Tradisi Membaca Surah Yasin di Malam Jumat

Setiap malam Jumat, banyak kaum Muslimin di berbagai penjuru tanah air rutin mengisi waktu dengan membaca surat Yasin. Ini telah menjadi kebiasaan yang hidup dan lestari di tengah masyarakat. Ada yang membacanya secara individu di rumah, ada pula yang melakukannya bersama dalam majelis—baik di masjid, surau, maupun rumah warga. Kegiatan ini kerap disebut “Yasinan”.

Namun, meski sudah mengakar kuat dalam tradisi, tidak sedikit pula yang mempertanyakan dasar keagamaannya. Mereka bertanya: Apakah benar ada dalil yang menganjurkan membaca surat Yasin di malam Jumat? Ataukah ini hanya tradisi tanpa sandaran syar’i?

Tradisi Yasinan di Masyarakat

Yasinan - NU Online

Yasinan bukanlah hal baru. Di banyak desa dan lingkungan urban, jamaah Yasinan biasa digelar secara rutin setiap Kamis malam. Surat Yasin dibaca secara berjamaah, seringkali diiringi doa-doa, tahlil, dan bahkan pengajian. Bagi sebagian orang, Yasinan adalah ekspresi kecintaan terhadap Al-Qur’an sekaligus momen berkumpul yang sarat nilai spiritual.

Namun, tidak sedikit pula yang bersikap kritis. Mereka berpendapat bahwa mengkhususkan bacaan Yasin di malam Jumat tidak memiliki dasar dalam hadits-hadits yang kuat. Yang paling sering dikutip sebagai rujukan untuk amalan malam Jumat justru adalah surat al-Kahfi.

Antara Surat Al-Kahfi dan Surat Yasin

Memang, dalam banyak kitab fiqih dan hadits, anjuran yang paling sering disebut untuk malam Jumat adalah membaca surat al-Kahfi. Hadits-hadits tentangnya cukup banyak, dan sebagian besar bahkan mencapai derajat shahih. Misalnya, dalam riwayat dari Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan terpancar cahaya untuknya antara dua Jumat.”
(HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi; disahihkan oleh banyak ulama hadits)

Karena itu, tidak heran jika surat al-Kahfi menjadi bacaan populer di malam dan hari Jumat. Tapi apakah itu berarti hanya surat al-Kahfi saja yang memiliki keutamaan di malam Jumat? Di sinilah letak keragaman pandangan ulama.

Pandangan Ulama tentang Surat Yasin di Malam Jumat

Syekh Abdul Ra’uf al-Manawi, seorang ulama besar dalam bidang hadits, memberi catatan penting dalam kitabnya Faydl al-Qadir saat menjelaskan hadits-hadits dalam al-Jami’ al-Shaghir. Ia menekankan bahwa:

“Anggapan bahwa hanya surat al-Kahfi yang dianjurkan untuk dibaca di malam dan hari Jumat adalah tidak tepat.”

Menurutnya, ada beberapa hadits yang menyebut keutamaan membaca surat-surat lain selain al-Kahfi, termasuk al-Baqarah, Ali Imran, al-Shaffat, dan tentu saja surat Yasin.

Salah satu hadits yang dijadikan rujukan tentang keutamaan bacaan surat Yasin adalah hadits berikut:

من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله
“Barang siapa membaca surat Yasin dan al-Shaffat di malam Jumat, Allah akan mengabulkan permintaannya.”
(HR. Abu Daud, dari al-Habr)

Namun, hadits ini mengandung sanad yang terputus (munqathi’), yang berarti ia termasuk hadits lemah (da’if). Al-Manawi sendiri mengakui kelemahan sanad tersebut, tapi ia juga tidak langsung menolaknya secara mutlak.

Bolehkah Mengamalkan Hadits Lemah?

Inilah poin yang sering menjadi perdebatan. Sebagian orang beranggapan bahwa hadits lemah harus ditinggalkan. Namun, mayoritas ulama ahli hadits dan fiqih memiliki pandangan berbeda.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, salah satu otoritas dalam mazhab Syafi’i, menjelaskan dalam kitabnya al-Fatâwâ al-Kubrâ al-Fiqhiyyah:

“Hadits yang lemah, mursal, munqathi’, mu’dlal, dan mauquf boleh diamalkan dalam fadlâil al-a’mâl (keutamaan amal), menurut kesepakatan para ulama.”

Dengan syarat:

  1. Hadits tersebut bukan termasuk hadits palsu (maudhu’),

  2. Tidak digunakan untuk menetapkan hukum halal-haram,

  3. Hanya dipakai untuk mendorong semangat dalam beramal (motivasi).

Berdasarkan prinsip ini, maka meskipun hadits tentang keutamaan membaca surat Yasin di malam Jumat tergolong lemah, ia tetap boleh diamalkan, khususnya karena isinya menyangkut keutamaan, bukan hukum syariat.

Tradisi yang Tidak Terlepas dari Nilai

Membaca surat Yasin di malam Jumat mungkin tidak memiliki landasan yang sekuat surat al-Kahfi, namun bukan berarti amalan tersebut salah. Dalam tradisi keilmuan Islam, hadits-hadits da’if yang berbicara soal keutamaan amal justru sangat luas digunakan oleh para ulama untuk memotivasi umat dalam beribadah.

Yasinan, sejauh tidak diyakini sebagai kewajiban atau menggantikan ibadah yang lain, merupakan bentuk kecintaan terhadap Al-Qur’an dan sarana untuk mempererat ukhuwah. Bahkan jika dilakukan dengan kesadaran niat yang benar dan pemahaman yang tepat, ia bisa menjadi media untuk menyebarkan semangat Islam yang penuh rahmat.

Akhir Kata

Jika Anda termasuk yang rutin membaca surat Yasin di malam Jumat, teruskanlah dengan niat mengharap ridha Allah. Jika belum terbiasa, tidak ada salahnya memulai. Dan jika memilih untuk membaca surat lain, seperti al-Kahfi, itu pun merupakan pilihan yang sangat dianjurkan dan berpahala besar.

Yang terpenting bukan semata-mata bacaan yang dibaca, tapi rasa cinta terhadap Al-Qur’an, konsistensi dalam ibadah, serta semangat untuk terus memperbaiki diri dalam bingkai tradisi yang bijak dan berbasis ilmu.