Pernahkah Anda memperhatikan kata kerja bahasa Arab yang bentuknya tiba-tiba menjadi lebih pendek? Perhatikan beberapa contoh berikut:
- قُلْ (qul — katakanlah).
- عِدْ (‘id — berjanjilah).
- اِرْمِ (irmi — lemparlah).
- قِ (qi — peliharalah), yang merupakan bentuk perintah dari وَقَى.
Ke mana perginya huruf yang tidak lagi tampak itu?
Dalam ilmu sharaf, salah satu bentuk perubahan tersebut disebut I’lal bi al-Hadzf (الإِعْلَالُ بِالحَذْفِ), yaitu perubahan berupa pembuangan huruf ‘illat dalam kondisi dan pola tertentu.
Penting untuk dipahami sejak awal: tidak semua huruf ‘illat dibuang karena alasan yang sama. Kadang-kadang huruf ‘illat dibuang karena bentuk kata berada dalam keadaan jazm atau amr; kadang karena ia merupakan fā’ al-fi’il pada fi’il mitsal; dan dalam beberapa bentuk lain, pembuangan terjadi bersama proses sharaf yang lain.
Karena itu, cara terbaik mempelajarinya adalah dengan melihat posisi huruf ‘illat dalam akar kata:
- Awal akar — fā’ al-fi’il.
- Tengah akar — ‘ain al-fi’il.
- Akhir akar — lām al-fi’il.
1. Pembuangan ‘Ain al-Fi’il: Fi’il Ajwaf
Jika huruf ‘illat berada di posisi tengah akar, kata tersebut disebut fi’il ajwaf (الفعل الأجوف). Contohnya:
- قَالَ — akar ق-و-ل.
- بَاعَ — akar ب-ي-ع.
- خَافَ — akar خ-و-ف.
Pada bentuk mudhari’ yang majzum dengan sukun, ‘ain al-fi’il yang berupa huruf ‘illat dibuang. Hal yang sama terjadi pada fi’il amr yang mabni ‘ala as-sukun.
Contoh: قَالَ → يَقُولُ → لَمْ يَقُلْ → قُلْ
- قَالَ adalah fi’il madhi.
- يَقُولُ adalah fi’il mudhari’ dalam keadaan marfu’. Huruf wāwu masih tampak.
- لَمْ يَقُلْ: karena mudhari’ menjadi majzum dan tanda jazmnya adalah sukun, ‘ain al-fi’il berupa wāwu dibuang.
- قُلْ: bentuk amr dibangun dari mudhari’, sehingga bentuk yang telah mengalami penghapusan tersebut menjadi dasar bagi kata perintah.
Dalam analisis sharaf yang lebih rinci, proses pembentukan قُلْ dapat ditelusuri melalui tahapan naql dan kemudian hadzf. Namun, untuk memahami kaidah pokok, yang paling penting adalah mengenali bahwa ‘ain al-fi’il ajwaf dihapus pada mudhari’ majzum dan amr mabni ‘ala as-sukun.
Mengapa terjadi pertemuan dua sukun?
Dalam penjelasan sharaf klasik, setelah proses pemindahan harakat, bentuk antara dapat ditelusuri sebagai berikut:
- اُقْوُلْ: bentuk dasar pembentukan amr sebelum proses naql.
- اُقُوْلْ: dhammah pada wāwu dipindahkan kepada qāf.
- قُوْلْ: hamzat al-wasl tidak lagi diperlukan ketika kata diucapkan secara tersambung.
- قُلْ: wāwu yang telah menjadi sukun bertemu lām yang juga sukun, sehingga wāwu dihapus.
Dengan demikian, iltiqā’ as-sākinain memang berperan dalam tahap akhir analisis ini. Namun, jangan menyimpulkan bahwa setiap penghapusan huruf ‘illat disebabkan oleh pertemuan dua sukun. Pada يَعِدُ, misalnya, penyebabnya berbeda.
Contoh Ajwaf Yā’ī: بَاعَ → يَبِيعُ → بِعْ
Prinsip yang sama berlaku pada ajwaf yang ‘ain-nya berasal dari yā’.
Pada لَمْ يَبِعْ, yā’ sebagai ‘ain al-fi’il dibuang karena fi’il mudhari’ berada dalam keadaan jazm dengan sukun. Bentuk amr-nya adalah بِعْ.
