Idhafah Lafzhiyyah dan Maknawiyyah

Dalam ilmu nahwu, susunan idhafah (penyandaran dua isim) terbagi menjadi dua macam berdasarkan fungsi dan faidahnya: idhafah maknawiyyah (idhafah mahdhah) dan idhafah lafzhiyyah (idhafah ghairu mahdhah).

Idhafah maknawiyyah memberikan faidah makna hakiki dengan mengubah mudhaf menjadi makrifat (ta’rif) atau mengkhususkannya (takhsis), sedangkan idhafah lafzhiyyah semata-mata bertujuan meringankan pelafalan (takhfif) tanpa mengubah status kemakrifatan mudhaf yang selamanya tetap nakirah.

Pembagian ini tidak menitikberatkan pada jenis huruf jar yang ditakdirkan di balik susunan kata, melainkan pada tujuan gramatikal dan semantiknya: apakah penyandaran tersebut melahirkan kejelasan makna bagi mudhaf, ataukah murni berfungsi sebagai peringan ucapan.

Pada pembahasan sebelumnya, kita telah mengkaji pengertian Idhafah secara umum serta pembagian berdasarkan takdir huruf jar, yaitu idhafah lamiyyah, bayaniyyah, zharfiyyah, dan tasybihiyyah dengan contoh-contohnya. Artikel ini mengupas secara tuntas hakikat idhafah maknawiyyah dan lafzhiyyah, syarat pembentukannya, patokan pembeda (dhabith), hingga dalil penerapannya dalam ayat suci Al-Qur’an.

Pengertian Idhafah Maknawiyyah

Idhafah maknawiyyah adalah susunan penyandaran dua kata benda di mana mudhaf memperoleh faedah makna substantif dari mudhaf ilaih, baik berupa status makrifat penuh maupun pembatasan makna (spesifikasi). Pada bentuk ini, keterikatan antara mudhaf dan mudhaf ilaih berakar pada hubungan makna hakiki (seperti kepemilikan, jenis bahan, atau keterangan waktu dan tempat), bukan hubungan pelaku dan objek perbuatan langsung.

Dalam literatur kitab-kitab nahwu, jenis penyandaran ini dikenal pula dengan beberapa sebutan:

  • Al-Idhafah Al-Mahdhah (الإِضَافَةُ الْمَحْضَةُ) ➔ Idhafah murni, dinamai demikian karena hubungan kedua kata benar-benar bersih dari pengaruh amil-ma’mul secara lafazh dan tidak diniatkan sebagai pemisahan kata.
  • Al-Idhafah Al-Haqiqiyyah (الإِضَافَةُ الْحَقِيقِيَّةُ) ➔ Idhafah hakiki, karena menunjukkan nisbah hubungan makna yang sesungguhnya antara dua unsur kalimat.
  • Al-Idhafah Al-Ma’nawiyyah (الإِضَافَةُ الْمَعْنَوِيَّةُ) ➔ Dinamai maknawiyyah karena tujuan utamanya berpijak pada dimensi faidah makna, bukan sekadar penyesuaian bentuk suara.

Dua Faidah Pokok Idhafah Maknawiyyah

Tarkib idhafah maknawiyyah menghasilkan salah satu dari dua pengaruh makna mendasar pada mudhaf:

  1. Ta’rif (التَّعْرِيفُ / Pemakrifatan):
    Terjadi apabila mudhaf ilaih berupa isim makrifat. Kata pertama (mudhaf) yang asalnya berstatus nakirah seketika berubah menjadi makrifat karena tersandar pada kata yang sudah jelas penunjukannya.
    Contoh: هَذَا كِتَابُ سَعِيدٍ (“Ini adalah kitab milik Sa’id”).
    Lafazh كِتَابُ asalnya isim nakirah yang umum, namun setelah di-idhafahkan kepada isim ‘alam (سَعِيدٍ), kata tersebut menjadi makrifat seutuhnya.
  2. Takhsis (التَّخْصِيصُ / Pengkhususan):
    Terjadi apabila mudhaf ilaih berupa isim nakirah. Mudhaf memang tidak sampai berubah menjadi makrifat, namun cakupan maknanya menjadi lebih sempit dan spesifik dibanding semula.
    Contoh: هَذَا كِتَابُ رَجُلٍ (“Ini adalah kitab milik seorang lelaki”).
    Kata كِتَابُ di sini masih berstatus nakirah, namun maknanya telah dibatasi khusus untuk buku kepunyaan seorang pria, bukan buku milik wanita atau anak-anak.

