Surah As-Sajdah Lengkap dengan Arti, Kandungan, Keutamaan, dan Penjelasan

Surat As-Sajdah (سورة السجدة) merupakan surah ke-32 dalam susunan mushaf Al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 30 ayat dan tergolong surah Makkiyah yang diturunkan di Makkah sebelum peristiwa hijrah.

Dalam pembagian mushaf, Surat As-Sajdah menempati Juz 21, berkedudukan persis setelah Surah Luqman dan sebelum Surah Al-Ahzab.

Kata As-Sajdah memiliki arti “Sujud”, diambil dari ketundukan orang-orang beriman pada ayat ke-15 yang langsung menyungkur bersujud dan bertasbih saat mendengar ayat-ayat Allah. Surah ini juga masyhur dengan nama Alif Lam Mim Tanzil atau Alif Lam Tanzil merujuk pada lafaz pembukanya.

Keberadaan ayat ke-15 menjadikan surah ini istimewa karena memuat salah satu titik ayat sajdah dalam Al-Qur’an, di mana pembaca maupun pendengarnya disunnahkan melaksanakan sujud tilawah. Selain itu, Rasulullah saw. rutin membaca surah ini pada rakaat pertama salat Subuh di hari Jumat.

Artikel qurani ini menguraikan secara lengkap, arti nama, peta tematik per kelompok ayat, cara sujud tilawah beserta lafaz doa ma’tsur, fact-check keutamaan berdasarkan derajat hadits, hingga penjernihan kerancuan nama surah yang kerap tertukar.

Identitas Keterangan
Nama Surah Surat As-Sajdah (سورة السجدة)
Nomor Urut Surah ke-32
Jumlah Ayat 30 ayat (konsensus hitungan Kufiyyin yang lazim di Indonesia)
Klasifikasi Wahyu Makkiyah
Letak Juz Juz 21
Arti Nama Sujud
Nama Lain Alif Lam Mim Tanzil, Alif Lam Tanzil
Letak Ayat Sajdah Ayat 15 (disunnahkan sujud tilawah)
Urutan Penempatan Mushaf Setelah Surah Luqman (31) dan sebelum Surah Al-Ahzab (33)

Daftar Isi

Bacaan Teks Surat As-Sajdah Lengkap

Surat-As-Sajdah

Mari tadarus qs. As-Sajdah secara paripurna dari ayat 1-30 dengan panduan tajwid:

Sebagian besar kaum Muslimin mencari teks Surat As-Sajdah untuk keperluan tilawah harian, hafalan, maupun persiapan menjadi imam salat berjamaah. Agar kekhusyukan membaca mushaf tetap terjaga tanpa terputus oleh ulasan tafsir dan artikel telaah, naskah utuh 30 ayat telah disediakan secara khusus pada portal mushaf digital nahwu.id.

Bagi Anda yang berniat melantunkan ayat demi ayat, menyimak ejaan latin, maupun menelaah terjemahan bahasa Indonesia resmi, silakan membuka rujukan naskah surah as sajdah lengkap di portal mushaf digital kami.

Baca Teks Surah As-Sajdah Per Ayat

Halaman mushaf dirancang bersih dengan font standar Kemenag RI, dilengkapi harakat tajwid yang jelas, terjemahan resmi, serta panduan berhenti yang nyaman dibaca melalui ponsel maupun komputer.

surah as sajdah lengkap

Melalui portal tersebut, Anda dapat melatih bacaan mulai dari blok pembuka ayat 1 sampai 5, berlanjut ke ayat 1 sampai 10, menuju titik ayat sajdah pada ayat 1 sampai 15, hingga tuntas ayat 30. Pemahaman cara berhenti dan memulai bacaan juga dapat Anda pelajari melalui panduan tanda baca Al-Qur’an agar tartil tilawah semakin terjaga.

Arti Nama As-Sajdah dan Hakikat Ketundukan

Kata As-Sajdah (السجدة) secara bahasa berakar dari kata sajada – yasjudu yang bermakna menundukkan diri, condong, atau meletakkan kening ke tanah sebagai tanda penghormatan dan kerendahan diri yang paling dalam. Dalam istilah syariat, sujud adalah rukun ibadah berupa peletakan tujuh anggota badan ke tanah di hadapan Allah Ta’ala sebagai simbol ketundukan total seorang makhluk kepada Sang Khaliq.

