Ayat Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban Artinya dan Penjelasannya

Ayat fabiayyi ala irobbikuma tukadziban adalah salah satu ayat paling menggetarkan dalam lembaran mushaf Al-Qur’an yang diulang sebanyak 31 kali dalam Surat Ar-Rahman.

Secara harfiah, arti fabiayyi ala irobbikuma tukadziban adalah “Maka nikmat Tuhan kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan?”. Seruan ini merupakan pertanyaan retoris sekaligus penegasan ilahi yang ditujukan kepada dua golongan makhluk berakal di bumi, yaitu bangsa manusia dan jin, agar mereka menyadari limpahan anugerah Allah yang terhampar luas tanpa batas.

Kalau kita membaca atau mendengarkan lantunan surah ini, ritme pengulangannya terasa begitu menyentuh kalbu dan mengasah akal pikiran. Pengulangan ini bukan sekadar pemanis kata, melainkan pengingat bernalar yang mengajak kita berhenti sejenak di setiap jeda tema. Al-Qur’an mengajak kita menatap ke dalam diri, mengamati keteraturan alam raya, dan menimbang kembali rasa syukur atas berbagai anugerah yang kerap kita anggap lumrah dalam keseharian.

Tulisan Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban (Arab, Latin, dan Arab Gundul)

fabiayyi ala irobbikuma tukadziban

Di dalam mushaf Al-Qur’an standar, tulisan fabiayyi ala irobbikuma pertama kali hadir pada ayat ke-13 Surat Ar-Rahman, lalu terangkai mengiringi ayat-ayat berikutnya hingga penghujung surah. Teks ayat ini tertulis seragam pada seluruh 31 titik kemunculannya.

Berikut adalah bacaan Surat Ar Rahman fabiayyi ala irobbikuma tukadziban tulisan Arab berharakat sesuai rasm Utsmani:

فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiayyi ala-i rabbikuma tukadziban.

Bagi yang terbiasa membaca tulisan dengan kaidah imla standar, lafazh tersebut kerap ditulis dengan bentuk:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Nah, bagi penuntut ilmu yang membutuhkan rujukan tulisan tanpa harakat untuk keperluan pengetikan naskah atau kutipan literatur, berikut bentuk fabiayyi ala irobbikuma tukadziban tulisan arab gundul:

فبأي آلاء ربكما تكذبان

Meskipun ditulis dalam bentuk arab gundul, cara membaca dan hukum tajwidnya tetap sama persis dengan naskah berharakat. Huruf mad pada kata alaa-i dibaca panjang empat hingga lima harakat karena bertemu hamzah dalam satu kata (mad wajib muttashil), huruf ra pada rabbikuma dibaca tebal (tafkhim), dan huruf dzal pada tukadzdziban dibaca bertasydid dengan makhraj ujung lidah yang lembut.

Arti Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban dan Arti per Kata

Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban Artinya

Untuk memahami pesan ayat ini secara menyeluruh, kita dapat meninjau dari dua sudut pandang terjemahan yang saling melengkapi.

Dalam terjemahan resmi Al-Qur’an Kementerian Agama Republik Indonesia, arti fabiayyi ala irobbikuma tukadziban diterjemahkan secara ringkas untuk pembaca umum:

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Sementara itu, jika kita melihat dari ketepatan kaidah tata bahasa Arab yang menggunakan bentuk dua pihak (tatsniyah atau mutsanna), terjemahan harfiahnya berbunyi:

“Maka terhadap nikmat Tuhan kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan?”

Kedua terjemahan ini memiliki muatan yang sejalan. Pilihan kata “kamu berdua” pada terjemahan kedua memberikan kejelasan bahwa seruan ilahi ini secara spesifik dialamatkan kepada dua bangsa yang memikul tanggung jawab ibadah di alam semesta, yaitu manusia dan jin.