Contoh lain: قُمْ
Jadi, untuk mengingat pola ajwaf, jangan hanya menghafalkan bahwa “huruf tengah hilang”. Ingatlah kondisi gramatikalnya:
الأجوف: تُحْذَفُ عَيْنُهُ فِي المُضَارِعِ المَجْزُومِ وَالأَمْرِ المَبْنِيِّ عَلَى السُّكُونِ
2. Pembuangan Fā’ al-Fi’il: Fi’il Mitsal Wāwī
Jika huruf pertama akar berupa huruf ‘illat, kata tersebut disebut fi’il mitsal (الفعل المثال). Contohnya:
- وَعَدَ — وعد.
- وَرِثَ — ورث.
- وَصَلَ — وصل.
Untuk fi’il mitsal wāwī tsulātsi mujarrad, wāwu pada fā’ al-fi’il dibuang dari mudhari’ dan amr apabila mudhari’-nya memiliki ‘ain yang berharakat kasrah. Contoh:
Wāwu pada يَوْعِدُ adalah fā’ al-fi’il, bukan ‘ain al-fi’il. Setelah dihapus, terbentuk يَعِدُ.
Dalam penjelasan klasik, penghapusan ini berkaitan dengan beratnya keberadaan wāwu di antara yā’ mudhari’ yang berharakat fathah dan kasrah pada huruf sesudahnya. Yang perlu dihafalkan pemula adalah syarat morfologisnya, bukan sekadar alasan fonetiknya.
Dari Mudhari’ ke Amr: عِدْ
Fi’il amr dibentuk dari mudhari’ setelah membuang huruf mudhara’ah dan melakukan penyesuaian yang diperlukan. Karena wāwu sudah dibuang dalam mudhari’, wāwu tersebut tidak dikembalikan dalam bentuk amr.
Pada tahap awal terdapat hamzat al-wasl untuk memungkinkan kata dimulai dengan huruf yang sesuai. Ketika kata berada dalam posisi yang memungkinkan pembacaan langsung dengan huruf pertama yang sudah berharakat, hamzat al-wasl tidak terdengar dalam washl.
Contoh lain
- وَرِثَ → يَرِثُ → رِثْ
- وَصَلَ → يَصِلُ → صِلْ
- وَزَنَ → يَزِنُ → زِنْ
Dalam semua contoh tersebut, wāwu adalah fā’ al-fi’il dan mudhari’-nya ber-‘ain kasrah.
Pengecualian pada Sebagian Fi’il yang ‘Ain Mudhari’-nya Fathah
Secara qiyas, jika ‘ain mudhari’ berharakat fathah, wāwu biasanya tidak termasuk bentuk yang wajib dihapus berdasarkan kaidah dasar di atas. Namun, terdapat sejumlah fi’il yang mengalami penghapusan secara syādz atau berdasarkan pemakaian Arab yang telah didengar dari penutur fasih.
Contoh yang terkenal antara lain:
- وَدَعَ → يَدَعُ — meninggalkan.
- وَضَعَ → يَضَعُ — meletakkan.
- وَقَعَ → يَقَعُ — jatuh/terjadi.
- وَسِعَ → يَسَعُ — mencukupi/meliputi.
- وَهَبَ → يَهَبُ — memberi.
- وَطِئَ → يَطَأُ — menginjak.
Karena daftar dan rincian pengecualian dapat berbeda menurut kitab dan riwayat bahasa yang dijadikan dasar, lebih aman bagi pemula untuk menyebutnya sebagai kasus samā’i/syādz, bukan membuat kaidah baru yang berlaku secara umum. Literatur sharaf klasik memang mencatat sejumlah fi’il ber-‘ain mudhari’ fathah yang menyimpang dari qiyas dan tetap membuang wāwu.
3. Pembuangan Lām al-Fi’il: Fi’il Nāqish
Jika huruf ‘illat berada di akhir akar, kata tersebut disebut fi’il nāqish (الفعل الناقص). Contohnya:
- دَعَا — akar د-ع-و.
- رَمَى — akar ر-م-ي.
- سَعَى — akar س-ع-ي.