Penamaan surah ini dengan As-Sajdah berpijak pada ayat ke-15. Pada ayat tersebut, Allah menyifati orang-orang beriman sejati sebagai hamba yang apabila dibacakan kepada mereka peringatan ayat-ayat suci, mereka tidak menunda dan tidak berpaling. Hati mereka tergetar, fisik mereka merespons dengan menyungkur sujud, lidah mereka bertasbih memuji Rabb, dan batin mereka sepenuhnya bersih dari sifat angkuh.

Selain nama As-Sajdah, surah ini sejak masa kenabian dikenal luas dengan sebutan Alif Lam Mim Tanzil (الم تَنْزِيلُ) atau disingkat Alif Lam Tanzil. Penamaan ini merujuk langsung pada dua kata pertama yang mengawali surah, yaitu huruf muqaththa’ah Alif Lam Mim pada ayat 1 dan kata Tanzil pada ayat 2. Sebutan inilah yang paling kerap digunakan para sahabat dalam hadits-hadits sahih ketika menceritakan kebiasaan Rasulullah ﷺ mengimami salat Subuh di hari Jumat.

Kandungan Pokok Surat As-Sajdah dan Pembagian Tematik

Meskipun tergolong surah yang ringkas dengan 30 ayat, susunan tematik Surat As-Sajdah mencakup pokok-pokok akidah Islamiyah yang padat. Alur pembahasannya bergerak secara teratur dari pembuktian wahyu, penciptaan alam semesta, asal-usul manusia, kepastian hari kebangkitan, pembedaan nasib mukmin dan fasik, hingga penegasan tentang kepemimpinan umat. Berikut perincian delapan poros tematiknya:

1. Keotentikan Wahyu Al-Qur’an (Ayat 1–3)

Surah ini dibuka dengan penegasan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan langsung dari Rabb semesta alam tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Penegasan ini sekaligus meruntuhkan tuduhan kaum musyrikin Quraisy yang menuduh bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah mengarang dan mereka-reka isi wahyu. Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran mutlak yang diutus sebagai peringatan bagi kaum yang belum pernah didatangi rasul sebelumnya.

2. Penciptaan Alam dan Pengaturan Urusan (Ayat 4–6)

Allah memaparkan kekuasaan-Nya yang menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy dengan kemegahan yang layak bagi-Nya. Manusia diingatkan bahwa mereka tidak memiliki pelindung maupun pemberi syafaat selain Allah.

Pada ayat ke-5, Allah menegaskan kekuasaan-Nya mengatur seluruh roda alam semesta dengan ungkapan yang sangat menggetarkan:

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. As-Sajdah: 5)

Lafazh Yudabbirul amra (يُدَبِّرُ الْأَمْرَ) menggunakan bentuk fi’il mudhari’ (kata kerja bentuk sedang dan akan datang) yang menunjukkan kesinambungan tak terputus. Allah tidak membiarkan alam semesta berjalan sendirian; Dia senantiasa menata, merencanakan, dan mengendalikan setiap takdir makhluk dari singgasana langit tertinggi hingga lapisan bumi terbawah. Segala ketetapan kembali kepada-Nya dalam ukuran waktu yang melampaui imajinasi manusia.

3. Kesempurnaan Penciptaan Manusia (Ayat 7–9)

Kelompok ayat ini sering ditelaah karena menguraikan tahapan biologi penciptaan manusia secara berjenjang. Allah memulai penciptaan manusia pertama, yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam, dari sari pati tanah (thin). Setelah itu, kelangsungan keturunan manusia diciptakan dari saripati air yang hina (air mani atau nutfah).

Allah kemudian menyempurnakan bentuk fisiknya, meniupkan ruh ciptaan-Nya ke dalam jasad janin, dan melengkapinya dengan tiga instrumen kesadaran utama: pendengaran (as-sam’), penglihatan (al-abshar), dan hati nurani akal pikiran (al-af’idah). Penutup ayat 9 memberikan teguran halus bahwa betapa sedikitnya manusia yang bersyukur atas anugerah panca indera yang luar biasa tersebut.

4. Kepastian Hari Kebangkitan dan Penyesalan di Akhirat (Ayat 10–14)

Surah ini memotret keraguan orang-orang kafir yang berkata, “Apakah apabila kami telah lenyap hancur di dalam tanah, kami benar-benar akan dibangkitkan kembali dalam ciptaan yang baru?” Allah menjawab bahwa malaikat maut yang diserahi tugas mencabut nyawa pasti akan mewafatkan mereka, lalu mereka digiring kembali kepada Rabb mereka.

