Kalimat dalam bahasa Arab (الجملة العربية) tidak terbentuk secara acak, melainkan tersusun dari berbagai unsur yang membentuk struktur dan makna yang utuh.
Pemahaman terhadap unsur-unsur ini sangat penting untuk mengetahui bagaimana sebuah makna direpresentasikan melalui kata tunggal, bentuk morfologis kata, susunan kalimat, intonasi suara saat pengucapan, pergeseran makna secara historis, hingga aturan I’rab. Berikut adalah penjelasan mengenai unsur-unsur paling menonjol yang menyusun kalimat bahasa Arab:
1. Kata Tunggal (المفردة)
Yang dimaksud dengan al-mufradah (المفردة) adalah kata tunggal. Contohnya adalah kata asad (أسد – singa), saif (سيف – pedang), dan syajarah (شجرة – pohon).
2. Bentuk Morfologis (البناء الصرفي / الصيغة)
Unsur ini mencakup as-sighah (الصيغة) atau bentuk morfologis suatu kata, seperti isim fa’il (اسم الفاعل), isim maf’ul (اسم المفعول), mubalaghah (المبالغة), serta perbedaan bentuk jamak untuk satu isim (kata benda), dan lain sebagainya.
Beberapa contoh variasi bentuk morfologis tersebut adalah:
- Tha’in (طاعن), mith’an (مطعان), dan tha’an (طعان).
- Humuq (حمق) dan ahmaq (أحمق).
- Sa’id (سائد) dan sayyid (سيد).
- Sunbulat (سنبلات) dan sanabil (سنابل).
- Serta asyhur (أشهر) dan syuhur (شهور).
Pada umumnya, setiap sighah memiliki makna yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik perbedaan itu sedikit maupun banyak. Sebagaimana para ulama menyatakan bahwa “Tambahan bentuk adalah dalil atas tambahan makna” (زيادة المباني دليل على زيادة المعاني), maka dapat dilihat pula bahwa “Perbedaan bentuk adalah dalil atas perbedaan makna” (اختلاف المباني دليل على اختلاف المعاني).
3. Penyusunan Kalimat (التأليف)
Penyusunan kalimat terbagi menjadi dua jenis:
a. Penyusunan Parsial (التأليف الجزئي)
Penyusunan ini ditunjukkan melalui penggunaan preposisi yang berbeda pada sebuah kata kerja, seperti raghiba ila (رغب إلى), raghiba fi (رغب في), dan raghiba ‘an (رغب عن). Pokok kajian pada bagian ini menunjukkan bahwa perbedaan preposisi dapat mengubah makna kata kerjanya secara signifikan:
- Raghiba ilaihi (رغب إليه) bermakna merendahkan diri kepadanya (tadharru’) dan memohon dengan sungguh-sungguh (ibtihal).
- Raghiba fihi (رغب فيه) bermakna menginginkan dan menyukainya.
- Raghiba ‘anhu (رغب عنه) bermakna berpaling dan menjauhinya.
b. Penyusunan Sempurna (التأليف التام)
Penyusunan ini mencakup taqdim (التقديم – mendahulukan), ta’khir (التأخير – mengakhirkan), penyebutan (الذكر), hadzf (الحذف – membuang/menghilangkan), taukid (التوكيد – penegasan) beserta ketiadaannya, dan hal-hal serupa.
Contoh variasi susunan kalimat ini adalah: Zaidun qa’im (زيد قائم), qa’imun Zaid (وقائم زيد), al-qa’imu Zaid (والقائم زيد), dan inna Zaidan qa’im (وإن زيدًا قائم).
4. Nada Suara (النغمة الصوتية)
Nada suara (intonasi) memiliki petunjuk terhadap suatu makna. Makna dari sebuah kalimat bisa jadi berbeda seiring dengan perbedaan nada suara yang digunakan.
Sebagai contoh, ketika Anda mengucapkan “Zaid ‘inda mal” (زيد عند مال) lalu Anda memberikan tekanan dan menebalkan suara pada kata “mal”, maka maknanya adalah ia memiliki harta yang banyak atau berlimpah. Sebaliknya, jika Anda mengucapkan kalimat yang sama namun melembutkan dan menurunkan suara pada kata tersebut, maknanya ia memiliki harta yang sedikit dan tidak berharga.
Abu al-Fath Utsman bin Jinni menyatakan bahwa ketika seseorang berbicara, akan terasa adanya variasi seperti tathwih, tathrih, tafkhim (penebalan suara), dan ta’zhim (pengagungan) yang fungsinya menempati posisi kata sifat seperti “panjang” atau semisalnya. Anda dapat merasakannya ketika sedang memuji seseorang dengan berkata, “Demi Allah, dia adalah seorang pria” (كان والله رجلا). Dengan memberikan penekanan kuat pada lafaz “Allah”, memanjangkan huruf Lam, dan memperpanjang suara, ucapan tersebut telah cukup bermakna “pria yang utama, berani, atau dermawan”.