Adapun rincian arti kata per kata dari ayat ini adalah sebagai berikut:

Kata Arab Transliterasi Arti Dasar Penjelasan Makna
فَـ Fa Maka / lalu Huruf penghubung yang mengaitkan pertanyaan ini dengan rincian karunia pada ayat sebelumnya.
بِـ Bi Dengan / terhadap Huruf jar yang menyandarkan perbuatan mendustakan kepada objek nikmat.
أَيِّ Ayyi Yang manakah Isim istifham untuk menanyakan penentuan pilihan di antara limpahan anugerah.
آلَاءِ Ala-i Nikmat-nikmat / karunia Bentuk jamak dari ilwun atau alyun, mencakup rezeki lahir, batin, dan tanda kebesaran Allah.
رَبِّكُمَا Rabbikuma Tuhan kamu berdua Kata Rabb yang disandarkan pada kata ganti dua pihak (manusia dan jin).
تُكَذِّبَانِ Tukadzdziban Kamu berdua mendustakan Kata kerja bentuk sekarang atau akan datang yang menunjukkan pengingkaran dua pihak.

Pilihan kata al-ala’ (آلَاء) dalam ayat ini sangat istimewa. Kata ini tidak hanya merujuk pada materi fisik seperti makanan, minuman, atau harta kekayaan. Di dalam lisan Arab klasik, al-ala’ mencakup seluruh spektrum anugerah: mulai dari nikmat penciptaan diri, keteraturan peredaran tata surya, kemampuan berbicara dan bernalar, petunjuk kitab suci, hingga peringatan tentang hari pembalasan kelak.

Bedah Tarkib dan Kaidah I’rob Kata per Kata

Bagi penuntut ilmu bahasa Arab, menelaah kedudukan i’rob dari ayat ini memberikan wawasan gramatika yang sangat berharga. Struktur ayat ini memadukan susunan huruf, isim istifham, beberapa lapis mudhaf ilaih, serta fi’il mudhari’ mutsanna.

Berikut adalah tabel analisis tarkib dan kedudukan i’rob kata per kata:

Lafazh Kedudukan I’rob Tanda I’rob & Penjelasan Status Sintaksis
فَـ Huruf fashihah / isti’naf Mabni fathah, tidak memiliki kedudukan mahall i’rob Menyiratkan makna syarat: “Jika kalian telah menyaksikan nikmat-nikmat tersebut, maka…”
بِـ Huruf jar Mabni kasrah, tidak memiliki kedudukan mahall i’rob Muta’alliq (terkait) dengan fi’il tukadzdzibani
أَيِّ Isim istifham majrur Tanda jar kasrah zhahirah pada huruf akhir; mudhaf Didahulukan (muqaddam) karena isim istifham memiliki hak di awal kalimat
آلَاءِ Mudhaf ilaih Majrur dengan tanda kasrah zhahirah; mudhaf kedua Menjelaskan jenis karunia yang dipertanyakan
رَبِّ Mudhaf ilaih Majrur dengan tanda kasrah zhahirah; mudhaf ketiga Menyandarkan nikmat kepada Pemilik dan Penciptanya
كُمَا Isim dhamir muttashil Mabni sukun fi mahalli jarrin mudhaf ilaih Dhamir khithab mutsanna untuk dua pihak (manusia dan jin)
تُكَذِّبَانِ Fi’il mudhari’ marfu’ Tanda rafa’ tetapnya huruf nun (tsubutun nun) karena al-amtsilah al-khamsah Alif tatsniyah adalah dhamir muttashil mabni sukun fi mahalli raf’in fa’il

Kalau kita perhatikan susunan kalimatnya, rangkaian jar-majrur bi-ayyi ala’i rabbikuma diletakkan mendahului fi’il tukadzdzibani. Dalam tinjauan balaghah, selain karena kata tanya memang wajib berada di depan kalimat, pemajuan objek ini menghasilkan faedah penegasan mutlak (al-hasyr wal-ikhtishash).