Ayat ke-12 menggambarkan suasana penyesalan yang sangat mengharukan ketika orang-orang yang berbuat dosa menundukkan kepala di hadapan Allah seraya merintih memohon untuk dikembalikan ke dunia agar dapat beramal saleh (Rabbana absharna wa sami’na farji’na na’mal shalihan), namun pintu taubat telah tertutup di akhirat.

5. Karakter Mukmin Sejati: Tahajjud dan Infak (Ayat 15–17)

Setelah menguraikan sifat ketundukan pada ayat ke-15 (ayat sajdah), Allah melanjutkan potret keseharian orang-orang beriman pada ayat ke-16:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, serta mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)

Ungkapan Tatajafa junubuhum ‘anil madhaji’ menggambarkan perlawanan terhadap rasa kantuk di keheningan malam. Mereka rela meninggalkan kenyamanan kasur demi menegakkan salat tahajjud, bermunajat kepada Allah dalam keseimbangan rasa khauf (takut pada dosa dan siksa) serta thama’ (sangat berharap pada rahmat dan surga). Ibadah personal tersebut diiringi dengan kesalehan sosial berupa infak dari harta yang mereka miliki. Balasan bagi amalan tersembunyi ini ditegaskan pada ayat 17, yaitu kebahagiaan jiwa yang belum pernah dilihat mata dan belum pernah terlintas dalam benak manusia.

6. Kontras Balasan Orang Beriman dan Orang Fasik (Ayat 18–22)

Allah menegaskan sebuah prinsip keadilan: tidaklah sama antara orang yang beriman dengan orang yang fasik (durhaka). Bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah menyediakan Surga Tempat Tinggal (Jannatul Ma’wa) sebagai jamuan mulia atas apa yang telah mereka kerjakan. Sebaliknya, tempat kediaman orang-orang fasik adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya.

Pada ayat ke-21, Allah menjelaskan hikmah di balik turunnya cobaan duniawi. Istilah Al-‘adzab al-adna (azab yang lebih dekat) merujuk pada kesulitan hidup, paceklik, bencana alam, atau sakit di dunia. Ini bukan semata hukuman kejam, melainkan sentakan kasih sayang agar manusia tersadar dan bertaubat sebelum datangnya Al-‘adzab al-akbar, yaitu azab akhirat yang kekal.

7. Keteladanan Nabi Musa dan Syarat Kepemimpinan Umat (Ayat 23–25)

Nabi Muhammad ﷺ dihibur dengan kisah Nabi Musa ‘alaihissalam yang menerima Kitab Taurat sebagai petunjuk bagi Bani Israil. Dalam sejarah perjalanan Bani Israil, Allah melahirkan para tokoh pembimbing umat dengan syarat ketat yang diabadikan pada ayat ke-24:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

Kaidah besar ini dirumuskan para ulama tafsir: kesabaran dan keyakinan adalah dua sayap utama untuk meraih kepemimpinan agama. Sabar diperlukan untuk menahan hawa nafsu dan konsisten dalam dakwah, sedangkan keyakinan kokoh diperlukan untuk menolak segala keraguan syubhat.

8. Bukti Kekuasaan Alam dan Hari Keputusan (Ayat 26–30)

Bagian penutup surah mengajak manusia memperhatikan jejak kehancuran generasi masa lalu yang mendustakan rasul. Selain itu, ayat ke-27 mengajak manusia merenungkan bagaimana air hujan dialirkan ke tanah tandus hingga menumbuhkan tanaman pangan untuk hewan ternak dan manusia.

Surah diakhiri dengan peringatan tentang Yaumul Fath (Hari Kemenangan atau Hari Keputusan), hari di mana pengakuan iman dari orang-orang kafir tidak lagi berguna dan mereka tidak lagi diberi penangguhan waktu.