Pada fi’il nāqish, huruf ‘illat di akhir dibuang ketika mudhari’ berada dalam keadaan jazm. Dalam fi’il amr, penghapusan ini juga menjadi tanda bina’ pada bentuk tertentu.
Contoh: دَعَا → يَدْعُو → لَمْ يَدْعُ → اُدْعُ
Perhatikan bahwa yang dibuang adalah wāwu sebagai lām al-fi’il. Dhammah pada ‘ain tetap tampak pada bentuk akhirnya:
- يَدْعُو → يَدْعُ
- اُدْعُو → اُدْعُ
Contoh: رَمَى → يَرْمِي → لَمْ يَرْمِ → اِرْمِ
Di sini yā’ sebagai lām al-fi’il dibuang pada bentuk majzum dan amr:
- يَرْمِي → يَرْمِ
- اِرْمِي → اِرْمِ
Karena itu, ungkapan yang lebih tepat bukan “huruf yang hilang hanya sebagai pengganti sukun”, melainkan:
Dalam fi’il nāqish, حذف حرف العلة menjadi tanda jazm pada mudhari’ dan tanda bina’ pada bentuk amr tertentu.
Mudhari’ Majzum
Pada لَمْ يَدْعُ, tanda jazm bukan sukun yang tampak pada huruf terakhir, melainkan penghapusan huruf ‘illat.
4. Masdar: Ketika Wāwu yang Hilang Diganti dengan Tā’
Penghapusan fā’ al-fi’il pada beberapa masdar mempunyai pembahasan tersendiri. Contohnya:
- وَعَدَ → وَعْد → عِدَة
- وَصَلَ → وَصْل → صِلَة
- وَزَنَ → وَزْن → زِنَة
- وَصَفَ → وَصْف → صِفَة
Pada bentuk seperti عِدَة, wāwu sebagai fā’ al-fi’il telah dibuang, kemudian terdapat tā’ sebagai unsur ta’wīdh (pengganti) dalam analisis sharaf.
Namun, jangan membuat rumus “setiap wāwu yang dibuang pasti diganti tā'”. Pembahasan ta’wīdh ini berkaitan dengan pola masdar tertentu dan memiliki rincian dalam kitab-kitab sharaf. Bahkan terdapat perbedaan pendapat mengenai kewajiban ta’wīdh pada sebagian bentuk.
5. Contoh Istimewa: وَقَى → قِ
Salah satu contoh yang paling menarik adalah kata قِ (qi — peliharalah), yaitu fi’il amr dari وَقَى.
Akar kata ini adalah:
و ـ ق ـ ي
Wāwu merupakan fā’ al-fi’il, sedangkan yā’ merupakan lām al-fi’il. Karena itu, kata ini termasuk lafīf mafrūq (لفيف مفروق): dua huruf ‘illat terletak pada kedua ujung akar dan dipisahkan oleh satu huruf shahih.
Alur Dasar
Dalam bentuk mudhari’, wāwu sebagai fā’ al-fi’il dibuang sesuai dengan kaidah fi’il mitsal wāwī:
Ketika dibentuk menjadi amr, bentuk yang berasal dari mudhari’ tersebut mengalami penghapusan huruf ‘illat akhir:
Dengan demikian, bentuk pendek قِ bukan muncul karena satu kaidah saja. Ia merupakan hasil dari dua jenis penghapusan:
- Wāwu sebagai fā’ al-fi’il dibuang menurut kaidah fi’il mitsal wāwī.
- Yā’ sebagai lām al-fi’il dibuang pada bentuk amr karena kaidah fi’il nāqish.
Jika kata tersebut disambungkan dengan نَا, terbentuk:
Dalam konteks doa, قِنَا berarti “peliharalah kami” atau “lindungilah kami”. Di sini نَا merupakan dhamir yang melekat pada fi’il sebagai objek.
6. Jangan Menyamakan Semua Hadzf
Dari contoh-contoh di atas terlihat bahwa kata “dibuang” saja belum cukup untuk menjelaskan sebuah bentuk. Kita harus bertanya:
- Huruf ‘illat berada di posisi mana?
- Apakah kata tersebut mitsal, ajwaf, nāqish, atau lafīf?
- Apakah bentuknya madhi, mudhari’, amr, atau masdar?
- Jika mudhari’, apakah ia marfu’, manshub, atau majzum?
