Surat Maryam ayat 23 menggambarkan detik-detik genting persalinan Sayyidah Maryam ketika rasa sakit kontraksi melahirkan memaksanya bersandar ke pangkal pohon kurma hingga terlontar rintihan manusiawi karena khawatir terhadap fitnah agama. Ayat ini memotret pertemuan antara rasa sakit fisik, kesendirian, dan kepasrahan seorang hamba di titik nadir ujian hidup sebelum datangnya pertolongan Allah Ta’ala.
Sebagai kelanjutan dari kisah keteladanan Nabi Zakariya dalam Surat Maryam 1-11, ayat ke-23 ini memperlihatkan puncak ujian batin dan fisik yang dialami oleh Sayyidah Maryam menjelang kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam. Di balik rintihan tersebut, para ulama tafsir dan pakar gramatika bahasa Arab menemukan kekayaan makna, rahasia pemilihan kata, serta keteguhan iman yang mendalam.
Bacaan Arab, Latin, dan Terjemahan Surat Maryam Ayat 23

Berikut adalah bacaan lengkap ayat ke-23 dalam Surat Maryam beserta tulisan latin dan terjemahannya:
فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا
“Lalu rasa sakit melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: ‘Wahai, betapa baiknya sekiranya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak diperhatikan lagi dilupakan.'” (QS. Maryam: 23)
Surat Maryam Ayat 23 Latin Fa-aja’ahal-makhadhu ila jidz’in-nakhlati qalat ya laitani mittu qabla hadza wa kuntu nasyan mansiyya.
Isi ayat ini memotret dua penderitaan besar yang menghimpit Sayyidah Maryam sekaligus: derita biologis berupa kontraksi kelahiran anak pertama tanpa pertolongan medis, serta derita psikologis berupa bayang-bayang cercaan kaumnya atas kelahiran bayi tanpa kehadiran seorang suami.
Tabel Rincian I’rob dan Tarkib Kata per Kata
Berdasarkan kitab I’rab al-Qur’an wa Bayanuhu karya Muhyiddin Ad-Darwisy dan kitab-kitab i’rob Al-Qur’an mu’tabar, susunan gramatika pada Surat Maryam ayat 23 diuraikan kata per kata sebagai berikut:
| Lafazh / Kata | Jenis Kalimah | Kedudukan (I’rob) | Penjelasan dan Tanda |
|---|---|---|---|
| فَـ | Huruf ‘Athaf / Isti’naf | Mabni Fathah | Huruf penghubung yang merangkaikan peristiwa persalinan dengan kehamilan pada ayat sebelumnya. |
| أَجَاءَ | Fi’il Madhi | Mabni Fathah | Fi’il muta’addi mengikuti wazan af’ala dari akar kata ja’a, bermakna alja’a (mendesak atau memaksa). |
| ـهَا | Isim Dhomir Muttashil | Maf’ul Bih Muqaddam | Mabni sukun fi mahalli nashbin, dhomir mu’annats ghaibah yang merujuk kepada Sayyidah Maryam. |
| الْمَخَاضُ | Isim Mufrad | Fa’il Mu’akhkhar | Marfu’ dengan tanda dhommah zhahirah di huruf dhad, merupakan subjek yang mendesak Maryam. |
| إِلَىٰ | Huruf Jar | Mabni Sukun | Huruf jar yang menunjukkan batas tujuan akhir (muntahal-ghayah), muta’alliq dengan fi’il aja’a. |
| جِذْعِ | Isim Mufrad | Majrur bi-Ila & Mudhaf | Majrur dengan tanda kasrah zhahirah di huruf ‘ain, sekaligus menjadi mudhaf bagi kata berikutnya. |
| النَّخْلَةِ | Isim Mufrad | Mudhaf Ilaih | Majrur dengan tanda kasrah zhahirah di huruf ta marbuthah. |
| قَالَتْ | Fi’il Madhi | Mabni Fathah | Disertai ta’ ta’nits sakinah; fa’il-nya dhomir mustatir jawazan taqdiruhu hiya (Sayyidah Maryam). |
| يَا | Huruf Nida’ / Tanbih | Mabni Sukun | Digunakan untuk tanbih (peringatan) atau rintihan penyesalan (munada dibuang, taqdirnya ya nafsi). |
| لَيْتَنِي | Huruf Musyabbah bil Fi’il | Harf Nasakh (Tamanni) | Laita menashabkan isim; huruf nun wiqayah menjaga lafal; dhomir ya mutakallim fi mahalli nashbin isim laita. |
| مِتُّ | Fi’il Madhi + Fa’il | Mabni Sukun | Ta mutakallim mabni dhommah fi mahalli raf’in fa’il; jumlah fi’liyyah fi mahalli raf’in khobar laita. |