Artinya, pemaparan anugerah Allah di sekeliling kita sudah sedemikian melimpah ruah, nyata, dan tak terbantahkan. Lalu dari sekian banyak karunia yang membentang itu, manakah yang masih mungkin disangkal? Kalimat ini secara cerdas mengunci akal pendengarnya agar mengakui bahwa tidak ada celah sedikit pun untuk mendustakan nikmat Allah.

Mengapa Mutsanna? Seruan Khusus untuk Manusia dan Jin (Ats-Tsaqalan)

Satu keunikan mencolok dari ayat ini adalah penggunaan bentuk kata ganti dua orang (mutsanna atau dual), baik pada akhiran kata rabbikuma (Tuhan kamu berdua) maupun pada alif tatsniyah di dalam kata kerja tukadzdzibani (kamu berdua mendustakan). Mengapa Al-Qur’an tidak menggunakan bentuk jamak?

Para mufassir rujukan seperti Imam Ath-Thabari dalam Jami’ul Bayan, Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, dan Ibnu Katsir sepakat menegaskan bahwa seruan dua pihak ini ditujukan kepada ats-tsaqalan, yaitu dua kelompok makhluk berakal yang hidup di bumi: bangsa jin dan bangsa manusia.

Keduanya disebut ats-tsaqalan (dua golongan yang menanggung beban) karena sama-sama dianugerahi akal budi, nafsu, dan kebebasan memilih, sehingga keduanya memikul beban syariat (mukallaf) dan akan dihisab di hari akhirat kelak.

Alur pembicaraan Surat Ar-Rahman membuktikan hal ini secara sangat runtut:

  1. Pada ayat ke-14 dan 15, Allah secara berurutan menyebutkan asal penciptaan manusia dari tanah kering seperti tembikar, lalu penciptaan bangsa jin dari nyala api murni tanpa asap.
  2. Pada ayat ke-31, Allah memanggil keduanya secara terang-terangan: سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَ ٱلثَّقَلَانِ (Kami akan memberi perhatian penuh kepadamu pada hari perhitungan, wahai dua golongan manusia dan jin!).
  3. Pada ayat ke-33, Allah kembali menantang keduanya dalam firman-Nya: Ar Rahman ayat 33, untuk menembus penjuru langit dan bumi jika mampu tanpa kekuatan izin-Nya.

Kedua golongan ini sama-sama menghirup udara di bumi, meneguk air, menikmati hasil bumi, dan menerima petunjuk risalah kenabian. Karena itu, ketika ada manusia atau jin yang ingkar, penolakan mereka digolongkan sebagai pendustaan nyata yang menjerumuskan ke dalam kubangan kekafiran. Hal ini selaras dengan penegasan sikap tegas terhadap penyembahan selain Allah sebagaimana diuraikan dalam Surat al Kafirun.

Balaghah Istifham Taqriri: Mengapa Memakai Kata Mendustakan?

Pertanyaan dalam ayat fabiayyi ala irobbikuma tukadziban bukanlah pertanyaan yang bertujuan mencari jawaban baru (istifham haqiqi). Allah Maha Mengetahui segala isi hati hamba-Nya. Di dalam ilmu balaghah, gaya bahasa ini dinamakan istifham taqriri, yaitu pertanyaan retoris yang menuntut pengakuan jujur dan tak terbantahkan dari pihak yang diajak bicara, sekaligus mengandung nuansa taubikhi (teguran keras).

Pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama: mengapa Allah memilih kata mendustakan (tukadzdziban), dan bukan sekadar kata tidak bersyukur (la tasykuran)?

Di sinilah letak kedalaman pesan wahyu. Seseorang yang tidak bersyukur mungkin hanya sedang tergelincir dalam kelalaian sesaat karena kesibukan duniawi, meskipun di dalam hatinya ia masih mengakui bahwa rezeki itu datang dari Allah. Akan tetapi, orang yang mendustakan telah melangkah jauh ke jurang pembangkangan akidah.