Pengecualian Kaidah Makrifat pada Idhafah Maknawiyyah

Jika diperhatikan lebih rinci, terdapat dua keadaan khusus di mana mudhaf tetap berstatus nakirah meskipun disandarkan kepada isim makrifat:

1. Mudhaf Sangat Samar dan Abstrak (Asmaul Mubhamat)

Kata-kata tertentu tergolong al-asma’ al-mutawaghghilah fil ibham (kata benda yang kesamaran maknanya teramat pekat). Saking umumnya cakupan makna kata-kata ini, ketika disandarkan pada isim makrifat sekalipun, ia tetap tidak mampu menjadi makrifat. Kata-kata ini hanya menunjukkan penyerupaan atau perbandingan umum, bukan menunjuk pada zat tertentu.

Di antara kata-kata tersebut adalah:

  • مِثْلُ (seperti / semisal)
  • شِبْهُ (mirip / serupa)
  • نَظِيرُ (setara / sepadan)
  • غَيْرُ (selain / bukan)

Karena tetap berstatus nakirah, kata-kata ini sah digunakan untuk menyifati (menjadi na’at bagi) isim nakirah:

  • جَاءَ رَجُلٌ مِثْلُ سَلِيمٍ
    Artinya: “Telah datang seorang lelaki yang semisal Salim.”
    Lafazh رَجُلٌ adalah isim nakirah, dan susunan مِثْلُ سَلِيمٍ berkedudukan sebagai sifat (na’at) baginya. Seandainya kata مِثْلُ berubah menjadi makrifat karena disandarkan pada Salim, tentu susunan ini tidak sah karena isim makrifat dilarang menjadi na’at bagi isim nakirah.
  • مَرَرْتُ بِرَجُلٍ شِبْهِ خَلِيلٍ
    Artinya: “Aku berpapasan dengan seorang pria yang mirip Khalil.”
    Kata شِبْهِ di sini tetap nakirah sehingga sah menjadi na’at bagi رَجُلٍ, meskipun disandarkan kepada nama orang yang makrifat.

2. Mudhaf Ilaih Berupa Dhomir yang Merujuk pada Isim Nakirah

Secara umum, penyandaran kata kepada dhomir (kata ganti) akan mema’rifatkan mudhaf karena dhomir tergolong isim makrifat. Namun, apabila dhomir tersebut kembali (memiliki marji’) kepada isim nakirah yang telah disebutkan sebelumnya, maka mudhaf tetap dihukumi nakirah.

Perhatikan contoh-contoh berikut:

  • جَاءَنِي رَجُلٌ وَأَخُوهُ
    Artinya: “Datang kepadaku seorang lelaki beserta saudaranya.”
    Dhomir pada lafazh أَخُوهُ kembali kepada kata رَجُلٌ yang berstatus nakirah. Oleh karena itu, kata أَخُوهُ tetap berstatus nakirah.
  • رُبَّ رَجُلٍ وَوَلَدِهِ
    Artinya: “Betapa banyak seorang lelaki dan anaknya…”
    Huruf jar رُبَّ memiliki kekhususan kaidah: hanya boleh masuk pada isim nakirah. Di’athafkannya kata وَلَدِهِ pada رَجُلٍ membuktikan bahwa statusnya tetap nakirah.
  • كَمْ رَجُلٍ وَأَوْلَادِهِ
    Artinya: “Berapa banyak lelaki dan anak-anaknya…”
    Kata أَوْلَادِهِ tetap nakirah karena dhomir di dalamnya merujuk kembali kepada isim nakirah sebelumnya.

