Surat As-Sajdah Ayat 15 Arab, Latin, Arti, I’rob, dan Tafsirnya

Surat As-Sajdah ayat 15 memotret dengan sangat gamblang bagaimana reaksi orang beriman ketika mendengar firman Allah. Mereka tidak banyak beralasan, tidak mendebat, dan tidak merasa gengsi. Begitu ayat-ayat Allah dibacakan, sikap mereka langsung spontan: merebahkan diri bersujud, membasahi lisan dengan tasbih serta tahmid, dan membuang jauh-jauh rasa sombong dari dalam diri.

Dari peristiwa sujud inilah surah ke-32 dalam mushaf Al-Qur’an ini dinamai, yaitu Surah As-Sajdah. Tepat di akhir ayat ke-15 terdapat tanda khusus yang menandai titik sujud tilawah. Setiap kali ayat ini dibaca atau didengarkan, kita dianjurkan untuk ikut menundukkan kepala ke tanah.

Susunannya ringkas, tetapi pilihan katanya saling mengunci secara luar biasa. Kita bisa menyimak keutuhan bunyi dan artinya pada teks berikut.

Bacaan Surat As-Sajdah Ayat 15 Arab Latin dan Terjemah

Surat As-Sajdah Ayat 15

Mari beribadah dengan membacaya ayat 15 Surah As-Sajdah:

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, dan mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. As-Sajdah: 15)

Surat As-Sajdah Ayat 15 Latin: Innama yu’minu bi-ayatinal-ladzina idza dzukkiru biha kharru sujjadan wa sabbahu bihamdi rabbihim wa hum la yastakbirun.

Di akhir ayat terdapat lambang kubah kecil (۩) yang menandakan bahwa ayat ini termasuk salah satu ayat sajdah dalam Al-Qur’an. Setiap kali kita membaca atau mendengar lantunan ayat ini, ada anjuran kuat untuk melakukan sujud tilawah, baik di dalam salat maupun di luar salat.

Tabel Rincian I’rob dan Tarkib Kata per Kata

Kalau kita perhatikan susunan kata per kata, ayat ini seperti bangunan yang setiap bagiannya saling menopang secara kokoh. Kitab-kitab i’rob rujukan seperti I’rab al-Qur’an wa Bayanuhu karya Muhyiddin Ad-Darwisy dan At-Tibyan fi I’rab al-Qur’an karya Imam Al-‘Ukbari menguraikan kedudukan tata bahasanya sebagai berikut:

Lafazh / Kata Jenis Kalimah Kedudukan (I’rob) Penjelasan Kaidah dan Tanda
إِنَّمَا Kaffah wa Makfufah Adatul Hashr / Qashr Tersusun dari huruf inna dan ma kaffah yang membatalkan amalnya, berfungsi membatasi makna bahwa kriteria orang beriman yang sebenarnya tercermin dari sifat-sifat dalam ayat ini.
يُؤْمِنُ Fi’il Mudhari’ Rafa’ (Marfu’) Bebas dari amil nashab dan jazm, tanda rafa’ berupa dhammah zhahirah pada huruf nun.
بِآيَاتِ Huruf Jar + Isim Jar (Majrur) Huruf ba’ jar mabni kasrah. Lafazh ayati majrur dengan kasrah karena jamak mu’annats salim, sekaligus berkedudukan sebagai mudhaf. Jar-majrur berkaitan (muta’alliq) dengan fi’il yu’minu.
نَا Isim Dhomir Mudhaf Ilaih Dhomir muttashil jamak mutakallim mabni sukun fi mahalli jarrin sebagai mudhaf ilaih.
الَّذِينَ Isim Maushul Fa’il (Subjek) Mabni fathah fi mahalli raf’in sebagai fa’il (pelaku) dari fi’il yu’minu.
إِذَا Zharf Zaman Syarthiyyah Nashab (Fi Mahalli Nashbin) Zharf waktu mendatang yang memuat makna syarat tidak menjazmkan, berkaitan dengan jawab syaratnya yaitu lafazh kharru.
ذُكِّرُوا Fi’il Madhi Majhul Mabni Dhammah Fi’il madhi pasif bersambung dengan wawu jama’ah. Wawu jama’ah mabni sukun fi mahalli raf’in sebagai na’ibul fa’il. Kalimat ini (jumlah fi’liyyah) berposisi fi mahalli jarrin mudhaf ilaih bagi idza.
بِهَا Jar wa Majrur Muta’alliq bi Dzukkiru Huruf ba’ jar bersama dhomir ha mu’annats ghaibah mabni sukun, berkaitan maknanya dengan fi’il dzukkiru.
خَرُّوا Fi’il Madhi + Fa’il Jawab Syarat Mabni dhammah karena bersambung wawu jama’ah. Wawu jama’ah mabni sukun fi mahalli raf’in sebagai fa’il. Seluruh rangkaian syarat dan jawab ini menjadi shilah maushul bagi alladzina (tidak memiliki tempat i’rob).
سُجَّدًا Isim (Jamak Taksir) Haal (Keterangan Keadaan) Manshub dengan fathah zhahirah, menjelaskan keadaan pelaku saat tersungkur. Merupakan bentuk jamak dari lafazh saajid.
وَسَبَّحُوا Huruf ‘Athaf + Fi’il Madhi Ma’thuf Huruf wawu ‘athaf menghubungkan fi’il sabbahu kepada fi’il kharru. Wawu jama’ah berkedudukan sebagai fa’il.
بِحَمْدِ رَبِّهِمْ Jar Majrur + Mudhaf Ilaih Muta’alliq bi Haal Mahdzuf Huruf ba’ jar bermakna mushahabah (serta). Hamdi majrur kasrah sekaligus mudhaf. Rabbi mudhaf ilaih majrur kasrah sekaligus mudhaf. Him dhomir jamak mabni kasrah fi mahalli jarrin mudhaf ilaih.
وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ Jumlah Ismiyyah Haal (Jumlah Haliyyah) Wawu haliyyah. Hum dhomir munfashil mubtada’ fi mahalli raf’in. La nafiyah. Yastakbirun fi’il mudhari’ marfu’ dengan tsubut nun (af’alul khamsah) sebagai khabar. Seluruh kalimat berposisi fi mahalli nashbin haal.