Mendustakan nikmat berarti menolak mengakui Allah sebagai satu-satunya Sang Pemberi Rezeki. Mereka menganggap pencapaian hidup semata-mata hasil kehebatan pribadi, menyekutukan Allah dengan sesembahan lain, atau bahkan mengingkari adanya hari kebangkitan dan pertanggungjawaban amal. Dengan memilih kata mendustakan, ayat ini menohok langsung pokok persoalan: menuntut ketundukan tauhid dan membersihkan jiwa dari keangkuhan.

Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban 31 Kali

Di dalam lembaran Surat Ar-Rahman yang terdiri dari 78 ayat, kalimat fabiayyi ala irobbikuma tukadziban hadir sebanyak 31 kali. Bagi orang yang terbiasa dengan pola penulisan biasa, pengulangan sebanyak ini mungkin tampak berlebih. Namun dalam keindahan sastra Al-Qur’an, pengulangan ini justru menjadi inti kekuatan retorika yang melahirkan irama perenungan mendalam.

Para ulama tafsir dan pakar balaghah merumuskan kaidah penting:

التَّأْكِيدُ مَعَ التَّأْسِيسِ خَيْرٌ مِنَ التَّأْكِيدِ الْمَحْضِ

“Penegasan yang disertai muatan faedah baru jauh lebih utama daripada sekadar pengulangan belaka.”

Maksudnya, setiap kali kalimat ini berulang, ia mengiringi uraian karunia atau peristiwa baru yang berbeda dari ayat sebelumnya. Pengulangan ini tidak pernah berdiri sendiri tanpa konteks, melainkan merangkai empat klaster tema besar di sepanjang surah:

Klaster Tematik Rentang Ayat Jumlah Kemunculan Fokus Pembahasan & Pesan Hikmah
Klaster Pertama Ayat 13 sampai 25 8 kali pengulangan Nikmat penciptaan manusia dan jin, peredaran matahari dan bulan, keteraturan dua lautan yang berdampingan, mutiara, marjan, serta kapal-kapal yang berlayar mengarungi samudra.
Klaster Kedua Ayat 28 sampai 45 7 kali pengulangan Kefanaan makhluk, keabadian Dzat Allah, peringatan hisab hari kiamat, serta dahsyatnya siksa neraka Jahanam bagi para pendusta kebenaran.
Klaster Ketiga Ayat 47 sampai 61 8 kali pengulangan Balasan bagi orang yang takut pada kebesaran Tuhannya berupa dua surga tingkat tinggi dengan pepohonan rimbun, mata air mengalir, aneka buah ranum, dan bidadari jelita.
Klaster Keempat Ayat 63 sampai 77 8 kali pengulangan Gambaran dua surga tingkat berikutnya yang hijau pekat, mata air bergolak, kebun kurma serta delima, dan kemah-kemah kehormatan nan megah.

Jika kita perhatikan secara saksama, jumlah pengulangan yang mengiringi kenikmatan surga berjumlah 16 kali (8 pada klaster ketiga ditambah 8 pada klaster keempat). Jika dipadukan dengan 8 pengulangan pada nikmat penciptaan duniawi, maka total ayat karunia mencapai 24 kali. Sementara itu, ayat yang mengiringi ancaman siksa neraka hanya berjumlah 7 kali.

Para mufassir mencatat rahasia hikmah di balik komposisi ini. Tujuh kali pengulangan pada klaster neraka selaras dengan jumlah tujuh pintu neraka Jahanam. Lebih dari itu, dominasi 24 kali ayat nikmat berbanding 7 kali ayat ancaman menjadi bukti nyata kaidah teologis agung bahwa kasih sayang Allah mendahului dan melampaui murka-Nya (Inna rahmati sabaqat ghadhabi).

Bahkan, peringatan tentang siksa neraka pada hakikatnya adalah bentuk nikmat kasih sayang Allah: nikmat peringatan agar hamba-Nya waspada dan memperbaiki diri sebelum terlambat.