Ciri-Ciri Penentu Idhafah Maknawiyyah

Untuk memastikan bahwa suatu susunan kata tergolong idhafah maknawiyyah, ulama nahwu merumuskan patokan pembeda (dhabith):

  1. Mudhaf bukan berupa isim sifat yang beramal:
    Mudhaf berupa isim jamid (nama benda, zat, wadah, atau alat) yang tidak membutuhkan ma’mul (pelaku maupun objek).
    Contoh: مِفْتَاحُ الْبَابِ (“Kunci pintu”). Kata مِفْتَاحُ adalah isim alat, bukan kata sifat yang menuntut fa’il atau maf’ul bih. Hubungannya murni fungsi alat terhadap pintu.
  2. Mudhaf berupa isim sifat, tetapi mudhaf ilaih bukan ma’mulnya:
    Sekalipun mudhaf berasal dari kata bentukan sifat (seperti isim fa’il atau isim maf’ul), jika kata kedua bukan objek atau pelaku yang dikenai perbuatan secara langsung, susunan tersebut tetap tergolong idhafah maknawiyyah.
    Contoh:

    • كَاتِبُ الْقَاضِي (“Juru tulis hakim”) ➔ Kata كَاتِبُ adalah isim fa’il, namun hakim (الْقَاضِي) bukan objek tulisan yang ditulis, melainkan pihak majikan tempat juru tulis bertugas.
    • مَأْكُولُ النَّاسِ (“Makanan manusia”) ➔ Kata مَأْكُولُ adalah isim maf’ul, namun manusia (النَّاسِ) di sini bukan naibul fa’il langsung dari kata kerja, melainkan peruntukan makanan yang biasa disantap masyarakat.
    • مَشْرَبُهُمْ وَمَلْبُوسُهُمْ (“Minuman mereka dan pakaian mereka”) ➔ Kata مَشْرَبُ adalah isim makan atau mashdar mimi dan مَلْبُوسُ adalah isim maf’ul. Keduanya disandarkan pada dhomir semata-mata untuk menunjukkan kepemilikan konsumsi dan pakaian, bukan relasi amil dan ma’mul.
  3. Mudhaf berupa isim sifat, namun bermakna masa lampau (madhi):
    Jika isim fa’il atau isim maf’ul menunjukkan perbuatan yang telah selesai di masa lampau, ia kehilangan keserupaan dengan fi’il mudhari’, gugur amalnya, dan idhafahnya berubah menjadi idhafah maknawiyyah mahdhah.
    Contoh: هَذَا ضَارِبُ زَيْدٍ أَمْسِ (“Ini adalah orang yang telah memukul Zaid kemarin”).

Pengertian Idhafah Lafzhiyyah

Idhafah lafzhiyyah adalah susunan penyandaran isim sifat musytaq yang beramal kepada ma’mul maknawinya, dengan tujuan semata-mata meringankan pelafalan (takhfif), tanpa memberikan pengaruh faedah makna ta’rif maupun takhsis sedikit pun terhadap mudhaf.

Keringanan lafal (takhfif) pada idhafah jenis ini dicapai melalui dua mekanisme fonetik:

  1. Menghilangkan tanwin pada isim mufrad atau jamak taksir.
  2. Menghapus huruf nun pada isim mutsanna dan jamak mudzakkar salim.

Dalam literatur gramatika Arab, jenis ini memiliki beberapa nama lain:

  • Al-Idhafah Ghairu Al-Mahdhah (الإِضَافَةُ غَيْرُ الْمَحْضَةِ) ➔ Idhafah tidak murni, karena kedua kata hakikatnya terpisah dalam logika tata bahasa sebagai amil dan ma’mul, serta dapat diurai kembali ke bentuk aslinya yang bertanwin atau berhuruf nun.
  • Al-Idhafah Al-Majaziyyah (الإِضَافَةُ الْمَجَازِيَّةُ) ➔ Idhafah majazi, karena tidak mendatangkan makna kepemilikan atau pembatasan makna yang sesungguhnya sebagaimana idhafah lazimnya.
  • Al-Idhafah Al-Lafzhiyyah (الإِضَافَةُ اللَّفْظِيَّةُ) ➔ Dinamai lafzhiyyah karena faidahnya murni terbatas pada keindahan dan keringanan bunyi lafal.