Membedah Logika Bahasa dalam Surat As-Sajdah Ayat 15

Nah, kalau kita telaah lebih dekat, Al-Qur’an tidak sedang sekadar merangkai kata-kata indah. Setiap pilihan kata kerja, bentuk kalimat, sampai tanda i’rob di sini punya peran logis untuk menjelaskan bagaimana sikap seorang hamba di hadapan firman Tuhannya.

Ada empat simpul tata bahasa penting yang membangun jalan pikiran ayat ini:

1. Kunci Pembatasan Lewat Kata Innama (إِنَّمَا)

Pertanyaan yang wajar muncul saat membaca ayat ini: kenapa Allah tidak langsung memakai kalimat berita biasa, semisal “orang-orang beriman itu bersujud saat diingatkan”?

Kenapa harus diawali dengan kata innama?

Dalam tata bahasa Arab, kata innama tersusun dari huruf inna dan huruf ma. Susunan ini biasa disebut kaffah wa makfufah. Masuknya ma memang menghentikan tugas inna yang biasanya menashabkan isim. Namun dari sisi makna, gabungan ini menghasilkan fungsi pembatasan yang sangat tegas, yaitu al-qashr atau al-hashr.

Maksudnya bagaimana?

Artinya, predikat orang beriman yang sejati itu dikunci hanya bagi mereka yang memenuhi kriteria dalam ayat ini. Reaksi spontan saat mendengar ayat Allah dijadikan tolok ukur utama. Kalau ada orang mengaku beriman, tetapi saat dinasihati dengan ayat-ayat Allah ia justru mendebat, mencari-cari dalih pembenaran, atau merasa tersinggung, cara bersikapnya membuktikan bahwa pengakuan imannya belum utuh.

2. Rahasia Kata Pasif pada Dzukkiru Biha (ذُكِّرُوا بِهَا)

Setelah mengunci kriteria di awal, ayat ini melangkah ke syarat pemicunya: idza dzukkiru biha (apabila mereka diperingatkan dengannya).

Perhatikan bentuk kata kerjanya. Allah tidak menggunakan kata kerja aktif seperti dzakarahum (seseorang mengingatkan mereka), melainkan kata kerja pasif (fi’il madhi majhul) yaitu dzukkiru. Subjek atau pelakunya sengaja tidak dimunculkan.

Kenapa pelakunya tidak dimunculkan?

Sebenarnya persoalannya sangat membumi. Dalam pergaulan sehari-hari, penyakit umum manusia saat dinasihati adalah terjebak melihat siapa yang berbicara. Kalau yang menasihati adalah orang yang posisinya dianggap lebih rendah atau orang yang tidak disukai, ego manusia sering kali langsung menolak: “Siapa kamu berani menasihati saya?”

Nah, Al-Qur’an menghapus sekat itu lewat bentuk pasif dzukkiru. Bagi orang yang beriman, fokusnya bukan pada siapa perantaranya, melainkan pada apa isi peringatannya. Selama yang dibawakan adalah ayat-ayat Allah, rasa gengsi itu luruh seketika.