Surat As-Sajdah Ayat 15: Ayat Sajdah dan Sujud Tilawah

Ayat ke-15 adalah pusat otoritas tematik dari surah ini. Melalui ayat inilah nama surah disematkan dan amalan sujud tilawah disyariatkan:

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya orang yang benar-benar beriman kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu, mereka menyungkur sujud dan bertasbih memuji Rabbnya, dan mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. As-Sajdah: 15)

Dalam naskah mushaf, ayat 15 ditandai dengan kubah atau lambang mihrab di tepi halaman serta garis penanda di atas lafaz kharru sujjadan. Ayat ini membedakan secara tegas respons mukmin dari orang kafir: orang beriman langsung menundukkan jasad dan hatinya seraya menyucikan Allah, sedangkan kaum pendusta memalingkan wajah karena kesombongan.

Para ulama menyimpulkan tiga etika utama ketika seorang Muslim mendengarkan ayat ke-15 ini:

  • Kesiapan Batin: Mengakui keagungan firman Allah tanpa membantah.
  • Respons Fisik: Melakukan sujud tilawah sebagai bentuk ketaatan nyata.
  • Zikir Pengagungan: Membaca tasbih, tahmid, dan doa pengakuan atas kelemahan diri di hadapan Sang Maha Kuasa.

Status Hukum Sujud Tilawah Menurut Jumhur Ulama

Mayoritas ulama (Jumhur yang mencakup madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali) berpendapat bahwa sujud tilawah hukumnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), baik bagi orang yang membaca maupun yang mendengarkan. Berbeda dengan pandangan madzhab Hanafi yang menilainya wajib, jumhur ulama berpegang teguh pada atsar sahih Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 1077), pada suatu hari Jumat di atas mimbar, Umar bin Khattab membaca Surah An-Nahl hingga ketika sampai pada ayat sajdah, beliau turun dari mimbar lalu bersujud dan seluruh jamaah ikut bersujud bersama beliau. Namun pada Jumat berikutnya, beliau membaca surah yang sama dan ketika sampai pada ayat sajdah, beliau tidak bersujud seraya berkhotbah menegaskan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ، فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ، وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kita melewati ayat sajdah. Barang siapa yang bersujud maka ia telah berbuat benar, dan barang siapa yang tidak bersujud maka tiada dosa atasnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1077)

Atsar Umar ini terjadi di hadapan para sahabat terkemuka dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya, sehingga menjadi bukti kuat bahwa sujud tilawah bukan kewajiban yang berdosa bila ditinggalkan.

Bagaimana Jika Membaca Ayat Sajdah Tanpa Sujud?

Pertanyaan ini sangat sering ditanyakan jamaah yang sedang tilawah di perjalanan, di kendaraan umum, atau di tempat kerja. Jawabannya tegas dan menenangkan: tilawah Al-Qur’an sama sekali tidak batal dan orang yang membacanya tidak berdosa. Bacaan ayat 15 tetap sah, tetap berpahala, dan tilawah dapat langsung dilanjutkan ke ayat 16.

Seseorang yang tidak sujud karena uzur hanya kehilangan keutamaan sunnah. Jika kondisi memungkinkan, sebagian ulama menganjurkan mengganti sujud tilawah dengan membaca tasbih empat kali: Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar.

Tata Cara Melakukan Sujud Tilawah

Pelaksanaan sujud tilawah dibedakan menjadi dua keadaan: di dalam salat dan di luar salat.

1. Tata Cara di Dalam Salat

Praktik di dalam salat memiliki aturan yang tertata rapi bergantung pada posisi seseorang sebagai imam, makmum, atau munfarid (salat sendirian):

  • Bagi Imam atau Munfarid: Ketika selesai membaca ayat ke-15, langsung bertakbir (Allahu Akbar) tanpa mengangkat tangan, lalu turun melakukan sujud satu kali di lantai. Di dalam sujud, membaca doa sujud tilawah atau tasbih sujud biasa. Setelah itu, bertakbir untuk bangkit berdiri kembali. Sesampainya di posisi berdiri tegak, disunnahkan melanjutkan beberapa ayat sebelum kemudian melakukan ruku’ secara normal.
  • Bagi Makmum: Makmum terikat mutlak dengan imam. Jika imam melakukan sujud tilawah, makmum wajib ikut sujud. Namun jika imam tidak sujud, makmum dilarang bersujud sendirian. Bersujud sendirian ketika imam tetap berdiri dapat membatalkan salat makmum karena menyalahi kesatuan gerakan salat berjamaah.