| قَبْلَ | Isim Dhorof Zaman | Manshub & Mudhaf | Manshub dengan fathah zhahirah, muta’alliq dengan fi’il mittu, berkedudukan sebagai mudhaf. |
| هَٰذَا | Isim Isyarah | Mudhaf Ilaih | Mabni sukun fi mahalli jarrin mudhaf ilaih, mengisyaratkan peristiwa kehamilan dan fitnah yang dihadapi. |
| وَكُنْتُ | Fi’il Madhi Naqish | Mabni Sukun | Diawali wawu ‘athaf; kaana merafa’kan isim; ta mutakallim mabni dhommah fi mahalli raf’in isim kaana. |
| نَسْيًا | Isim Masdar | Khobar Kaana | Manshub dengan tanda fathah zhahirah, bermakna sesuatu yang remeh, terbuang, dan dilupakan. |
| مَنْسِيًّا | Isim Maf’ul | Na’at (Sifat) | Mengikuti nasyan dalam hal nashab dengan tanda fathah zhahirah, menegaskan keadaan benar-benar dilupakan. |
Gramatika dan Balaghah Surat Maryam Ayat 23
Pemilihan kata dalam ayat ini memiliki ketelitian makna yang luar biasa. Setiap diksi menggambarkan adegan gerak fisik dan suasana psikologis yang sangat hidup:
1. Konstruksi Fa-Aja’aha dan Fa’il Al-Makhadh
Lafazh fa-aja’aha dibentuk dari akar kata ja’a yang mendapatkan tambahan hamzah di awal (wazan af’ala).
Dalam kaidah sharaf, penambahan hamzah ini berfungsi untuk ta’diyah (menjadikan fi’il lazim menjadi muta’addi).
Makna asalnya “membuat seseorang datang”, namun oleh para pakar bahasa Arab dan mufassir diartikan sebagai alja’aha—yaitu mendesak, memaksa, atau menggiring seseorang hingga tak punya pilihan lain selain menuju ke tempat tersebut.
Yang sangat menarik secara balaghah, subjek (fa’il) dari kata kerja ini adalah al-makhadh (rasa sakit kontraksi melahirkan).
Konstruksi itu bukan menggambarkan Maryam sedang berjalan santai mencari tempat beristirahat, melainkan rasa sakit persalinan yang amat hebatlah yang menggerakkan tubuhnya dan memaksanya terdesak menuju pohon kurma untuk mencari pegangan.
2. Makna Ila Jidz’in Nakhlah (Pangkal Pohon Kurma)
Al-Qur’an memilih kata jidz’in nakhlah, bukan sekadar kata pohon atau cabang. Kata jidz’ berarti batang pokok pohon yang kokoh dan berurat kuat ke tanah. Pilihan kata ini menunjukkan bahwa ketika kontraksi persalinan memuncak, Maryam memerlukan tumpuan fisik yang amat kokoh untuk berpegangan atau bersandar guna menahan goncangan rasa sakit yang dirasakannya.
Di samping itu, pohon kurma kelak menjadi bagian dari rangkaian pertolongan nyata Allah Ta’ala pada ayat-ayat berikutnya. Setelah persalinan, Maryam diperintahkan menggoyangkan batang kurma tersebut agar menjatuhkan buah kurma basah yang matang sebagai asupan makanan bergizi tinggi.
3. Ungkapan Ya Laitani Mittu Qabla Hadza: Rintihan Suci Menghadapi Fitnah
Ucapan Maryam menggunakan huruf laita yang berfungsi untuk tamanni (mengharapkan sesuatu yang mustahil terwujud). Rintihan “Wahai, sekiranya aku mati sebelum ini” bukanlah wujud keputusasaan terhadap rahmat Allah SWT, melainkan kekhawatiran yang sangat mendalam terhadap fitnah agama (al-fitnah fid-din).
Imam Ibnu Katsir dan Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa Sayyidah Maryam adalah seorang wanita ahli ibadah dari keluarga mulia yang suci. Ia sangat mencemaskan tuduhan keji berupa perzinaan yang akan dilontarkan masyarakat kepadanya saat kembali membawa bayi tanpa suami. Maryam mengkhawatirkan fitnah tersebut dapat mencemarkan kehormatan kaum beriman dan membuat orang-orang terjerumus ke dalam dosa besar akibat berburuk sangka serta menuduh wanita suci berzina.
4. Nasyan Mansiyya dan Ragam Qira’atnya
Ungkapan penutup ayat, nasyan mansiyya, memiliki kekayaan semantik yang mendalam. Dalam qira’at Al-Qur’an terdapat dua bacaan yang mutawatir:
- Qira’at Fathah Nun (Nasyan): Merupakan bacaan mayoritas ulama qira’at (termasuk Qira’at Imam ‘Ashim riwayat Hafsh yang umum dibaca di Indonesia).