3. Gerakan Cepat pada Kharru dan Penjelas Sujjadan (خَرُّوا سُجَّدًا)

Begitu peringatan itu datang, apa yang terjadi? Ayat ini melanjutkannya dengan kalimat: kharru sujjadan.

Kenapa tidak memakai kata kerja biasa seperti fasajadu yang artinya “lalu mereka bersujud”?

Kata kharra dalam bahasa Arab menggambarkan gerakan tubuh yang jatuh tersungkur secara cepat dan spontan, seolah kehilangan daya untuk berdiri tegak karena rasa takjub dan gentar. Tidak ada jeda untuk menimbang-nimbang, tidak ada waktu untuk ragu.

Tetapi tersungkur saja belum cukup jelas. Orang yang tersandung atau pingsan kan juga bisa tersungkur?

Di sinilah kata sujjadan masuk sebagai haal (keterangan keadaan pelaku). Kata ini merupakan bentuk jamak taksir dari saajid, mengikuti wazan fu’ ‘al. Keberadaan haal ini menegaskan arah dari kejatuhan mereka: mereka tersungkur bukan karena hilang kendali, melainkan secara sadar menjatuhkan dahi ke tanah dalam posisi sujud.

Setelah itu, perbuatan fisik ini langsung disambung dengan lisan: wa sabbahu bihamdi rabbihim (dan mereka bertasbih memuji Tuhannya). Gerakan badan dan ucapan lisan menyatu seketika.

4. Kunci Rendah Hati pada Wa Hum La Yastakbirun (وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ)

Ayat ini kemudian ditutup dengan kalimat yang sangat menentukan: wa hum la yastakbirun (dan mereka tidak menyombongkan diri).

Secara kedudukan nahwu, seluruh kalimat ini berstatus sebagai jumlah haliyyah (keterangan keadaan yang menyertai perbuatan). Huruf wawu di depannya adalah wawu hal, disusul hum sebagai mubtada’, dan kalimat negatif la yastakbirun sebagai khabar.

Kenapa penegasan ini diletakkan di ujung?

Logikanya sederhana. Gerakan sujud itu kelihatan dari luar dan bisa ditiru oleh siapa saja. Seseorang bisa saja merendahkan dahinya serendah-rendahnya ke tanah, tetapi di dalam hatinya masih menyimpan rasa lebih hebat dari orang lain, merasa paling benar, atau enggan menerima kebenaran syariat.

Dengan menempatkan kalimat ini sebagai haal, Al-Qur’an menegaskan bahwa sujud fisik dan pujian lisan baru punya bobot nyata di sisi Allah apabila pelakunya benar-benar bersih dari rasa sombong. Tunduknya kepala di atas tanah harus sejalan dengan kerendahan hati dalam menerima kebenaran.

Sudut Pandang Para Ulama Tafsir

Kalau kita membaca penjelasan para ulama tafsir, mereka melihat ayat ini bukan sekadar catatan tentang ibadah sujud, melainkan cermin tentang bagaimana keimanan bekerja saat berhadapan dengan nasihat.

Imam Ath-Thabari menyoroti betapa kontrasnya gambaran ini dengan watak orang-orang yang ingkar. Bagi beliau, ayat ini membuat garis pemisah yang sangat tegas. Orang yang hatinya menolak kebenaran biasanya akan mencari seribu dalih atau berpaling saat dibacakan firman Allah. Sebaliknya, orang beriman tidak menunda-nunda kepatuhan; begitu mendengar ayat Allah, mereka langsung merendahkan diri tanpa menunggu diminta berkali-kali.

Keterpaduan itu dipertegas lagi oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir. Beliau melihat ada kerja sama yang sangat serasi antara perbuatan lahir dan ucapan. Sujud di atas tanah adalah bukti tindakan nyata, sedangkan tasbih dan tahmid adalah pengakuan lisan. Keduanya berjalan serempak, tidak timpang sebelah.

Lalu, kenapa tasbih harus digandengkan dengan tahmid?

Di sinilah Imam Al-Qurthubi memberikan penjelasan yang mengena. Tasbih itu pada hakikatnya adalah penyucian, yaitu membersihkan Allah dari segala sifat kekurangan dan prasangka buruk. Sedangkan tahmid adalah penetapan, memuji kesempurnaan Allah atas segala nikmat dan petunjuk-Nya. Jadi, ketika seseorang meletakkan dahinya di tanah sambil melafalkan tasbih dan tahmid, ia sedang menempatkan dirinya pada posisi yang paling tepat: mengakui bahwa dirinya serba lemah, dan mengakui bahwa Tuhannya Maha Sempurna.