Syarat Terjadinya Idhafah Lafzhiyyah

Suatu susunan kalimat dihukumi sebagai idhafah lafzhiyyah apabila memenuhi dua rukun syarat utama:

  1. Mudhaf Berupa Isim Sifat Musytaq yang Beramal:
    Yaitu berupa salah satu dari empat sighat sifat berikut yang bermakna masa sekarang (hal) atau masa mendatang (istiqbal):

    • Isim Fa’il: Kata sifat pelaku. Contoh: هَذَا الرَّجُلُ طَالِبُ عِلْمٍ (“Pria ini adalah penuntut ilmu”).
    • Shighat Mubalaghah: Bentuk penguatan makna dari isim fa’il. Contoh: رَأَيْتُ رَجُلًا نَصَّارَ الْمَظْلُومِ (“Aku melihat pria yang gemar membela orang terzalimi”).
    • Isim Maf’ul: Kata sifat penderita. Contoh: انْصُرْ رَجُلًا مَهْضُومَ الْحَقِّ (“Tolonglah pria yang terampas haknya”).
    • Sifat Musyabbahah: Kata sifat yang menyerupai isim fa’il dalam hal ketetapan sifat. Contoh: عَاشِرْ رَجُلًا حَسَنَ الْخُلُقِ (“Bergaullah dengan pria yang baik budi pekertinya”).
  2. Mudhaf Ilaih Merupakan Ma’mul Maknawi dari Mudhaf:
    Kata kedua asalnya berkedudukan sebagai maf’ul bih (objek) atau fa’il/naibul fa’il (subjek) dari kata sifat tersebut seandainya susunannya tidak di-idhafahkan.
    Perhatikan uraian perbandingannya jika diucapkan tanpa susunan idhafah:

    • طَالِبُ عِلْمٍ asalnya adalah طَالِبٌ عِلْمًا (kata ‘ilman berkedudukan sebagai maf’ul bih yang dinashabkan oleh isim fa’il).
    • نَصَّارُ الْمَظْلُومِ asalnya adalah نَصَّارٌ الْمَظْلُومَ (kata al-mazhluma adalah maf’ul bih).
    • مَهْضُومُ الْحَقِّ asalnya adalah مَهْضُومٌ حَقُّهُ (kata haqquhu asalnya naibul fa’il yang dirafa’kan oleh isim maf’ul).
    • حَسَنُ الْخُلُقِ asalnya adalah حَسَنٌ خُلُقُهُ (kata khuluquhu asalnya fa’il yang dirafa’kan oleh sifat musyabbahah).

    Kalimat-kalimat tersebut sah diucapkan tanpa idhafah, membuktikan bahwa penyandaran di sini semata-mata untuk membuang tanwin demi meringankan ucapan.

Bukti Bahwa Mudhaf pada Idhafah Lafzhiyyah Selamanya Nakirah

Para ulama nahwu menetapkan bahwa mudhaf pada idhafah lafzhiyyah selamanya berstatus nakirah, kendati mudhaf ilaih-nya berupa isim makrifat beralif lam maupun isim ‘alam. Ada tiga dalil gramatika utama yang membuktikan ketetapan ini:

  1. Mudhaf Sah Menjadi Sifat (Na’at) bagi Isim Nakirah:
    Kaidah nahwu mewajibkan na’at selaras dengan man’ut dalam hal makrifat dan nakirah. Contoh pada kalimat: رَأَيْتُ رَجُلًا نَصَّارَ الْمَظْلُومِ.
    Lafazh رَجُلًا adalah isim nakirah. Kata نَصَّارَ disandarkan pada الْمَظْلُومِ yang beralif lam (makrifat). Seandainya idhafah ini mema’rifatkan mudhaf, niscaya gugur tarkib na’at tersebut karena isim makrifat dilarang menjadi na’at bagi nakirah. Sahnya susunan ini menjadi bukti kokoh bahwa mudhaf tetap nakirah murni.
  2. Mudhaf Sah Menempati Posisi Hal (حَال):
    Syarat mutlak bagi kata yang berkedudukan sebagai hal adalah wajib berupa isim nakirah. Contoh kalimat: جَاءَ خَالِدٌ بَاسِمَ الثَّغْرِ (“Khalid datang dalam keadaan tersenyum simpul”).
    Lafazh بَاسِمَ berkedudukan sebagai hal dari Khalid. Mengingat hal hanya sah dari isim nakirah, kaidah ini menegaskan bahwa mudhaf sama sekali tidak berubah menjadi makrifat meski tersambung pada kata beralif lam.
  3. Mudhaf Sah Dimasuki Huruf Jar Rubba (رُبَّ):
    Huruf jar rubba memiliki kekhususan kaidah: hanya boleh masuk pada isim nakirah. Contoh syahid dalam syair Arab:
    يَا رُبَّ صَائِمِهِ لَنْ يَصُومَهُ (“Wahai betapa banyak orang yang berpuasa padanya, tidak akan berpuasa lagi…”).
    Lafazh صَائِمِهِ disandarkan pada dhomir, namun tetap sah dimasuki oleh huruf jar rubba. Ini membuktikan bahwa status kemakrifatan dhomir tidak pernah berpindah kepada mudhaf.

Ketentuan Masuknya Alif Lam (الـ) pada Mudhaf

Perbedaan kaidah yang sangat mencolok antara kedua ragam idhafah ini terlihat pada hukum masuknya huruf alif lam (al-):

  • Pada Idhafah Maknawiyyah: Mudhaf tidak boleh sama sekali kemasukan alif lam. Tidak boleh diucapkan الْغُلَامُ زَيْدٍ atau الْكِتَابُ رَجُلٍ. Hal ini karena alif lam dan idhafah maknawiyyah sama-sama berfungsi mema’rifatkan kata, dan dalam kaidah nahwu dua tanda pemakrifat dilarang berkumpul pada satu kata (la yajtami’u mu’arrifani).
  • Pada Idhafah Lafzhiyyah: Karena penyandarannya tidak berfungsi mema’rifatkan kata, huruf alif lam diperbolehkan masuk pada mudhaf dengan memenuhi salah satu syarat berikut:
    1. Mudhaf berbentuk isim mutsanna, seperti: الضَّارِبَا زَيْدٍ (dua orang yang memukul Zaid).
    2. Mudhaf berbentuk jamak mudzakkar salim, seperti: الضَّارِبُو زَيْدٍ (orang-orang yang memukul Zaid), atau firman Allah: وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ (QS. Al-Hajj: 35).
    3. Mudhaf ilaih memiliki alif lam, seperti: الْجَعْدُ الشَّعَرِ (pria yang berambut ikal) dan الضَّارِبُ الرَّجُلِ (orang yang memukul pria itu).
    4. Mudhaf ilaih disandarkan pada kata lain yang beralif lam, seperti: زَيْدٌ الضَّارِبُ رَأْسِ الْجَانِي (Zaid adalah orang yang memukul kepala penjahat).
    5. Mudhaf ilaih disandarkan pada dhomir yang merujuk pada kata beralif lam, seperti: مَرَرْتُ بِالرَّجُلِ الضَّارِبِ غُلَامِهِ (aku berpapasan dengan pria yang memukul pembantunya).

Kaidah ini ditegaskan oleh Ibnu Malik dalam nadhom Alfiyyah:

وَإِنْ يُشَابِهِ الْمُضَافُ يَفْعَلَا ¤ كَـ«وَاصِلِ النَّجْلِ» وَ«مُعْطِي الرَّجُلَا»
فَثَانِيًا انْوِ وَانْعَزِلْ عَنْهُ اعْتِقَادْ ¤ مَعْنًى سِوَى التَّخْفِيفِ فِي هَذَا اسْتَفَادْ

“Dan jika mudhaf menyerupai fi’il mudhari’ (seperti washilun najla dan mu’thir rajula), maka niatkanlah pemisahan pada kata kedua, serta lepaskanlah keyakinan adanya faedah makna pada penyandaran ini selain faedah takhfif (keringanan lafal).”

