Doa Bangun Tidur dan Artinya Menurut Hadits Shahih al-Bukhari

Dalam Shahih al-Bukhari (no. 6324 dan 7394), Imam al-Bukhari meriwayatkan sebuah kebiasaan harian Rasulullah ﷺ yang sangat sederhana, namun sarat akan makna, yaitu doa terkait tidur.

Berikut doa bangun tidur dan artinya yang diambil dari hadits berserta penjelasannya:

Do’a Bangun Tidur dan Artinya

doa bangun tidur dan artinya

Hadits tentang tidur ini diriawayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, diceritakan bahwa setiap kali Nabi Saw. terbangun dari tidurnya, beliau mengucapkan:

الحَمْدُ لِلَّهِ الذي أحْيَانَا بَعْدَ ما أمَاتَنَا، وإلَيْهِ النُّشُورُ

Alhamdulillahilladzi ahyana ba‘da ma amatana wa ilaihin-nusyur.

Arti doa bangun tidur adalah: Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah kebangkitan.

Sekilas, ini tampaknya hanya ucapan syukur. Namun jika dicermati lebih detil, redaksi doa bangun tidur ini adalah cara Islam membingkai kesadaran hidup sejak detik pertama mata terbuka.

Bangun Tidur Bukan Sekadar Melek, Tapi Dihidupkan

Dalam bahasa hadis, tidur disebut sebagai maut—kematian kecil. Saat seseorang tertidur, akal berhenti bekerja, tubuh tak berdaya, dan kesadaran sepenuhnya lepas dari kendali. Karena itu, bangun tidur bukan sekadar “segar kembali”, tetapi peristiwa ruhani: Allah mengembalikan kehidupan setelah fase kematian sementara.

Maka kalimat “ahyana ba‘da ma amatana” bukan metafora kosong. Ia adalah pengakuan jujur bahwa hidup ini tidak otomatis berlanjut. Setiap pagi adalah pemberian baru, bukan hak yang dijamin.

Pagi Hari, Latihan Iman tentang Kebangkitan

Doa bangun tidur juga mengandung dimensi akidah yang kuat. Penutupnya, “wa ilaihin-nusyur”, menautkan bangun tidur dengan hari kebangkitan. Seolah Rasulullah ﷺ mengajak umatnya merenung: jika Allah mampu membangunkan kita dari tidur—yang disebut kematian kecil—maka membangkitkan manusia dari kematian besar di hari akhir bukanlah sesuatu yang sulit.

Di sinilah pagi hari berubah fungsi. Ia bukan sekadar awal aktivitas, tetapi pengingat sunyi tentang akhir perjalanan hidup. Karena itu, doa bangun tidur menjadi gerbang awal menuju rangkaian zikir pagi agar kesadaran tentang hidup, kebangkitan, dan kembali kepada Allah terus terjaga sejak langkah pertama hari ini. Bangun tidur pun menjadi simulasi harian tentang ba‘ts dan nusyur—hidup kembali dan kembali kepada Allah.

Mengapa Fokus Bangun Tidur Itu Penting?

Rasulullah ﷺ sangat menekankan dzikir di awal hari. Hikmahnya jelas: apa yang mengawali hari, sering kali menentukan arah hari itu sendiri. Dengan memulai pagi lewat pujian kepada Allah, seorang hamba menempatkan tauhid sebagai fondasi kesadaran sebelum urusan dunia mengambil alih perhatian.

Bangun tidur dengan doa berarti:

* Mengakui ketergantungan total kepada Allah
* Menyadari bahwa hidup hari ini adalah kesempatan, bukan jaminan
* Menata niat sejak pagi bahwa hidup akan berujung pada kebangkitan dan hisab

Ini bukan sekadar adab, tapi manajemen iman harian.

Bangun Tidur sebagai Titik Nol Kehidupan Harian

Dalam semantik hadis ini, bangun tidur adalah “titik nol”. Lembar baru dibuka. Ruh baru saja dikembalikan. Kesempatan masih utuh. Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa memulai hari dengan dzikir membuat catatan amal dibuka dengan kebaikan. Jika hari berakhir dengan dzikir pula, maka awal dan akhir hidup harian ditopang oleh ingat kepada Allah.

Di antara dua titik itu—pagi dan malam—manusia berjuang dengan segala kekurangannya. Dan rahmat Allah terbentang luas di antaranya.


Itulah doa bangun tidur dan artinya yang mengajarkan satu hal penting bahwa hidup tidak dimulai dari alarm, kopi, atau ponsel, tetapi dari kesadaran bahwa Allah baru saja “menghidupkan” kita kembali.

Dari sanalah syukur lahir, iman diperbarui, dan langkah hari ini menemukan arahnya. Maka, setiap kali bangun tidur, jangan hanya bangkit secara fisik. Bangkitlah juga secara batin—dengan pujian, kesadaran, dan harapan untuk kebangkitan yang hakiki kelak.