- Qira’at Kasrah Nun (Nisyan): Merupakan bacaan Imam Hamzah, Al-Kisa’i, dan Khalaf al-‘Asyir.
Keduanya merupakan dialek bahasa Arab yang sah, serupa dengan perbedaan kata watr dan witr.
Menurut penjelasan Imam Al-Qurthubi, kata nasy merujuk pada benda kecil, remeh, dan tak berharga yang tertinggal dalam perjalanan (seperti potongan kain usang atau tali patah) yang dibuang begitu saja tanpa pernah dicari lagi.
Maryam berharap seandainya keberadaannya di dunia ini tidak pernah diperhitungkan sama sekali, sehingga tidak ada seorang pun yang menyebut namanya atau menjadikannya bahan gunjingan fitnah.
Tafsir Para Ulama Mengenai Keadaan Sayyidah Maryam
Kajian terhadap para mufassir klasik memberikan pemahaman yang utuh mengenai situasi yang terekam dalam ayat ke-23 ini:
1. Tafsir Ath-Thabari (Jami’ al-Bayan):
Imam Ath-Thabari mengutip keterangan para ulama salaf bahwa rintihan Sayyidah Maryam lahir karena rasa malu yang amat besar di hadapan manusia serta kekhawatiran masyarakat meragukan kejujuran pengakuannya. Ath-Thabari juga menegaskan makna bahasa aja’aha yang berarti mendesak dan memaksa, dengan mengutip syair Arab kuno sebagai contoh penguat maknanya.
2. Tafsir Ibnu Katsir:
Imam Ibnu Katsir menegaskan bahwa ucapan Maryam menjadi dasar pembahasan para ulama mengenai kebolehan mengharapkan kematian ketika seseorang sangat mengkhawatirkan timbulnya fitnah terhadap agamanya. Maryam menyadari bahwa masyarakat tidak akan mempercayai mukjizat kelahiran tanpa ayah secara mudah, sehingga ia merasa beban ujian tersebut teramat berat.
3. Tafsir Al-Qurthubi (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an):
Imam Al-Qurthubi menerangkan bahwa larangan mengharapkan kematian dalam hadits-hadits Rasulullah ﷺ tertuju pada orang yang mengharapkan kematian karena musibah duniawi atau penyakit fisik. Adapun permohonan yang dilandasi rasa takut terjerumus ke dalam fitnah agama atau menyebabkan fitnah bagi masyarakat, maka hal tersebut pernah dilakukan oleh sebagian orang-orang sholih.
4. Tafsir Jalalain (Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan As-Suyuthi):
Imam Jalaluddin Al-Mahalli menegaskan bahwa lafazh fa-aja’aha bermakna alja’aha (memaksanya terdesak) dan al-makhadh adalah rasa sakit kontraksi persalinan. Maryam menuju ke pangkal pohon kurma agar dapat bersandar dan bertumpu padanya saat kontraksi berlangsung, seraya memendam rasa malu yang mendalam di hadapan manusia. Jalalain menafsirkan kalimat nasyan mansiyya sebagai sesuatu yang terbuang dan ditinggalkan sehingga tidak lagi disebut atau dikenal oleh siapa pun.
5. Tafsir Al-Munir (Syekh Wahbah Az-Zuhaili):
Syekh Wahbah Az-Zuhaili menguraikan sisi psikologis dan balaghah ayat. Maryam digambarkan sebagai sosok perawan suci yang terisolasi dari pertolongan manusia di saat menghadapi rasa sakit bersalin yang memuncak. Namun alur ayat memperlihatkan bahwa titik paling berat bagi seorang hamba justru menjadi awal tercurahnya pertolongan Ilahi yang nyata.
Catatan Seputar Riwayat Tafsir:
Dalam literatur tafsir sering dijumpai riwayat tambahan bahwa peristiwa persalinan tersebut terjadi di Bethlehem, pohon kurma dalam keadaan kering kerontang, atau terjadi pada musim dingin.
Perlu dipahami secara objektif bahwa rincian-rincian tersebut bersumber dari riwayat-riwayat tafsir isra’iliyyat atau penafsiran sejarah, bukan informasi eksplisit dari teks wahyu Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya menegaskan adanya pohon kurma yang menjadi tumpuan Maryam dan sumber buah segar bagi pemulihannya.
Apakah Surat Maryam Ayat 23 Merupakan Doa Melahirkan?
Di tengah masyarakat, Surat Maryam kerap dikaitkan dengan proses kehamilan dan persalinan. Namun perlu ditegaskan secara ilmiah:
Surat Maryam ayat 23 bukan doa khusus permohonan kemudahan melahirkan.