Tabel Perbandingan Idhafah Maknawiyyah dan Idhafah Lafzhiyyah

Untuk mempermudah pemahaman santri dalam membedakan kedua ragam susunan ini, berikut ikhtisar perbandingan komprehensif berdasarkan prinsip nahwu:

Aspek Pembeda Idhafah Maknawiyyah (Mahdhah) Idhafah Lafzhiyyah (Ghairu Mahdhah)
Faidah Utama Memberikan faidah makna hakiki berupa ta’rif (pemakrifatan) atau takhsis (pengkhususan makna). Murni meringankan ucapan (takhfif) dengan membuang tanwin atau huruf nun mutsanna dan jamak.
Bentuk Mudhaf Isim jamid (nama benda, zat, alat) atau isim sifat yang tidak beramal pada mudhaf ilaih (atau bermakna madhi). Wajib berupa isim sifat musytaq yang beramal (isim fa’il, shighat mubalaghah, isim maf’ul, sifat musyabbahah).
Kedudukan Mudhaf Ilaih Menunjukkan relasi kepemilikan (milik), jenis bahan (bayan), atau wadah waktu dan tempat (zharaf). Merupakan ma’mul maknawi (asalnya berkedudukan sebagai maf’ul bih atau fa’il) dari sifat mudhaf.
Status Kemakrifatan Menjadi makrifat jika disandarkan pada makrifat, dan menjadi takhsis jika disandarkan pada nakirah. Selamanya berstatus nakirah secara mutlak, sekalipun mudhaf ilaih berupa isim makrifat.
Dimensi Waktu (Zaman) Bebas dari ikatan waktu, atau khusus bermakna masa lampau (madhi) jika mudhaf berupa sifat. Wajib bermakna masa sekarang (hal) atau masa mendatang (istiqbal) untuk isim fa’il dan maf’ul.
Masuknya Alif Lam (الـ) Dilarang sama sekali masuk pada mudhaf (tidak sah). Diperbolehkan masuk pada mudhaf jika mudhaf mutsanna/jamak atau mudhaf ilaih beralif lam.
Sebutan Alternatif Al-Idhafah Al-Mahdhah, Al-Idhafah Al-Haqiqiyyah. Al-Idhafah Ghairu Al-Mahdhah, Al-Idhafah Al-Majaziyyah.

Contoh Penerapan dalam Al-Qur’an

Kaidah gramatika mengenai kedua ragam idhafah ini dapat kita jumpai penerapannya secara jelas dalam ayat suci Al-Qur’an:

1. Syahid Idhafah Lafzhiyyah Menjadi Sifat Nakirah (QS. Al-Ma’idah: 95)

يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ

Artinya: “…menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu, sebagai hadyu yang sampai ke Ka’bah…” (QS. Al-Ma’idah: 95)

Lafazh بَالِغَ الْكَعْبَةِ merupakan dalil terkuat para ulama nahwu mengenai status nakirah pada idhafah lafzhiyyah.

Kata بَالِغَ adalah isim fa’il yang disandarkan kepada maf’ul bihnya (الْكَعْبَةِ). Sekalipun disandarkan pada kata yang beralif lam makrifat, susunan بَالِغَ الْكَعْبَةِ tetap dihukumi nakirah. Buktinya, lafazh ini berkedudukan sebagai sifat (na’at) bagi kata هَدْيًا yang berstatus nakirah manshub.

2. Syahid Idhafah Lafzhiyyah Disandarkan pada Dhomir (QS. Al-Ahqaf: 24)

قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا

Artinya: “Mereka berkata: ‘Inilah awan yang akan menghujani kita’…” (QS. Al-Ahqaf: 24)

Lafazh مُمْطِرُنَا tersusun dari isim fa’il (مُمْطِرٌ) yang disandarkan kepada kata ganti dhomir (نَا). Kendati dhomir tergolong isim makrifat, kata مُمْطِرُنَا tetap berstatus nakirah karena bermakna masa mendatang (istiqbal) sehingga tergolong idhafah lafzhiyyah. Dengan status nakirah tersebut, kata ini sah menjadi na’at bagi kata عَارِضٌ yang berstatus nakirah marfu’.