2. Tata Cara di Luar Salat

Menurut jumhur ulama madzhab empat, sujud tilawah di luar salat memiliki syarat sah sebagaimana salat: suci dari hadas kecil dan besar (berwudhu), menutup aurat, dan menghadap kiblat. Meskipun demikian, terdapat pandangan dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dan sebagian ulama yang membolehkan sujud tilawah spontan tanpa berwudhu jika seseorang tiba-tiba mendengar ayat sajdah.

Urutan gerakannya di luar salat adalah sebagai berikut:

  1. Berniat dalam hati untuk melaksanakan sujud tilawah karena Allah Ta’ala.
  2. Menghadap kiblat, berdiri atau duduk, lalu bertakbir (takbiratul ihram).
  3. Langsung turun melakukan sujud sebanyak satu kali saja.
  4. Membaca doa sujud tilawah di dalam sujud dengan khusyuk.
  5. Bertakbir bangkit dari sujud menuju posisi duduk. Menurut jumhur ulama tidak perlu membaca tasyahud dan tidak perlu salam, meski madzhab Syafi’i menganjurkan mengucap salam satu kali ke kanan.

Bacaan Doa Sujud Tilawah dan Artinya

Ketika bersujud, dianjurkan membaca doa ma’tsur yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ sebagaimana diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam Sunan Abu Dawud (no. 1414) dan Sunan At-Tirmidzi (no. 580) dengan derajat hasan sahih:

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ

Cara Membaca (Latin):
Sajada wajhiya lilladzi khalaqahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu bihaulihi wa quwwatihi.

Artinya:
“Bersujud wajahku kepada Dzat yang menciptakannya, membukakan pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya.”

Jika pembaca belum menghafal doa khusus di atas, sujud tilawah tetap sah dan sempurna dengan membaca zikir sujud yang biasa dibaca saat salat fardhu:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

Latin: Subhana rabbiyal a’la wa bihamdih.
Artinya: “Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi dan dengan memuji-Nya.”

Keutamaan Surat As-Sajdah Berdasarkan Dalil

Banyak tulisan bertebaran mencampuradukkan hadits sahih dengan riwayat fadhail yang sangat lemah. Agar kita beribadah di atas landasan ilmu yang jernih, berikut telaah kritis keutamaan Surat As-Sajdah berdasarkan derajat kesahihan dalilnya:

1. Rutin Dibaca pada Salat Subuh Hari Jumat (Derajat: Sahih)

Membaca Surat As-Sajdah pada salat Subuh di hari Jumat adalah sunnah muakkadah yang memiliki landasan dalil paling kokoh dalam literatur hadits. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الصُّبْحِ يَوْمَ الجُمُعَةِ بِـ {الم تَنْزِيلُ} فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى، وَفِي الثَّانِيَةِ {هَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ}

“Bahwasanya Nabi ﷺ membaca pada salat Subuh di hari Jumat: ‘Alif Lam Mim Tanzil’ (Surat As-Sajdah) pada rakaat pertama, dan pada rakaat kedua membaca: ‘Hal ata ‘alal insani hinum minad dahri’ (Surat Al-Insan).” (HR. Al-Bukhari no. 891 dan Muslim no. 880)

Para ulama seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hikmah pemilihan kedua surah ini bukan semata-mata karena adanya ayat sajdah, melainkan karena keduanya memuat gambaran penciptaan Adam, proses pembentukan manusia, peristiwa hari berbangkit, dan pengumpulan makhluk di padang mahsyar, yang seluruhnya terjadi atau akan terjadi pada hari Jumat.

2. Dibaca Sebelum Tidur Bersama Surat Al-Mulk (Derajat: Riwayat Diperselisihkan)

Terdapat riwayat dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الم تَنْزِيلُ، وَتَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ المُلْكُ

“Bahwasanya Nabi ﷺ tidak tidur hingga beliau membaca Alif Lam Mim Tanzil (Surat As-Sajdah) dan Tabarakalladzi biadihil Mulk (Surat Al-Mulk).” (HR. At-Tirmidzi no. 2892)

Penilaian status hadits ini diperselisihkan oleh para pakar hadits. Sebagian ulama seperti Imam At-Tirmidzi dan ulama peneliti menilainya sahih atau hasan. Namun, sebagian muhaqqiq dan kritikus hadits klasik menilai sanadnya memiliki kelemahan pada rawi Laits bin Abi Sulaim. Amalan membaca As-Sajdah bersama Surat Al-Mulk sebelum tidur tetap baik diamalkan dalam kerangka fadhail amal, namun kita tidak boleh mengklaimnya sebagai sunnah pasti yang setara dengan hadits Subuh Jumat.

