Surat Maryam ayat 30-35 berada di tengah-tengah rangkaian narasi besar tentang keluarga Imran, khususnya kisah Maryam dan putranya, Nabi ‘Isa ‘alayhissalām. Surah Maryam merupakan surah ke-19 dalam Mushaf dan tergolong Makkiyah, diturunkan sebelum hijrah Rasulullah ﷺ.
Secara struktur mushaf, potongan ayat ini berada di Juz 16. Kisahnya bersambung langsung dari kelahiran ‘Isa a.s., dan menampilkan dialog paling tak biasa dalam sejarah manusia: seorang bayi berbicara untuk membela ibunya dari tuduhan zina, dan sekaligus memperkenalkan dirinya kepada dunia.
Kejadian ini bukan hanya mukjizat, tapi juga bentuk klarifikasi ilahi yang langsung merobek selubung fitnah. Misi kenabian, akidah tauhid, dan legitimasi Injil—semuanya ditegaskan dalam enam ayat pendek namun padat makna ini.
Konteks Turunnya Surat Maryam ayat 30-35
Potongan ayat ini turun dalam konteks sosial yang berat. Masyarakat Bani Isra’il saat itu mempertanyakan kehamilan Maryam—seorang wanita suci, tanpa suami. Fitnah menyebar liar. Dalam tekanan semacam itu, Allah menghadirkan sebuah mu‘jizat langka: bayi yang baru lahir berbicara untuk membela ibunya.
Kalimat pertama yang keluar dari mulut bayi ‘Isa adalah, “Sesungguhnya aku hamba Allah.” Sebuah pembuka yang membungkam tuduhan dan sekaligus menetapkan garis tegas antara makhluk dan Khalik. Ayat-ayat ini bukan sekadar narasi historis; ia adalah bantahan keras terhadap keyakinan keliru yang belakangan mengangkat ‘Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan.
Dalam tafsir Ibnu Katsir dan Al-Mishbah, dijelaskan bahwa peristiwa ini juga menunjukkan bahwa Allah menyiapkan pembelaan terhadap hamba-hamba pilihan-Nya dengan cara yang tidak dapat dibantah siapa pun. Sementara tafsir Kemenag menyoroti bahwa kisah ini adalah pelajaran keadilan ilahi: tidak semua tuduhan harus dilawan dengan emosi, sebagian cukup dibalas dengan kebenaran yang tak terbantahkan.
Dengan membiarkan bayi berbicara, Allah bukan hanya menyelamatkan Maryam, tapi juga mengabadikan satu pesan penting: Jangan terburu menilai, karena yang tampak belum tentu yang sesungguhnya.
Bacaan Surat Maryam ayat 30-35 Arab, Latin, dan Artinya

Berikut adalah enam ayat yang menjadi inti kisah mukjizat Nabi ‘Isa a.s. ketika masih bayi dalam gendongan. Untuk memudahkan pembacaan dan refleksi, tiap ayat disusun dengan Surat Maryam ayat 30-35 dalam teks Arab, bacaan latin, dan artinya.
Surat Maryam Ayat 30–35 Arab

Surat Maryam Ayat 30–35 Latin dan Artinya
Surah Maryam Ayat 30 Latin dan artinya
Qāla innī ‘abdullāh(i), ātāniyal-kitāba wa ja‘alanī nabiyyā(n).
Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.”
Ayat 31
Wa ja‘alanī mubārakan aina mā kuntu, wa auṣānī biṣ-ṣalāti waz-zakāti mā dumtu ḥayyā(n).
Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;
Ayat 32
Wa barram biwālidatī wa lam yaj‘alnī jabbāran syaqiyyā(n).
dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
Ayat 33
Was-salāmu ‘alayya yauma wulidttu wa yauma amūtu wa yauma ub‘aṡu ḥayyā(n).
Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
Ayat 34
Żālika ‘īsabnu maryam(a), qaulal-ḥaqqil-lażī fīhi yamtarūn(a).
Itulah Isa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya.
Ayat 35
Mā kāna lillāhi ay yattakhiża miw waladin subḥānah(ū), iżā qaḍā amran fa innamā yaqūlu lahū kun fa yakūn(u).
Tidak patut bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.
Baca Juga: Surah Maryam 1-11 Arab, Latin, Arti dan Manfaatnya
Silakan telusuri satu per satu. Di dalamnya tersimpan pengakuan tauhid, penjelasan misi kenabian, hingga penegasan posisi ‘Isa sebagai hamba Allah, bukan anak Tuhan. Ayat-ayat ini tidak hanya menegur pemahaman yang menyimpang, tapi juga mengajarkan etika, ibadah, dan kemuliaan akhlak seorang nabi sejak awal hayatnya.
