Dalam bahasa Indonesia, ketika kata-kata tersusun, mereka membentuk sebuah kalimat. Namun, tidak semua kalimat memiliki makna yang lengkap. Demikian pula dalam bahasa Arab, ketika kalimah tersusun, mereka membentuk jumlah, meskipun tidak setiap jumlah memiliki makna yang sempurna.
Hanya kalimat yang memiliki makna sempurna disebut Jumlah Mufidah (الجملة المفيدة). Kalimat seperti ini tidak hanya memberikan informasi yang jelas, tetapi juga memiliki susunan yang mengikuti kaidah nahwu dan sharaf.
Jumlah Mufidah, yang juga dikenal sebagai Kalam (الكلام), memiliki pengertian, pembagian, dan karakteristik tersendiri. Struktur ini mudah ditemukan baik dalam percakapan sehari-hari berbahasa Arab maupun dalam teks suci seperti Al-Qur’an. Artikel ini akan membahas konsep, ciri, dan penerapan Jumlah Mufidah dalam bahasa Arab.
Pengertian Jumlah Mufidah
Menurut kitab Nahwu Al-Wadhih, Jumlah Mufidah diartikan sebagai berikut:
التَّرْكِيبُ الَّذِي يُفِيدُ فَائِدَةً تَامَّةً يُسَمَّى جُمْلَةً مُفِيدَةً وَيُسَمَّى أَيْضًا كَلَامًا
(Tarkib yang memberikan faidah sempurna disebut Jumlah Mufidah, dan disebut juga Kalam).
Tarkib dalam hal ini berarti susunan atau struktur kalimat. Dengan demikian, Jumlah Mufidah adalah susunan kata-kata yang memberikan makna sempurna dan utuh. Baik itu berbentuk positif (mutsbat) maupun negatif (manfi).
Sebagai contoh: الْبُسْتَانُ جَمِيلٌ (Taman itu indah).
Baca Juga: Istilah Dasar Dalam Nahwu: Beda Lafadz, Kalimah, Kalam, Kalim dan Qaul
Jumlah Mufidah selalu memberikan informasi yang lengkap dan dapat berdiri sendiri tanpa membutuhkan tambahan penjelasan.
Pembagian Jumlah Mufidah
Dari pengertian di atas, jumlatul mufidah terbagi menjadi dua. Pembagian ini dalam sebagian kitab dikategorikan sebagai ciri-ciri khas.
- Susunan mubtada’ dan khabar
- Susunan fi’il dan fa’il
Contoh jumlah mufidah dengan struktur mubtada’ dengan khabar: al bustanu jamilun, البَسْتَانُ جَمِيلٌ artinya Taman itu indah. Dalam konteks susunan ini juga disebut jumlah ismiyah yang mana tarkib diawali dengan isim.
Contoh jumlah mufidah dari susunan fi’il dengan fa’il: Hallala al muslimu, هَلَّلَ المُسْلِمُ, artinya Seorang Muslim mengucapkan tahlil. Kalimat tahlil artinya bacaan Lailahaillallah.
Namun perlu diingat, tidak setiap susunan tersebut pasti memiliki faidah sempurna. Bisa jadi susunan tersebut dalam konteks jumlah syarath (kalimat kondisional) yang belum menuturkan jawabnya sehingga dianggap belum mufidah.
Ciri-Ciri Jumlah Mufidah
- Memberikan Faedah Sempurna
Kalimat ini memberikan informasi lengkap yang dapat dipahami tanpa memerlukan penjelasan tambahan. - Berstruktur Jelas
Susunan kalimatnya teratur, baik sebagai Jumlah Ismiyah (dimulai dengan isim) maupun Jumlah Fi‘liyah (dimulai dengan fi‘il). - Tidak Selalu Berdiri Sendiri
Dalam beberapa kasus, susunan kata tampaknya lengkap tetapi belum memberikan faedah sempurna. Hal ini terjadi pada Jumlah Syarath (kalimat kondisional) yang belum menyebutkan jawabannya.
Contoh: إِنْ تَجْتَهِدْ… (Jika kamu bersungguh-sungguh…)
Kalimat ini belum memberikan makna sempurna karena jawaban syaratnya belum disebutkan.
Contoh Jumlah Mufidah
Berikut contoh-contoh jumlah mufidah dalam bahasa Arab yang disertai artinya. Demikian juga pada contoh yang berasal dari al Quran.
Contoh Jumlah Mufidah dalam Bahasa Arab
Contoh jumlah mufidah atau kalam tammah beserta artinya:
الشَّمْسُ طَالِعَةٌ.
(Matahari terbit.)
شَمَّ عَلِيٌّ وَرْدَةً.
(Ali mencium bunga.)
قَطَفَ مُحَمَّدٌ زَهْرَةً.
(Muhammad memetik bunga.)
يَعِيشُ السَّمَكُ فِي الْمَاءِ.
(Ikan hidup di dalam air.)
يَكْثُرُ النَّخْلُ فِي مِصْرَ.
(Pohon kurma banyak di Mesir.)
Contoh Jumlah Mufidah dalam al Quran
Contoh al jumlatul mufidah dalam al Quran sangat banyak sekali, berikut diantaranya;
الْحَمْدُ لِلَّهِ
Alhamdulillah artinya Segala puji bagi Allah
هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Huwallahu Ahad artinya Dialah Allah, Yang Maha Esa
Contoh jumlatul mufidah dalam Qs Yasin ayat 40 ini cukup banyak:
لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي ini jumlah almufidah dari mubatada-khobar
يَنْبَغِي لَها أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ contoh susunan fi’il dengan fa’il berikut ma’ful bih-nya
وَلا اللَّيْلُ سابِقُ النَّهارِ mubtada dengan khabarnya. Hal yang sama juga terdapat pada penggalan terakhir ayat ke-40 dari Surah Yasin ini:
وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
Untuk lebih lengkapnya, Anda bisa melihat contoh mubtada khobar dan fi’il dan fa’il dalam al Quran yang dikaji pada tulisan sebelumnya.
Jumlah Mufidah adalah inti dari struktur kalimat dalam bahasa Arab. Sebagai susunan yang memberikan makna sempurna, Jumlah Mufidah memiliki peran penting dalam tata bahasa Arab, baik dalam komunikasi sehari-hari maupun dalam kajian teks-teks klasik. Dengan memahami pengertian, pembagian, dan penerapannya, kita dapat lebih mudah membaca, menulis, dan memahami bahasa Arab secara menyeluruh.