Penjelasan ini sejalan dengan uraian ringkas dalam Tafsir al-Jalalain karya Imam Al-Mahalli dan As-Suyuthi. Mereka memaknai kata dzukkiru biha sebagai dinasihati dengan ayat-ayat Allah. Reaksi spontan orang beriman adalah langsung menyungkur sujud seraya melafalkan pujian, tanpa menyisakan sedikit pun rasa gengsi untuk menerima kebenaran.

Kaitan Erat dengan Ibadah Sujud Tilawah

Ayat ke-15 Surat As-Sajdah ini bukan hanya untuk dibaca lalu dilewati begitu saja. Dalam pengamalannya, ayat ini terhubung langsung dengan sebuah anjuran ibadah praktis, yaitu sujud tilawah.

Setiap kali seorang Muslim membaca atau mendengar ayat ini dilantunkan, baik ketika sedang menunaikan salat maupun di luar salat, ia dianjurkan untuk langsung melakukan sujud satu kali. Amalan ini menjadi wujud nyata dari apa yang dipuji oleh Allah dalam ayat tersebut.

Mengenai bagaimana tata cara pelaksanaannya, doa yang dibaca saat sujud, hingga apa yang bisa dibaca apabila sedang dalam kondisi berhalangan, ulasan lengkapnya bisa dipelajari pada panduan bacaan sujud tilawah.

Selain itu, jika kita memperhatikan mushaf Al-Qur’an terbitan Kemenag, tepat di ujung ayat ke-15 ini tercantum simbol kecil menyerupai kubah atau mihrab. Tanda tersebut berfungsi sebagai penunjuk titik sajdah agar pembaca mengetahui kapan disunnahkan untuk bersujud. Rincian mengenai ragam simbol dan penanda pada mushaf dapat dipelajari lebih jauh pada pembahasan tanda baca Al-Qur’an.

Bagi yang ingin menyimak keseluruhan surah dari ayat pertama sampai ayat ke-30 secara utuh, mushaf digital yang jernih juga bisa diakses melalui portal surah as sajdah lengkap.

Cermin Perilaku dalam Kehidupan Sehari-hari

Kalau kita tarik ke kehidupan sehari-hari, Surat As-Sajdah ayat 15 ini sebenarnya menyodorkan cermin yang sangat jernih untuk menguji diri kita sendiri.

Ujian keimanan seseorang sering kali bukan datang saat ia sedang dipuji atau sedang merasa nyaman beribadah, melainkan saat ia diingatkan dengan sebuah kebenaran. Mau tidak ia menurunkan rasa gengsinya?

Secara naluriah, manusia kerap merasa tidak nyaman ketika ditegur. Ego kita cenderung ingin membela diri, mencari-cari alasan, atau malah menyerang balik orang yang menegur. Nah, orang beriman dalam ayat ini mengajarkan jalan yang sebaliknya. Ketika yang hadir adalah firman Allah, mereka tidak sibuk berdebat kusir atau memikirkan harga diri, melainkan langsung menyambut teguran itu dengan rendah hati.

Kebiasaan merendahkan dahi ke tanah—baik dalam salat maupun lewat sujud tilawah—pada hakikatnya adalah latihan rutin agar kepala kita tidak mudah mendongak sombong. Sebab kalau bagian tubuh yang paling kita muliakan sudah terbiasa ditaruh sejajar dengan tanah di hadapan Allah, dari mana lagi kita punya alasan untuk merasa lebih tinggi di hadapan sesama manusia?

Begitu pula dengan lisan yang dibiasakan bertasbih dan bertahmid. Kebiasaan ini melatih kita agar tidak mudah merasa paling berjasa atas apa pun yang kita capai. Kebaikan apa pun yang bisa kita lakukan, ilmunya berasal dari Allah dan kesempatannya adalah karunia dari-Nya.

Kesimpulan

Surat As-Sajdah ayat 15 memberikan gambaran yang sangat terang mengenai ciri orang-orang beriman. Ciri itu terlihat dari reaksi mereka saat mendengar firman Allah: segera menyungkur bersujud, melafalkan tasbih dan tahmid, serta membuang jauh-jauh rasa sombong dari dalam diri.

Dari kacamata tata bahasa Arab, susunan kata dalam ayat ini bekerja mengunci pesan tersebut secara sangat rapi. Kata innama menegaskan pembatasan kriteria keimanan, bentuk pasif pada dzukkiru mengalihkan fokus dari perantara kepada firman yang diingatkan, sedangkan kedudukan sujjadan dan wa hum la yastakbirun sebagai haal memastikan bahwa ketundukan fisik di atas tanah harus selaras dengan kerendahan hati. Menghayati ayat ini mengajak kita untuk selalu berlapang dada menerima kebenaran dan menghidupkan anjuran sujud tilawah dalam keseharian.