Tafsir Surah Maryam Ayat 30–35 Tentang Pengakuan Isa AS & Penolakan Ketuhanan
Berikut penafsiran Surat Maryam ayat 30-35 per ayat yang kami ambil dari tafsir Kemenag. RI:
Tafsir Surat Maryam Ayat 30
Di tengah kecaman dan tuduhan keji terhadap ibunya, bayi Isa berbicara untuk pertama kalinya — langsung membungkam keraguan. “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah,” katanya. Bukan Tuhan, bukan anak Tuhan, tapi ‘abdullah — hamba yang tunduk sepenuhnya. Di sinilah fondasi tauhid ditegakkan sejak awal: Isa adalah ciptaan, bukan bagian dari ketuhanan.
Baca Juga: Pengakuan Isa dalam Surah Maryam Ayat 30
Allah juga menyatakan bahwa Dia akan memberinya Kitab (Injil) dan menjadikannya seorang nabi. Perkataan ini membersihkan Maryam secara terbuka dan menolak semua tuduhan zina dari kaum Bani Israil. Tak mungkin seorang nabi besar lahir dari wanita hina. Maka, kalimat pertama bayi ini mengandung dua pukulan telak sekaligus: pembelaan terhadap ibunya dan pemurnian risalah tauhid.
Tafsir Surat Maryam Ayat 31
Isa melanjutkan: “Allah menjadikanku diberkahi di mana pun aku berada.” Kata mubārakan di sini bukan hiasan retoris, tapi berarti ia membawa manfaat, petunjuk, dan rahmat di setiap tempat dan zaman. Ini bukan berkah pasif, tapi aktif — berkah yang menular. Allah pun memerintahkannya untuk menegakkan shalat dan menunaikan zakat selama hidupnya.
Sejak bayi, Isa sudah ditugaskan dua rukun penting yang kelak menjadi tonggak agama: ibadah individual dan sosial. Shalat sebagai hubungan langsung dengan Allah, zakat sebagai tanggung jawab terhadap sesama. Ayat ini menegaskan bahwa agama yang dibawa Isa bukanlah ajaran baru, tapi bagian dari garis panjang wahyu yang konsisten sejak Nabi Ibrahim.
Tafsir Surat Maryam Ayat 32
Isa AS juga menyebut perintah untuk berbakti kepada ibunya. Bukan sekadar menyebut, tapi menekankan. Kata biwālidatī (ibuku) digunakan, bukan biwālidayya (orang tuaku), karena hanya Maryam yang hadir. Ini bentuk pengakuan penuh bahwa ia lahir tanpa ayah, dan justru kemuliaan ibunya menjadi hujjah atas ketidakadaan sosok ayah.
Allah juga tidak menjadikannya seorang yang jabbāran syaqiyyan — congkak dan celaka. Dua sifat yang sering melekat pada manusia yang sombong dan lalim. Isa sejak lahir sudah dinyatakan bersih dari dua karakter buruk ini, menunjukkan posisinya sebagai teladan sejati yang dijaga Allah sejak awal.
Tafsir Surat Maryam Ayat 33
Isa lalu mendoakan keselamatan untuk tiga titik krusial dalam hidup: saat lahir, saat wafat, dan saat dibangkitkan. Tiga fase ini adalah ujian eksistensial yang paling berat: kelahiran yang penuh risiko, kematian yang tak bisa dihindari, dan kebangkitan yang menentukan nasib akhir. Doa ini bukan hanya untuk dirinya, tapi menjadi isyarat bagi umat manusia bahwa keamanan hakiki hanya datang dari Allah, bukan dari status sosial, harta, atau prestasi. Ucapan ini juga menjadi cermin kesadaran kenabian dan keyakinan pada kehidupan setelah mati — sejak masa bayi.
Tafsir Surat Maryam Ayat 34
Di sinilah Al-Qur’an menyatakan dengan tegas: “Itulah Isa putra Maryam.” Tidak lebih. Tidak kurang. Ia bukan tuhan, bukan sekutu Tuhan, bukan anak Tuhan. Ia adalah hamba sekaligus utusan. Ayat ini membongkar semua bentuk penyimpangan dalam akidah, baik dari kalangan Yahudi yang menuduhnya anak zina maupun dari kalangan Nasrani yang mengangkatnya ke posisi ilahiah. Yang diucapkannya adalah kebenaran yang pasti, qawl al-haqq, bukan narasi manipulatif.