Kesadaran akan kefanaan seluruh makhluk ini ditegaskan secara gamblang dalam firman Allah pada Surah ar-Rahman ayat 26-27, bahwa seluruh yang ada di bumi akan binasa dan hanya wajah Allah Yang Maha Luhur yang tetap kekal. Adapun keindahan balasan akhirat bagi hamba yang taat juga dapat kita pelajari lebih lanjut dalam lembaran surah lain seperti Surat al Waqiah ayat 35-38.

Sunnah Menjawab Ayat Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban

Ketika membaca atau mendengar ayat ini dilantunkan, bagaimanakah adab seorang mukmin yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ?

Dalam hadis riwayat Imam At-Tirmidzi (no. 3291) dan Imam Al-Hakim (Al-Mustadrak 2/473) dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, diceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ membacakan Surah Ar-Rahman dari awal hingga akhir di hadapan para sahabat. Mendengar bacaan tersebut, para sahabat terdiam menyimak dengan penuh rasa khusyuk.

Melihat para sahabat terdiam, Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:

لَقَدْ قَرَأْتُهَا عَلَى الْجِنِّ لَيْلَةَ الْجِنِّ فَكَانُوا أَحْسَنَ مَرْدُودًا مِنْكُمْ، كُنْتُ كُلَّمَا أَتَيْتُ عَلَى قَوْلِهِ: فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ، قَالُوا: لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ

“Sungguh aku telah membacakan surah ini kepada bangsa jin pada malam pertemuan jin, dan jawaban mereka sungguh lebih baik daripada respon kalian. Setiap kali aku sampai pada ayat ‘Fabiayyi ala-i rabbikuma tukadzdziban’, mereka langsung menjawab: ‘Tidak ada satu pun dari nikmat-nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Maka segala puji hanya bagi-Mu’.”

Berdasarkan riwayat ini, para ulama menganjurkan bagi siapa saja yang membaca atau mendengar ayat ini saat tilawah di luar shalat (maupun dalam shalat sunnah sendiri) untuk meresponnya dengan doa jawaban bangsa jin yang dipuji oleh Baginda Nabi ﷺ:

لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ

Transliterasi Latin:

La bisyai’in min ni’amika rabbana nukadzdzibu falakal hamdu.

Artinya:

“Tidak ada satu pun dari nikmat-nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Maka segala puji hanya milik-Mu.”

Dalam sebagian jalur riwayat lain, disebutkan sedikit variasi lafazh yang menggunakan kata ala’ika:

وَلَا بِشَيْءٍ مِنْ آلَائِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ

Wa la bisyai’in min ala’ika rabbana nukadzdzibu falakal hamdu.

Artinya: “Dan tidak ada satu pun dari karunia-karunia-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Segala puji hanya milik-Mu.”

Kedua redaksi ini memiliki maksud yang seirama: menyatakan pengakuan tulus seorang hamba atas segala karunia Tuhannya. Mengamalkan doa ini saat membaca rangkaian surah-surah mulia Al-Qur’an sebagaimana diulas dalam Surah Ar Rahman Al Mulk Al Waqiah Al Kahfi akan menghidupkan interaksi batin kita dengan ayat-ayat suci yang kita baca.

Ujian Hidup Bukan Berarti Mengingkari Nikmat

Terkadang muncul keraguan di kalangan masyarakat: ketika seseorang sedang dirundung musibah yang berat, menderita sakit menahun, kehilangan mata pencaharian, atau berduka karena ditinggal keluarga, apakah ketika ia bersedih dan mengeluh itu tandanya ia sedang mendustakan nikmat Allah?