3. Hadits Setan Menangis Saat Manusia Bersujud (Derajat: Sahih)

Dalam Shahih Muslim (no. 81), Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ketika anak Adam membaca ayat sajdah lalu bersujud, setan menyingkir ke sudut seraya menangis dan berkata:

يَا وَيْلَهُ، أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ

“Aduhai celakanya aku! Anak Adam diperintahkan untuk bersujud lalu ia bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku diperintahkan untuk bersujud namun aku membangkang, maka bagiku neraka.” (HR. Muslim no. 81)

Perlu diluruskan: fadhilah ini adalah keutamaan umum pelaksanaan sujud tilawah pada seluruh ayat sajdah di dalam Al-Qur’an, bukan keistimewaan eksklusif milik Surat As-Sajdah semata.

4. Riwayat Fadhail Qs As-Sajdah

Sebagian tulisan populer mencantumkan klaim bahwa membaca As-Sajdah mendatangkan 70 kebaikan, menghapus 70 keburukan, menyamai pahala Lailatul Qadar, atau menyembuhkan penyakit tertentu.

Seluruh klaim semacam ini bersumber dari riwayat yang sanadnya lemah atau bahkan palsu. Kita mencintai dan mengkaji Surat As-Sajdah karena kedudukannya yang mulia sebagai kalamullah dan sunnah Rasulullah ﷺ yang sahih, bukan berdasarkan klaim tanpa sanad.

Amalan / Klaim Keutamaan Tingkat Kekuatan Dalil Keterangan & Sikap Ilmiah
Membaca pada Salat Subuh Hari Jumat Sahih HR. Al-Bukhari (891) dan Muslim (880). Sunnah dibaca utuh pada rakaat pertama berdampingan dengan Surat Al-Insan di rakaat kedua.
Membaca Sebelum Tidur Bersama Al-Mulk Riwayat Diperselisihkan HR. At-Tirmidzi (2892) dari Jabir ra. Sebagian muhaddits menshahihkan, sebagian menilai sanadnya dhaif. Boleh diamalkan tanpa meyakininya sebagai sunnah mutlak.
Membuat Setan Menangis Tersedu Sahih HR. Muslim (81). Merupakan keutamaan umum sujud tilawah pada seluruh ayat sajdah, bukan fadhilah nama surah semata.
Klaim 70 Kebaikan & 70 Derajat Lemah / Tidak Sahih Riwayat fadhail tanpa jalur sanad yang kuat. Tidak boleh diposisikan setara dengan hadits sahih Bukhari-Muslim.
Klaim Pelindung dari Siksa Kubur Salah Penempatan Keutamaan penangkal siksa kubur berdalil sahih untuk Surat Al-Mulk, bukan Surat As-Sajdah.

Perbedaan Surat As-Sajdah dan Surat Ha Mim Sajdah

Dalam pencarian literatur Islam dan kueri internet, banyak pembaca bingung membedakan antara Surat As-Sajdah dan Surat Ha Mim Sajdah. Kedua nama ini merujuk pada dua surah yang sepenuhnya berlainan dalam Al-Qur’an.

Surat As-Sajdah adalah surah ke-32 yang terdiri atas 30 ayat, diawali dengan huruf Alif Lam Mim, dan menempati Juz 21. Sedangkan Surat Ha Mim Sajdah adalah salah satu nama masyhur untuk Surat Fussilat, yaitu surah ke-41 yang terdiri atas 54 ayat, diawali dengan huruf Ha Mim, dan berada di Juz 24 serta 25.

Surat Fussilat dinamai Ha Mim Sajdah oleh para ulama terdahulu untuk membedakannya dari enam surah Hawamim lainnya (Ghafir, Asy-Syura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan, Al-Jatsiyah, Al-Ahqaf), karena hanya di dalam surah Fussilat-lah terdapat ayat sajdah (pada ayat ke-37 atau 38).

Penjernihan ini sekaligus menjawab pencarian populer “surah hamim sajdah ayat 44”. Maksud dari pencarian tersebut adalah Surat Fussilat ayat 44 yang berbunyi:

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

“Katakanlah: ‘Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.'” (QS. Fussilat: 44)

Contoh ayat di atas tidak ada dalam Surat As-Sajdah karena Surat As-Sajdah selesai pada ayat ke-30. Hal ini juga meluruskan kekeliruan pencarian “As-Sajdah ayat 32”. Angka 32 adalah nomor urut surah dalam mushaf Al-Qur’an, bukan nomor ayat.