Demikian pula jika Anda berkata, “Kami memintanya, lalu kami mendapatinya sebagai seorang manusia” (سألناه فوجدناه إنسانًا). Jika Anda menebalkan dan memantapkan suara pada kata “insanan”, Anda tidak perlu lagi menambahkan sifat “manusia yang toleran atau pemurah”. Sebaliknya, jika Anda mencelanya dan menyifatinya dengan kesempitan, Anda berkata, “Kami memintanya dan dia adalah seorang manusia” (وكان إنسانا) sambil mengerutkan dan memalingkan wajah, maka gestur dan nada itu sudah menggantikan perkataan “manusia yang pelit, hina, atau bakhil”, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam kitab al-Khasha’ish.
Eksperimen modern juga telah membuktikan bahwa manusia tidak menggunakan satu tingkatan suara yang datar saat mengucapkan berbagai bunyi dalam bahasanya. Terdapat bahasa-bahasa yang menjadikan perbedaan tingkat (nada) suara sebagai suatu hal yang sangat penting, di mana makna kata bisa berubah seiring perbedaan nada saat diucapkan.
Salah satu yang paling terkenal adalah bahasa Cina, di mana satu kata bisa memiliki beberapa makna yang bergantung pada nada suara saat diucapkan. Misalnya, kata “fan” dalam bahasa Cina memiliki enam makna yang sama sekali tidak berkaitan, yaitu: tidur, membakar, berani, wajib, ya, dan bubuk. Tidak ada pembeda di antara kata tersebut selain nada musikalnya pada setiap keadaan, sebagaimana disebutkan oleh Ibrahim Anis dalam buku al-Aswat al-Lughawiyyah.
5. Perkembangan Sejarah Makna (التطور التاريخي للدلالة)
Makna dari suatu ungkapan dapat berubah seiring berjalannya waktu, dan terkadang sangat sulit untuk menelusuri makna aslinya.
- Sebagai contoh, ungkapan rafa’a ‘aqiratahu (رفع عقيرته) yang saat ini bermakna berteriak (صاح). Tidak ada hubungan linguistik antara suara dengan akar kata ‘a-qa-ra (ع ق ر). Asal mula ungkapan ini adalah ada seorang pria yang salah satu kakinya terpotong, lalu ia mengangkat kakinya tersebut dan meletakkannya di atas kaki yang lain, kemudian berteriak dengan suara yang sangat keras. Orang-orang pun berkata, “Ia telah mengangkat kakinya yang terpotong” (rafa’a ‘aqiratahu), seperti yang dicatat dalam kitab al-Khasha’ish.
- Contoh lain adalah ungkapan lillahi darruhu (لله دره) untuk menunjukkan rasa takjub. Ketika kita mengatakan “lillahi darruhu katiban aw sya’iran” (لله دره كاتبا أو شاعرا), kita tidak sedang bermaksud menggunakan makna leksikal dari frasa tersebut, dan mungkin kita tidak memahami makna aslinya. Para ahli bahasa berbeda pendapat mengenai asal-usulnya, namun yang paling masyhur menyebutkan bahwa ad-darr (الدر) berarti susu. Sehingga makna asalnya adalah “Allah memberinya minum dengan susu khusus”, yang maksudnya: “Betapa menakjubkannya susu yang diturunkan kepada anak yang sangat sempurna dalam sifat ini”, sebagaimana disebutkan dalam kitab at-Tashrih.
- Terkadang masyarakat menggunakan ucapan yang tidak mereka pahami makna maupun lafaz aslinya, karena sekadar kebiasaan, atau ditransfer dari bahasa lain sementara makna linguistik aslinya telah hilang. Di Irak, terdapat istilah qazal qurt (قزل قرط) yang digunakan untuk mencela, marah, atau mendoakan keburukan pada lawan bicara. Namun, masyarakat umum tidak memahami maksud asli dari ungkapan ini, dan tidak ada satupun yang mengetahuinya saat ditanya. Sebagai keterangan tambahan, seorang cendekiawan menyebutkan bahwa istilah tersebut masuk ke dalam bahasa pasaran (Ammiyah) Irak dari bahasa Turki. Kata ini merupakan gabungan dari “qizil” (kata Turki bermakna penyakit demam scarlet) dan “kurt” (kata asal Italia yang masuk ke bahasa Turki dengan makna pendamping). Sehingga seolah-olah seseorang mendoakan lawan bicaranya agar terus-menerus terjangkit demam scarlet.
- Contoh lainnya adalah ucapan ‘aluwwa (عَلُوّا) untuk memuji suatu perkara, yang di dalamnya terkandung makna harapan (tamanni). Asal muasal ungkapan ini telah hilang, namun diduga asalnya adalah ala ya habbadza (ألا يا حبذا). Ungkapan ini diringkas menjadi ala ya (ألا يا) untuk meringankan ucapan, lalu masyarakat awam mengubah huruf hamzah menjadi ‘ain (seperti pelafalan Qur’an menjadi Qur’an dengan ‘ain). Setelah itu, huruf ya’ (ي) diubah menjadi wa’ (و), sehingga berubahlah bentuk ungkapannya.
- Hal serupa terjadi pada ucapan hayyallah (حي الله) yang bermakna “apa saja” (أيا كان). Ketika seseorang ditanya, “Apa yang mau kamu ambil, ini atau itu?”, ia akan menjawab hayyallah (apa saja