3. Syahid Idhafah Lafzhiyyah Kemasukan Alif Lam (QS. Al-Hajj: 35)

الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, dan orang-orang yang mendirikan shalat…” (QS. Al-Hajj: 35)

Lafazh وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ asalnya adalah الْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ. Huruf nun pada jamak mudzakkar salim dibuang untuk meringankan bacaan (takhfif). Ayat ini menjadi dalil kaidah bahwa huruf alif lam (الـ) diperbolehkan masuk pada mudhaf dalam idhafah lafzhiyyah apabila mudhaf berupa jamak mudzakkar salim.

4. Syahid Idhafah Maknawiyyah (QS. Al-Fatihah: 2)

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)

Lafazh رَبِّ الْعَالَمِينَ adalah contoh sempurna dari idhafah maknawiyyah (idhafah mahdhah). Kata رَبِّ disandarkan kepada isim makrifat الْعَالَمِينَ, sehingga memperoleh faedah ta’rif penuh dan sah berkedudukan sebagai na’at bagi Lafzhul Jalalah (لِلَّهِ) yang makrifat.

5. Tinjauan Kritis Sifat Bermakna Madhi (QS. Fathir: 1)

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا

Artinya: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan para malaikat sebagai utusan-utusan…” (QS. Fathir: 1)

Sebagian penuntut ilmu kerap keliru mengira lafazh فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ dan جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ sebagai idhafah lafzhiyyah karena keduanya berbentuk isim fa’il tunggal (mufrad). Padahal, kedua lafazh ini berkedudukan sebagai na’at bagi Lafzhul Jalalah (لِلَّهِ) yang berstatus makrifat.

Ulama nahwu menegaskan bahwa idhafah di sini adalah idhafah maknawiyyah mahdhah, karena penciptaan semesta dan pengangkatan malaikat bermakna masa lampau (al-madhi). Ketika isim sifat bermakna masa lampau, amalnya gugur dan penyandarannya menghasilkan pemakrifatan (ta’rif) murni sehingga sah menjadi na’at bagi isim makrifat.

Hukum Mudhaf Terkait dan Pembahasan Lanjutan

Setelah memahami perbedaan kedua ragam idhafah ini, aturan teknis mengenai perubahan bentuk mudhaf juga perlu diperhatikan. Bagi pembaca yang ingin mempelajari ketentuan i’rob, syarat pembuangan nun atau tanwin, serta kaidah penggabungan alif lam secara lengkap, silakan membaca kajian mengenai hukum mudhaf dan aturan-aturan penting dalam susunan idhafah.

Kesimpulan

Perbedaan antara idhafah maknawiyyah dan idhafah lafzhiyyah berpijak pada hakikat tujuan penyandarannya. Idhafah maknawiyyah (mahdhah) berorientasi pada pencapaian faidah makna hakiki, yaitu mengubah mudhaf menjadi makrifat (ta’rif) atau mengkhususkannya (takhsis), dengan ciri utama mudhaf bukan berupa sifat yang beramal pada mudhaf ilaihnya serta tidak boleh dimasuki alif lam.

Sebaliknya, idhafah lafzhiyyah (ghairu mahdhah) berorientasi pada peringan ucapan (takhfif) melalui pembuangan tanwin atau huruf nun, di mana mudhaf berupa isim sifat musytaq yang beramal pada mudhaf ilaihnya dan selamanya berstatus nakirah murni. Memahami kedua perbedaan ini sangat penting agar santri dan pembaca tidak keliru ketika menentukan kedudukan i’rob, kesesuaian na’at-man’ut, serta syarat hal dalam membaca teks Arab maupun ayat Al-Qur’an.