Karakteristik Pembeda Surat As-Sajdah Surat Ha Mim Sajdah (Fussilat)
Nomor Urut Surah Surah ke-32 Surah ke-41
Nama Resmi Mushaf As-Sajdah (السجدة) Fussilat (فصلت)
Huruf Pembuka Alif Lam Mim (الم) Ha Mim (حم)
Jumlah Ayat 30 ayat 54 ayat
Posisi Juz Juz 21 Juz 24 dan Juz 25
Nomor Ayat Sajdah Ayat ke-15 Ayat ke-38 (menurut sebagian ulama ayat 37)
Jawaban Kueri Khusus Tidak memiliki ayat 32 (surah tuntas di ayat 30). Memuat ayat 44 tentang petunjuk dan penawar.

Daftar 15 Lokasi Ayat Sajdah dalam Al-Qur’an

Dalam naskah mushaf standar yang banyak beredar di dunia Islam, terdapat 15 lokasi ayat sajdah. Penghitungan 15 tempat ini merupakan pedoman yang dipegang oleh madzhab Syafi’i dan madzhab Hambali. Sebagai wawasan fikih, madzhab Hanafi menghitung 14 tempat (tidak menghitung sujud kedua pada Surah Al-Hajj), sedangkan madzhab Maliki menetapkan 11 tempat (tidak memasukkan ayat sajdah pada surah-surah mufashshal di bagian akhir mushaf).

Berikut daftar lengkap 15 lokasi ayat sajdah dalam Al-Qur’an, dengan posisi Surat As-Sajdah ayat 15 sebagai salah satu titik yang disepakati oleh seluruh ulama:

No Nama Surah Nomor Surah Nomor Ayat Letak Juz Keterangan
1 Al-A’raf Surah ke-7 Ayat 206 Juz 9 Ayat terakhir surah
2 Ar-Ra’d Surah ke-13 Ayat 15 Juz 13 Sujud bayang-bayang
3 An-Nahl Surah ke-16 Ayat 49–50 Juz 14 Ketundukan malaikat
4 Al-Isra’ Surah ke-17 Ayat 107–109 Juz 15 Sujud sambil menangis
5 Maryam Surah ke-19 Ayat 58 Juz 16 Sujud para nabi pilihan
6 Al-Hajj Surah ke-22 Ayat 18 Juz 17 Sajdah pertama Al-Hajj
7 Al-Hajj Surah ke-22 Ayat 77 Juz 17 Sajdah kedua Al-Hajj
8 Al-Furqan Surah ke-25 Ayat 60 Juz 19 Perintah sujud Ar-Rahman
9 An-Naml Surah ke-27 Ayat 25–26 Juz 19 Kisah burung Hud-hud
10 As-Sajdah Surah ke-32 Ayat 15 Juz 21 Pusat bahasan surah ini
11 Shad Surah ke-38 Ayat 24 Juz 23 Sujud taubat Nabi Dawud
12 Fussilat Surah ke-41 Ayat 38 Juz 24 Ha Mim Sajdah
13 An-Najm Surah ke-53 Ayat 62 Juz 27 Ayat penutup surah
14 Al-Insyiqaq Surah ke-84 Ayat 20–21 Juz 30 Teguran bagi pembangkang
15 Al-‘Alaq Surah ke-96 Ayat 19 Juz 30 Ayat penutup surah

Karakter Bacaan Murattal Syaikh Sudais dan Syaikh Shuraim

Bagi jutaan jamaah haji dan umrah yang pernah beribadah di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah, lantunan Surat As-Sajdah pada salat Subuh di hari Jumat selalu menghadirkan kenangan spiritual yang mendalam. Dua nama imam besar yang bacaannya paling melekat di hati kaum Muslimin adalah Syaikh Abdurrahman As-Sudais dan Syaikh Saud Asy-Syuraim.