Jawabannya tentu tidak. Islam adalah ajaran yang sangat memuliakan fitrah kemanusiaan. Kita perlu membedakan secara jernih antara tiga kondisi berikut:

  1. Merasakan kepedihan fisik dan batin: Menangis, merasa sedih, atau merasa lelah saat ditimpa cobaan adalah hal yang sangat manusiawi. Bahkan manusia termulia, para nabi dan rasul, pun meneteskan air mata ketika menghadapi kedukaan.
  2. Menyampaikan keluh kesah dan berikhtiar: Berobat kepada dokter saat sakit, mencari nafkah saat kekurangan, atau mencurahkan isi hati dalam doa memohon pertolongan Allah sama sekali bukan dosa pengingkaran.
  3. Mendustakan nikmat (tukadzdziban): Sikap ini terjadi ketika hati menolak mengakui kebaikan Allah, menuduh Allah berbuat zalim, menyalahkan takdir dengan kemarahan kufur, atau meninggalkan ibadah karena merasa tidak pernah diberi nikmat.

Selama seorang hamba tetap meyakini di dalam hatinya bahwa Allah Maha Pengasih, bertawakal atas ketetapan-Nya, dan terus berusaha mencari jalan keluar, rasa sedihnya tidak mengurangi kualitas imannya. Ayat ini hadir untuk mengajak kita bermuhasabah dan bersyukur, bukan untuk menjadi penghakiman sepihak terhadap saudara kita yang tengah diuji kesabaran hidupnya.

Living Quran Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban

Di dalam kajian studi Al-Qur’an kontemporer, cara masyarakat muslim menghayati, mengamalkan, dan memperbincangkan sebuah ayat dalam kehidupan nyata dikenal dengan istilah khazanah living Qur’an (Al-Qur’an yang hidup di tengah umat).

Bilangan 31 kali pengulangan dalam Surat Ar-Rahman kerap menjadi bahan renungan dan amalan di tengah masyarakat Nusantara. Sebagian santri, asatidz, dan pegiat wirid menghubungkan angka 31 ini dengan berbagai tadabbur makna, keteraturan ritme alam, hingga menjadikannya amalan pembacaan rutin surah ini sebagai wasilah memohon kelapangan rezeki, keberkahan usaha, dan ketenteraman rumah tangga.

Ragam perhatian masyarakat terhadap perincian angka dan keunikan susunan ayat ini mencerminkan rasa cinta dan takjub yang mendalam dari kaum muslimin terhadap keindahan mushaf suci. Melalui interaksi yang hidup inilah, kedekatan batin antara umat dengan kalamullah terus terjaga dari generasi ke generasi.

Para ulama mengingatkan agar kita senantiasa memadukan rasa takjub terhadap keteraturan bilangan tersebut dengan pengamalan pesannya yang hakiki. Sebab, kemuliaan utama dari 31 kali pengulangan ayat ini terletak pada bimbingan tauhid dan moral yang dikandungnya: menuntun lisan dan perbuatan kita agar senantiasa rendah hati, bersyukur di setiap keadaan, dan mengakui bahwa seluruh keberhasilan hidup semata-mata merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Ayat fabiayyi ala irobbikuma tukadziban dalam Surat Ar-Rahman adalah cermin agung pengingat fitrah penghambaan manusia dan bangsa jin di hadapan Allah.

Melalui pertanyaan retoris yang diulang sebanyak 31 kali, Al-Qur’an mengajak kita semua untuk menyadari bahwa setiap tarikan napas, gemericik air, luasnya lautan, hingga petunjuk wahyu ilahi adalah karunia tak ternilai yang tidak pantas dipungkiri.

Analisis kaidah nahwu memperlihatkan ketelitian susunan ayat ini, mulai dari fa’ fashihah, pemajuan kata tanya untuk penegasan, hingga penggunaan bentuk kata kerja mutsanna yang merangkul dua golongan mukallaf di bumi. Keindahan susunan ini kian sempurna ketika kita menghidupkan sunnah Rasulullah saw. untuk merespon setiap pengulangannya dengan doa: La bisyai’in min ni’amika rabbana nukadzdzibu falakal hamdu. Semoga kita senantiasa dianugerahi kelapangan hati untuk menjadi hamba-hamba yang pandai bersyukur dan terhindar dari penyakit mendustakan nikmat.