Tafsir Surat Maryam Ayat 35
Penutup dari rangkaian ini adalah pukulan pamungkas terhadap teologi anak Tuhan. “Tidak pantas bagi Allah memiliki anak.” Kenapa? Karena Allah sempurna, tak butuh penerus, pewaris, atau pelengkap. Ia cukup berkata: “Kun!” maka jadilah sesuatu itu. Satu perintah cukup untuk menciptakan semesta. Tidak perlu mekanisme biologis, tidak perlu garis keturunan. Ini penegasan mutlak: penciptaan Isa — meski tanpa ayah — bukan alasan untuk mengangkatnya sebagai Tuhan. Sama seperti Adam yang dicipta tanpa ibu dan ayah, Isa adalah ciptaan yang tunduk, bukan dzat yang disembah. Kesimpulannya jelas: tauhid tidak mengenal kompromi.
Hikmah dan Relevansi Surat Maryam ayat 30-35
Rangkaian Surat Maryam ayat 30-35 ini bukan sekadar dokumentasi mukjizat masa lalu. Ia menyimpan pelajaran hidup yang relevan lintas zaman. Penegasan bahwa Isa adalah hamba Allah — bukan Tuhan, bukan anak Tuhan — menjadi koreksi akidah yang paling mendasar. Ini juga bentuk penjagaan langsung dari Allah terhadap misi kenabian dan kemurnian risalah tauhid. Jika Isa, yang berbicara sejak dalam buaian, saja menyebut dirinya sebagai hamba, maka semua bentuk pengultusan terhadap manusia — siapa pun dia — adalah kesalahan serius.
Dari sisi ibadah, perintah shalat dan zakat yang disampaikan sejak bayi memperlihatkan betapa dua pilar ini bukan sekadar ritus kosong. Shalat adalah hubungan vertikal, pengakuan bahwa manusia bergantung penuh kepada Allah. Zakat adalah komitmen horizontal: bahwa manusia tidak bisa hidup layak tanpa kepedulian terhadap sesama. Dalam masyarakat yang makin terpecah secara ekonomi, ayat ini mengingatkan: keadilan bukan mimpi, tapi hasil dari penyaluran hak yang benar.
Isa juga menekankan perintah untuk berbakti kepada ibunya. Ini bukan sekadar etika keluarga, tapi prinsip sosial: kehormatan perempuan harus dijaga, terlebih lagi ibu. Maryam dibela langsung oleh bayinya sendiri, dan Al-Qur’an mengabadikan kisah itu sebagai bukti bahwa kehormatan tidak boleh digadaikan oleh prasangka publik. Di tengah budaya patriarki yang masih membebani perempuan dengan stigma, ayat ini tampil sebagai teguran keras terhadap penghakiman sosial yang tak berdasar.
Doa keselamatan pada hari kelahiran, wafat, dan kebangkitan adalah pengingat bahwa hidup tidak berhenti di dunia. Ini adalah titik-titik genting yang harus disiapkan: lahir dengan nama baik, mati dalam keadaan bersih, dan bangkit dengan amal yang utuh. Ketiga momen ini bukan wacana akhirat semata — tapi strategi hidup agar manusia punya arah dan tahu prioritas.
Terakhir, penolakan mutlak bahwa Allah punya anak adalah benteng teologis yang tidak bisa dikompromikan. Al-Qur’an menyandingkan logika penciptaan dengan keimanan yang lurus. Allah tidak menciptakan berdasarkan kebutuhan, apalagi kelemahan. Ia menciptakan karena kehendak. Maka, semua bentuk penyembahan pada Isa, baik sebagai anak, tuhan, atau bagian dari trinitas — adalah penyimpangan dari ajaran murni yang Isa sendiri tolak sejak bayi.
Kesimpulannya: ayat-ayat ini bukan nostalgia teologis. Ia adalah peluru akidah, prinsip hidup, dan panduan sosial. Umat yang memahami ini akan tahu bahwa iman, ibadah, dan akhlak bukan tiga hal terpisah, tapi satu kesatuan utuh yang ditanam sejak awal oleh para nabi. Termasuk Isa, sang hamba Allah.