Syaikh Abdurrahman As-Sudais membawakan Surat As-Sajdah dengan karakter vokal yang lantang, berwibawa, dan sarat penghayatan emosional. Langgam khas Hijazi yang beliau bawakan memiliki ketukan nada yang tegas pada ayat-ayat penciptaan, lalu melunak dengan nada haru saat melantunkan penyesalan orang kafir pada ayat 12. Puncaknya terjadi ketika beliau sampai pada ayat ke-15: lantunan takbir beliau yang menggelegar mengiringi jutaan jamaah di sekeliling Ka’bah bersujud serempak ke lantai marmer Masjidil Haram, menciptakan suasana keagungan ibadah yang membekas di ingatan.

Sementara itu, Syaikh Saud Asy-Syuraim menghadirkan keindahan murattal dengan gaya yang berbeda. Bacaan beliau bercirikan tempo hadr yang teratur, lincah, namun sangat khusyuk dan jernih. Artikulasi makhraj huruf dan hukum tajwid beliau mengalir tanpa jeda yang berlebihan, sangat serasi dengan keheningan fajar Subuh. Langgam bacaan Syaikh Syuraim sangat dianjurkan sebagai rujukan bagi para imam masjid di tanah air yang ingin menghidupkan sunnah membaca Surat As-Sajdah secara utuh 30 ayat di rakaat pertama tanpa membebani jamaah dengan durasi salat yang terlampau panjang.

Tanya Jawab Seputar Surat As-Sajdah

Surat As-Sajdah surah ke berapa dan berapa jumlah ayatnya?

Surat As-Sajdah adalah surah ke-32 dalam Al-Qur’an, terdiri atas 30 ayat menurut hitungan mayoritas ulama dan mushaf standar Indonesia. Surah ini berada di Juz 21 dan tergolong surah Makkiyah.

Mengapa surah ini dinamakan As-Sajdah?

Surah ini dinamakan As-Sajdah (Sujud) karena pada ayat ke-15 terdapat sifat orang-orang beriman yang langsung bersujud dan bertasbih memuji Allah saat mendengar ayat-ayat-Nya, yang disyariatkan sebagai titik sujud tilawah.

Kapan waktu yang paling dianjurkan untuk membaca Surat As-Sajdah?

Waktu yang memiliki landasan hadits sahih paling kokoh adalah pada rakaat pertama salat Subuh di hari Jumat. Adapun membaca surah ini sebelum tidur bersama Surat Al-Mulk bersumber dari riwayat yang diperselisihkan status sanadnya, namun tetap diperbolehkan dalam rangka memperbanyak tilawah harian.

Apakah bacaan Al-Qur’an batal jika membaca ayat sajdah tanpa sujud?

Tidak batal. Sujud tilawah hukumnya sunnah muakkadah menurut jumhur ulama. Meninggalkannya tidak mendatangkan dosa dan tidak membatalkan tilawah, meskipun orang yang bersangkutan luput dari pahala sunnah tersebut.

Apakah harus berwudhu untuk melakukan sujud tilawah di luar salat?

Menurut jumhur ulama madzhab empat, sujud tilawah di luar salat mensyaratkan suci dari hadas (berwudhu), menutup aurat, dan menghadap kiblat sebagaimana syarat salat. Namun, sebagian ulama memperbolehkan sujud langsung secara spontan tanpa wudhu jika seseorang mendengarnya tiba-tiba.

Apakah benar ada Surat As-Sajdah ayat 32?

Tidak ada. Surat As-Sajdah hanya terdiri atas 30 ayat. Pencarian “As-Sajdah ayat 32” merupakan kekeliruan antara nomor urut surah dalam mushaf (surah ke-32) dan nomor urut ayat.

Kesimpulan

Surat As-Sajdah merupakan surah ke-32 dalam Al-Qur’an yang sarat pesan tauhid, pembuktian wahyu, dan pengingat akan hari akhirat. Inti pesan surah ini terletak pada ketundukan seorang hamba di hadapan kebesaran Allah Ta’ala, sebagaimana tercermin dalam gambaran ayat ke-15 yang menjadi penanda ayat sajdah dan disunnahkannya sujud tilawah.

Mengamalkan sunnah membaca Surat As-Sajdah pada salat Subuh di hari Jumat merupakan amalan yang bersandar pada hadits sahih Al-Bukhari dan Muslim. Sementara itu, pemahaman yang cermat terhadap perbedaan antara Surat As-Sajdah (surah 32) dan Surat Ha Mim Sajdah (Fussilat, surah 41) menjaga kita dari kekeliruan memahami naskah suci Al-Qur’an.