- Jika amr, apakah ia termasuk bentuk yang dibangun dengan حذف حرف العلة atau dengan kaidah lain?
Perhatikan perbedaan berikut:
| Bentuk | Jenis | Huruf yang Dibuang | Sebab Utama |
|---|---|---|---|
| قُلْ | Ajwaf | ‘Ain al-fi’il | Amr / pertemuan dua sukun dalam tahapan analisis |
| عِدْ | Mitsal wāwī | Fā’ al-fi’il | Wāwu dihapus pada mudhari’ dan amr dengan syarat tertentu |
| اُدْعُ | Nāqish wāwī | Lām al-fi’il | Hadzf huruf ‘illat pada amr |
| اِرْمِ | Nāqish yā’ī | Lām al-fi’il | Hadzf huruf ‘illat pada amr |
| قِ | Lafīf mafrūq | Fā’ dan lām | Gabungan kaidah mitsal dan nāqish |
Tanya Jawab Seputar I’lal bi al-Hadzf
Bagaimana melacak akar kata jika huruf awalnya hilang, seperti عِدْ?
Dalam banyak kamus Arab tradisional, kata dicari berdasarkan akar. Karena itu, ketika menemukan bentuk yang sudah mengalami hadzf, kita perlu mengembalikan huruf yang hilang secara morfologis.
Contohnya:
Demikian pula:
Jadi, bentuk luar kata tidak selalu menunjukkan seluruh huruf akar. Ilmu sharaf membantu kita mengembalikan huruf yang tersembunyi tersebut.
Mengapa عِدَة memiliki tā’ marbūṭah?
عِدَة berkaitan dengan وَعَدَ. Dalam analisis sharaf klasik, wāwu sebagai fā’ al-fi’il dihapus dan tā’ dipandang sebagai unsur ta’wīdh pada pola tertentu.
Hal yang sama dapat ditemukan dalam contoh seperti:
- صِلَة ← وَصَلَ
- زِنَة ← وَزَنَ
- صِفَة ← وَصَفَ
Namun, bentuk-bentuk tersebut sebaiknya dipelajari sebagai bab khusus karena kaidah ta’wīdh mempunyai rincian tersendiri.
Apakah semua kata yang tampak hanya memiliki dua huruf mengalami hadzf?
Tidak. Bentuk pendek harus dianalisis berdasarkan wazan, akar, dan konteks gramatikalnya. Dua huruf yang tampak pada permukaan tidak otomatis berarti satu huruf telah dibuang.
Karena itu, jangan memulai analisis dengan pertanyaan “huruf apa yang hilang?”, tetapi dengan pertanyaan:
Apa akar katanya, apa jenis fi’ilnya, dan dalam bentuk apa kata tersebut digunakan?
Rangkuman: Tiga Jalur Utama Hadzf
Untuk tahap awal, cukup pegang tiga pola berikut:
-
Ajwaf — huruf ‘illat di tengah:
قَالَ → يَقُولُ → لَمْ يَقُلْ → قُلْ.
‘Ain al-fi’il dibuang pada mudhari’ majzum dan amr mabni ‘ala as-sukun. -
Mitsal wāwī — huruf ‘illat di awal:
وَعَدَ → يَعِدُ → عِدْ.
Fā’ al-fi’il berupa wāwu dibuang pada mudhari’ dan amr dengan syarat yang telah dijelaskan. -
Nāqish — huruf ‘illat di akhir:
دَعَا → يَدْعُو → لَمْ يَدْعُ → اُدْعُ.
Lām al-fi’il berupa huruf ‘illat dibuang pada kondisi jazm dan pada bentuk amr tertentu.
Dan ada bentuk gabungan yang sangat menarik:
Karena وَقَى adalah lafīf mafrūq, ia memperlihatkan bagaimana dua huruf ‘illat pada posisi awal dan akhir dapat mengalami dua proses hadzf yang berbeda.
Kesimpulan terpenting: I’lal bi al-Hadzf bukan sekadar “huruf lemah tiba-tiba hilang”. Setiap penghapusan mempunyai posisi, syarat, dan lingkungan morfologis tertentu. Dengan mengenali apakah huruf ‘illat berada pada fā’, ‘ain, atau lām al-fi’il, kita dapat membaca perubahan kata secara jauh lebih sistematis.