat Al-Maun (107) terletak tepat di antara Surat Quraisy (106) dan Surat Al-Kautsar (108).

Pada Surat Quraisy, Allah mengingatkan karunia besar kepada penduduk Makkah berupa kecukupan pangan untuk menghalau kelaparan dan rasa aman dari marabahaya ketakutan. Sebagai wujud syukur, Allah memerintahkan mereka menyembah Rabb pemilik Ka’bah.

Lalu datang Surat Al-Maun mengecam mereka yang mengingkari nikmat tersebut. Mereka yang diberi kemapanan rezeki justru enggan memberi makan orang miskin dan menghardik anak yatim, sementara ibadah mereka kepada Allah dilakukan secara lalai dan penuh kepalsuan riya.

Setelah teguran keras pada Surat Al-Maun, Allah meneguhkan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum beriman melalui Surat Al-Kautsar. Allah menganugerahkan nikmat kebaikan yang melimpah (al-kautsar), lalu memerintahkan dua pilar utama yang bertolak belakang dari sifat tercela dalam Surat Al-Maun: mendirikan shalat secara ikhlas semata-mata karena Allah (lawan dari riya), serta menyembelih kurban untuk berbagi daging kepada sesama (lawan dari kikir dan menahan bantuan).

Pelajaran Pokok dan Nilai Sosial Surat Al-Maun

Dari keseluruhan rangkaian ayatnya, kita dapat menyarikan lima pelajaran utama yang menjadi panduan hidup seorang muslim:

Dimensi Nilai Ayat Rujukan Wujud Pengamalan Nyata
Integritas Iman dan Sosial Ayat 1 (mendustakan hisab pembalasan) Menjadikan keyakinan hari akhir sebagai rem dari perilaku zalim terhadap orang lain.
Perlindungan Anak Yatim Ayat 2 (menghardik anak yatim) Menjaga kehormatan, nafkah, pendidikan, serta keutuhan hak harta anak yatim.
Kepedulian Kaum Dhuafa Ayat 3 (tidak mengajak memberi makan) Membantu langsung serta aktif menggerakkan lingkungan untuk menolong orang miskin.
Keikhlasan Ibadah Shalat Ayat 4-6 (lalai shalat dan pamer riya) Menjaga tepat waktu shalat, menyempurnakan rukun, dan membersihkan hati dari haus sanjungan.
Solidaritas Bantuan Nyata Ayat 7 (enggan memberikan bantuan barang) Mudah meminjamkan barang berguna dan tidak kikir membantu kesusahan tetangga.

Fadhilah Membaca Surat Al-Maun dan Panduan Amaliahnya

Dalam mengamalkan surat-surat Al-Qur’an, umat Islam senantiasa mendambakan pahala dan keberkahan. Namun, penting bagi kita untuk mendudukkan keutamaan membaca surat ini secara objektif berlandaskan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Keutamaan Umum Tilawah Al-Qur’an

Surat Al-Maun adalah bagian mulia dari kalamullah. Membacanya mendatangkan pahala berlipat ganda sebagaimana keutamaan umum membaca Al-Qur’an yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan semisal. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi no. 2910, dinilai hasan shahih)

Tinjauan Kritis Riwayat Khasiat Tertentu

Dalam sebagian kitab tafsir seperti karya Al-Baidhawi, terdapat kutipan riwayat yang menyebutkan bahwa barang siapa membaca Surat Ara’aita (Al-Maun), Allah akan mengampuni dosanya dengan syarat ia menunaikan zakat. Mengenai nukilan ini, para ulama peneliti hadits menjelaskan bahwa riwayat fadhilah khusus per-surat yang serupa sering kali bersumber dari riwayat yang dha’if (lemah) atau bahkan tidak memiliki sanad yang bersambung.

Oleh karena itu, kita sebaiknya tidak menetapkan klaim pahala istimewa, jumlah hitungan tertentu, atau khasiat ajaib yang tidak memiliki sandaran hadits shahih. Keutamaan tertinggi dari Surat Al-Maun terletak pada keberkahan membaca huruf-hurufnya, memahami kandungannya, dan mempraktikkan ajarannya dalam kehidupan nyata.

