Mengenal Bainā dan Bainamā (بَيْنَا وبَيْنمَا)

Dalam bahasa Arab, kata بَيْنَ (baina) pada dasarnya dikenal sebagai zharf makān (kata keterangan tempat). Namun, ketika kata ini berkembang menjadi بَيْنَا (bainā) dan بَيْنمَا (bainamā), fungsinya bergeser menjadi zharf zamān — khususnya untuk menunjukkan kejadian di masa lampau yang disusul oleh kejadian lain secara tiba-tiba.

Asal Usul dan Pembentukan Kata

Mari kita bedah Baina dan Bainama secara linguistik:

  • بَيْنَا (bainā) terbentuk dari kata بَيْنَ yang ditambahkan alif di akhirnya. Penambahan ini dikenal sebagai isybāʿ (perluasan bunyi vokal), di mana fatḥah pada huruf nūn diperpanjang menjadi alif.

  • بَيْنمَا (bainamā) adalah bentuk yang sama dengan bainā, hanya saja ditambahkan lagi partikel “mā” yang tidak bermakna langsung (ziyādah), melainkan untuk menegaskan atau menguatkan makna temporal.

Keduanya kemudian menjadi zharf zamān yang khusus digunakan untuk kejadian masa lampau, yang memiliki sifat mengejutkan atau datang tiba-tiba.

Fungsi Bainā dan Bainamā dalam Kalimat

1. Sebagai Zharf Zamān Māḍī

Baik bainā maupun bainamā digunakan untuk menandai waktu lampau dalam struktur kalimat. Keduanya sering digunakan untuk memulai kalimat yang diikuti oleh jumlah ismiyyah (kalimat nominal) — meskipun tidak tertutup kemungkinan juga diikuti oleh jumlah fiʿliyyah (kalimat verbal).

Contoh:

بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَقَطْتُ.
Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku terjatuh.

بَيْنمَا النَّاسُ نِيَامٌ إِذِ انْفَجَرَ الْبُرْكَانُ.
Saat orang-orang sedang tidur, tiba-tiba gunung meletus.

2. Penekanan Kejutan

Kehadiran kata بَيْنَا atau بَيْنمَا menandakan bahwa kejadian berikutnya terjadi secara mendadak atau tak terduga, meskipun sebelumnya keadaan terlihat stabil atau biasa saja. Dalam hal ini, keduanya berfungsi seperti “tiba-tiba” atau “sedang asyik-asyiknya” dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia.

Baca Juga: Mengenal عَوْض (Audh): Zharf Zaman Mustaqbal untuk Penegasan yang Tak Terputus

Status I’rab dan Pandangan Ulama

Sebagai Zharf Tidak Muḍāf. Terdapat dua pandangan utama dari kalangan ahli nahwu:

  • Pandangan pertama: Menganggap bainā dan bainamā sebagai muḍāf  kepada jumlah sesudahnya.

  • Pandangan kedua (yang dianggap lebih kuat): Menganggap bainā dan bainamā telah ditahan dari sifat iḍāfah (penyandaran) karena adanya tambahan alif atau mā. Maka keduanya berfungsi mandiri sebagai zharf, bukan muḍāf.

Pendapat kedua ini lebih diterima karena menghindari takalluf (rekayasa gramatikal yang berlebihan) dan lebih sesuai dengan perkembangan bentuk katanya.

Perbedaan antara Bain dan Bainā/Bainamā

Bentuk Asal Fungsi Fungsi dalam Kalimat Keterangan Tambahan
بَيْنَ Zharf makān Bisa untuk tempat dan waktu Contoh: بين الظهر والعصر
بَيْنَا Zharf zamān Khusus untuk masa lampau Mengandung unsur kejutan
بَيْنمَا Zharf zamān Khusus masa lampau, dengan penguatan Tambahan bersifat penegas (ziyada)

Contoh hadis yang menggunakan baina sebagai zharf zaman:

سَاعَةُ الْجُمُعَةِ بَيْنَ خُرُوجِ الْإِمَامِ وَانْقِضَاءِ الصَّلَاةِ.

Waktu mustajab pada hari Jumat terjadi di antara keluarnya imam dan berakhirnya salat.

Namun, ketika bentuknya telah menjadi bainā atau bainamā, ia tidak lagi menunjukkan tempat, melainkan waktu saja, dan itupun hanya waktu yang telah berlalu.


Kata بَيْنَا dan بَيْنمَا adalah contoh luar biasa dari fleksibilitas struktur zharf dalam bahasa Arab. Dari kata tempat (makān), ia bisa berkembang menjadi kata waktu (zamān) yang penuh efek dramatik. Perubahan bentuk ini tidak hanya memengaruhi arti, tetapi juga struktur i‘rāb dan komposisi kalimat.

Dalam konteks literatur Arab klasik maupun Al-Qur’an dan hadis, pemahaman terhadap zharf seperti bainā dan bainamā membantu kita menangkap dinamika waktu, kejutan peristiwa, dan penekanan yang tidak selalu bisa diterjemahkan secara literal.