Analisis Bahasa dan Makna dalam Surat Maryam Ayat 30–35
Rangkaian ayat ini menyimpan banyak istilah bernas yang padat makna dan tak bisa disederhanakan begitu saja. Setiap lafaz membawa bobot ideologis dan nilai teologis. Berikut beberapa istilah utama yang patut dicermati:
- ʿAbdullāh (عَبْدُ ٱللَّهِ): “Hamba Allah.” Ini bukan sebutan biasa. Lafaz ini menegaskan bahwa ‘Isa bukan anak Tuhan, bukan titisan ilahi, melainkan sepenuhnya manusia yang tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta. Di balik lafaz ini ada bantahan terhadap seluruh bentuk penyembahan kepada selain Allah.
- Mubārakan (مُبَارَكًا): Berarti “yang diberkahi.” Bukan sekadar suci atau terpuji, tetapi menjadi sumber manfaat di manapun ia berada. Dalam bahasa Arab, barakah berarti kebaikan yang melimpah dan terus menerus, yang pengaruhnya meluas kepada lingkungan sekitar. Ini menegaskan peran Isa sebagai pembawa keberkahan sosial, bukan hanya simbol keimanan pribadi.
- Ṣalāh dan Zakāh (الصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ): Dua rukun utama yang disebut langsung sebagai wasiat Allah kepada Nabi Isa. Ṣalāh adalah pengikat ruhani antara manusia dan Rabb-nya, sementara zakāh adalah pembersih harta dan penyeimbang sosial. Ini menjadi pesan bahwa ajaran kenabian selalu mengandung dimensi personal dan sosial sekaligus.
- Walidatī (وَالِدَتِيْ): “Ibuku.” Penekanan pada ibu, bukan orang tua secara umum, sangat penting. Ini adalah pengakuan langsung akan hak istimewa seorang ibu — terutama Maryam yang sebelumnya dituduh oleh masyarakat. Di saat publik menggiring fitnah, ‘Isa justru memberikan klarifikasi terbuka tentang kedudukan ibunya.
- Salām (السَّلٰمُ): Dalam ayat ke-33, ‘Isa menyebut tiga momen kritis — kelahiran, kematian, dan kebangkitan — yang diselimuti salām (keselamatan, kedamaian). Dalam Al-Qur’an, salām bukan sekadar ucapan, tapi kondisi ideal penuh rahmat, bebas dari kecelakaan dunia dan azab akhirat. Doa ini juga menjadi harapan hidup setiap mukmin: agar keluar dan kembali kepada Allah dalam keadaan damai.
Analisis ini memperlihatkan bahwa ayat-ayat ini bukan hanya kaya secara kisah, tetapi juga padat dari sisi diksi. Di setiap kata, tersimpan pesan dakwah, arah akidah, dan prinsip hidup yang kuat. Tanpa memahami kekuatan bahasa ini, kita akan kehilangan esensi dari misi Al-Qur’an: membentuk manusia beriman yang paham kedudukannya — sebagai hamba, sebagai pemikul amanat, dan sebagai bagian dari masyarakat yang harus ia berkahi.
Kebenaran yang Ditegakkan Sejak Dalam Gendongan
Kisah Nabi Isa AS dalam Surat Maryam ayat 30–35 bukan sekadar narasi mukjizat bayi yang berbicara. Ia adalah peneguhan aqidah, pembelaan terhadap kehormatan ibunda Maryam, dan penolakan tegas terhadap semua bentuk penyimpangan ajaran tauhid. Lafaz demi lafaznya penuh ketegasan, namun juga menghadirkan kelembutan — seorang anak yang membela ibunya, seorang utusan yang membawa ajaran langit, dan seorang manusia yang tunduk total kepada Rabb-nya.
Dalam konteks sosial hari ini, ayat ini menjadi pengingat penting untuk tidak gegabah menghakimi, terutama terhadap perempuan. Maryam dibela langsung oleh wahyu — bahkan sebelum pengadilan dunia bisa bicara. Maka pantaslah umat Islam menjadikan kisah ini sebagai pelajaran adab, aqidah, dan pembelaan terhadap kebenaran.
Bagi para ibu, ayat-ayat ini juga menjadi sumber kekuatan. Maryam dalam kesendirian dan ketakutan di saat melahirkan, akhirnya dimuliakan Allah lewat putranya. Bacaan seperti doa Maryam agar mudah melahirkan yang termaktub di ayat QS. Maryam: 23 dan seterusnya layak direnungi, khususnya oleh mereka yang sedang menanti kelahiran anak atau mencari ketenangan batin di tengah tekanan hidup.
Dan bagi siapa pun yang sedang mencari keteguhan iman, kebenaran tidak selalu datang lewat suara yang lantang. Kadang, ia hadir dari buaian — melalui lidah seorang bayi yang ditugaskan langsung oleh langit.