Teks ayat ini adalah rekaman sejarah mengenai derita persalinan dan ungkapan kesedihan Maryam menghadapi ujian hidup. Ucapan ya laitani mittu qabla hadza adalah rintihan kepedihan, bukan doa agar proses melahirkan berjalan lancar.
Meski demikian, ayat ini sangat layak direnungkan oleh para ibu hamil dan keluarga sebagai penguat mental.
Kisah Maryam ini mengajarkan bahwa rasa sakit, ketakutan, dan rasa cemas saat persalinan adalah hal yang sangat manusiawi dan pernah dialami oleh wanita termulia di muka bumi.
Sebagian kalangan muslim juga mengamalkan bacaan penenang seperti doa Hana Waladat Maryam saat mendampingi proses persalinan sebagai bentuk ikhtiar batin memohon pertolongan Allah. Hal yang penting diperhatikan adalah membedakan antara hikmah keteladanan ayat Al-Qur’an dengan amalan doa yang berkembang di masyarakat.
Pelajaran Berharga dan Hikmah Persalinan Sayyidah Maryam
Dari runtutan peristiwa dalam Surat Maryam ayat 23 hingga ayat-ayat sesudahnya, tersimpan banyak hikmah berharga bagi kehidupan kaum beriman:
- Pengakuan Terhadap Sisi Manusiawi: Al-Qur’an tidak menggambarkan para kekasih Allah sebagai manusia tanpa rasa sakit atau tanpa kecemasan. Kesedihan dan rintihan Maryam diabadikan secara jujur, membuktikan bahwa memiliki rasa takut di tengah penderitaan bukanlah tanda lemahnya iman.
- Beratnya Tekanan Kehormatan dan Fitnah Sosial: Tekanan mental akibat prasangka dan tuduhan masyarakat sering kali terasa lebih menyakitkan daripada derita fisik persalinan. Hal ini menjadi peringatan tegas agar umat Islam menjauhi kebiasaan menuduh dan berburuk sangka kepada sesama.
- Pertolongan Allah Melalui Sebab Konkret: Setelah puncak kesedihan pada ayat 23, Allah segera menghibur Maryam pada ayat 24 hingga 26 dengan mengalirkan mata air jernih dan menurunkan buah kurma basah (ruthab). Pertolongan Ilahi dihadirkan dalam bentuk kebutuhan nyata yang menenangkan tubuh dan jiwa.
- Kewajiban Berikhtiar di Tengah Keterbatasan: Maryam yang baru saja melahirkan dan dalam kondisi sangat lemah tetap diperintahkan untuk menggoyangkan batang kurma. Ini menunjukkan bahwa tawakal kepada Allah harus selalu berjalan beriringan dengan ikhtiar lahiriah semampunya.
- Khasiat Kurma Basah bagi Wanita Melahirkan: Buah kurma yang matang terbukti secara medis kaya akan nutrisi, zat gula alami (fruktosa dan glukosa) yang cepat diserap tubuh, serta hormon alami pemacu kontraksi rahim (serupa oksitosin) yang membantu pemulihan dan mencegah pendarahan nifas.
- Pembelaan Nyata dari Allah SWT: Ketakutan Maryam terhadap tuduhan masyarakat akhirnya dijawab oleh Allah melalui mukjizat yang agung. Sebagaimana dicatat dalam Surat Maryam ayat 30-35, Nabi Isa yang masih bayi di dalam buaian dapat berbicara dengan fasih untuk membersihkan nama baik ibunya dan menegaskan risalah tauhid.
Kesimpulan
Surat Maryam ayat 23 merupakan potret mendalam mengenai puncak kepedihan fisik dan batin yang dihadapi Sayyidah Maryam di bawah bayang-bayang fitnah masyarakat. Analisis gramatika memperlihatkan bahwa kontraksi persalinan (al-makhadh) bertindak sebagai fa’il yang mendesak gerak tubuh Maryam menuju pangkal pohon kurma (jidz’in nakhlah). Sementara rintihan ya laitani mittu qabla hadza dan harapan menjadi nasyan mansiyya lahir murni dari kekhawatiran suci menjaga kehormatan agama, bukan keputusasaan terhadap rahmat Allah.
Ayat 23 ini menegaskan bahwa puncak kesempitan sering kali menjadi titik balik lahirnya pertolongan Ilahi. Dengan memahami kedudukan i’rob, rahasia bahasa, dan tafsir para ulama, pembaca tidak hanya memperoleh pemahaman gramatika yang jernih, tetapi juga memetik keteladanan tentang kesabaran, kepasrahan, dan keyakinan teguh bahwa Allah Ta’ala tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya yang sholih.