Bentuk Amaliah Sehari-hari

Pengamalan Surat Al-Maun yang paling tepat bukanlah membaca dengan hitungan ribuan kali untuk tujuan tertentu, melainkan menerapkan lima kebiasaan baik berikut:

  1. Membaca dalam Shalat dengan Khusyuk: Melantunkan ayat-ayatnya dalam shalat fardhu maupun sunnah seraya meresapi maknanya agar shalat kita terhindar dari kelalaian.
  2. Menjaga Disiplin Waktu Shalat: Bersegera menunaikan shalat di awal waktu dan tidak menunda-nunda pelaksanaannya hingga mendekati batas akhir waktu.
  3. Menyisihkan Harta untuk Yatim dan Dhuafa: Rutin berinfak atau menyantuni anak yatim serta fakir miskin di lingkungan sekitar tempat tinggal kita.
  4. Menjaga Hati dari Penyakit Riya: Senantiasa memeriksa niat sebelum maupun sesudah beramal, agar ibadah tidak berubah menjadi sarana memburu pujian orang lain.
  5. Membiasakan Gotong Royong Antar-Tetangga: Ringan tangan meminjamkan barang-barang rumah tangga yang dibutuhkan tetangga serta mempermudah urusan orang lain.

Tanya Jawab Seputar Surat Al-Maun (FAQ)

Surat Al-Maun urutan surat ke berapa dalam Al-Qur’an?

Surat Al-Maun merupakan surat ke-107 dalam urutan mushaf Al-Qur’an, terletak persis setelah Surat Quraisy (surat ke-106) dan sebelum Surat Al-Kautsar (surat ke-108).

Surat Al-Maun ada di juz berapa?

Surat Al-Maun berada di bagian akhir mushaf, yaitu pada Juz 30 atau yang populer disebut Juz Amma.

Apa arti kata Al-Maun?

Secara bahasa, al-ma’un berarti bantuan atau barang berguna. Maknanya mencakup perabot sederhana rumah tangga yang lumrah dipinjamkan kepada tetangga, serta sebagian mufassir memaknainya sebagai penunaian kewajiban zakat.

Mengapa Surat Al-Maun disebut juga Surat Ara’aita?

Sebutan Surat Ara’aita diambil dari kata pertama pada ayat pembuka surat ini, yaitu ara’aita yang bermakna “tahukah kamu”. Penamaan surat berdasarkan kata pembukanya merupakan hal yang lazim dalam penamaan surat-surat Al-Qur’an.

Apakah Surat Al-Maun tergolong Makkiyyah atau Madaniyyah?

Mayoritas ulama tafsir menggolongkannya sebagai surat Makkiyyah. Namun banyak mufassir menjelaskan bahwa ayat 1 sampai 3 turun di Makkah mencela kaum musyrikin, sedangkan ayat 4 sampai 7 turun di Madinah menegur perilaku kaum munafik.

Mengapa orang yang shalat bisa celaka menurut Surat Al-Maun?

Orang yang shalat terancam celaka jika ia lalai dari shalatnya (‘an shalatihim sahun), yaitu meremehkan waktunya, menjadikannya sebatas formalitas raga tanpa penghayatan, berbuat riya demi pujian manusia, dan ibadahnya sama sekali tidak melahirkan kepedulian sosial terhadap anak yatim dan orang miskin.

Apa pesan pokok atau inti dari Surah Al-Ma’un?

Inti Surah Al-Ma’un adalah menegaskan bahwa keimanan sejati kepada Allah harus terwujud dalam dua pilar yang seimbang: ibadah shalat yang tulus ikhlas semata-mata karena Allah, serta aksi sosial nyata berupa kepedulian terhadap anak yatim, orang miskin, dan kesediaan menolong sesama.

Siapa saja golongan yang dikecam dalam Surah Al-Ma’un?

Surah ini mengecam dua golongan utama: pertama, pendusta agama yang menindas kaum rentan (menghardik anak yatim dan enggan mengajak memberi makan orang miskin); kedua, orang-orang yang beribadah secara munafik, lalai dari ruh shalatnya, gemar pamer riya, dan kikir memberikan bantuan barang sederhana kepada tetangganya.


Surat Al-Maun menegaskan bahwa kesalehan ritual dan kepedulian sosial merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam Islam. Melalui tujuh ayatnya yang ringkas, Al-Qur’an memberi pelajaran tegas bahwa ibadah shalat kehilangan maknanya apabila seseorang bersikap kasar kepada anak yatim, menutup mata dari kesusahan orang miskin, haus sanjungan manusia, serta enggan meminjamkan bantuan sederhana kepada sesama.

Mempelajari bacaan, terjemahan, dan tafsir Al-Ma’un semestinya menuntun kita untuk mewujudkan nilai ibadah ke dalam perilaku sehari-hari: menjaga ketepatan waktu shalat, memelihara keikhlasan niat, serta ringan tangan membantu sesama mulai dari hal-hal kecil di lingkungan sekitar.