15 Ayat Sajdah dalam Al-Qur’an: Lokasi, Tanda Mushaf, dan Hukum 4 Mazhab

Pernahkah kita mendengar orang menyebut istilah “15 surat sajdah”? Nah, sebutan itu sebenarnya salah kaprah yang cukup lumrah terjadi di tengah masyarakat.

Di dalam Al-Qur’an, angka 15 tersebut bukanlah jumlah surah mandiri yang bernama sajdah, melainkan jumlah titik atau lokasi ayat sajdah yang tersebar di 14 surah berbeda. Bahkan, salah satu surah—yakni Surah Al-Hajj—memuat dua ayat sajdah sekaligus.

Ketika membaca atau mendengarkan ayat-ayat ini, kita disunnahkan untuk bersujud ke hadirat Allah melalui sujud tilawah.

Salah satu titik yang paling akrab di telinga kita adalah ayat ke-15 pada Surah As-Sajdah yang rutin dibaca para imam saat salat Subuh berjamaah setiap hari Jumat. Agar kita tidak salah mengenali letak dan hukumnya, mari kita bedah bersama sebaran lengkap 15 lokasi ayat sajdah, tanda visualnya di mushaf standar, pandangan empat mazhab, hingga tata cara praktisnya.

15 Ayat Sajdah, Bukan 15 Surat Sajdah

Kalau kita perhatikan pencarian di internet, kata kunci “15 surat sajdah” memang cukup sering diketik orang. Sebagian orang membayangkan ada lima belas surah yang seluruh isinya bertema sujud atau bernama sajdah. Sebenarnya persoalan istilah ini bisa kita dudukkan secara sederhana lewat kaidah Ulumul Qur’an:

  • Nama Resmi Surah: Dari 114 surah dalam mushaf, surah yang menyandang nama resmi Surah As-Sajdah hanya satu, yaitu surah ke-32 yang terdiri atas 30 ayat. Memang ada Surah Fussilat (surah ke-41) yang kerap dijuluki Ha Mim As-Sajdah, tetapi itu sekadar nama lain untuk menandai adanya ayat sajdah di dalamnya, bukan surah terpisah yang bernama sama.
  • Sebaran Ayat Sajdah: Lima belas titik sujud tersebut tersebar di berbagai surah, mulai dari Al-A’raf, Ar-Ra’d, An-Nahl, Al-Isra’, Maryam, Al-Hajj, Al-Furqan, An-Naml, As-Sajdah, Shad, Fussilat, An-Najm, Al-Insyiqaq, sampai Al-‘Alaq. Jadi, yang sajdah adalah ayatnya, bukan seluruh isi surahnya.
  • Surah dengan Dua Sajdah: Dari keempat belas surah tersebut, Surah Al-Hajj menjadi satu-satunya surah istimewa yang memiliki dua titik sajdah sekaligus, yakni pada ayat ke-18 dan ayat ke-77.

Daftar Lengkap 15 Lokasi Ayat Sajdah dalam Mushaf Al-Qur’an

Nah, di mana saja letak persis kelima belas ayat tersebut? Untuk memudahkan kita memetakan bacaan saat tilawah harian maupun hafalan, berikut tabel lengkap rincian surah, nomor ayat, letak juz, beserta lafazh ayat sucinya:

No. Surah & Ayat Juz Teks Ayat Sajdah
1 QS. Al-A’raf: 206 Juz 9 إِنَّ الَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ ۩
2 QS. Ar-Ra’d: 15 Juz 13 وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُم بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ۩
3 QS. An-Nahl: 49-50 Juz 14 وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ … وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩ يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ۩
4 QS. Al-Isra’: 109 Juz 15 وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ۩
5 QS. Maryam: 58 Juz 16 إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا ۩
6 QS. Al-Hajj: 18 Juz 17 أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ … إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ ۩
7 QS. Al-Hajj: 77 Juz 17 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۩
8 QS. Al-Furqan: 60 Juz 19 وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا ۩
9 QS. An-Naml: 25-26 Juz 19 أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ … اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ۩
10 QS. As-Sajdah: 15 Juz 21 إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩
11 QS. Shad: 24 Juz 23 وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ ۩
12 QS. Fussilat: 37-38 Juz 24 لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ … وَهُمْ لَا يَسْأَمُونَ ۩
13 QS. An-Najm: 62 Juz 27 فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا ۩
14 QS. Al-Insyiqaq: 21 Juz 30 وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ ۩
15 QS. Al-‘Alaq: 19 Juz 30 كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب ۩

Kalau kita cermati daftar di atas, ayat sajdah nomor 10—yakni ayat ke-15 dalam Surah As-Sajdah—memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam rutinitas ibadah kita karena rutin dilantunkan setiap Subuh Jumat.

Bagi yang ingin menelaah kedudukan i’rob kata per kata, telaah balaghah, dan tafsirnya secara mendalam, pembahasannya telah diulas tersendiri pada artikel telaah Surah As-Sajdah ayat 15.

Mengenal Tanda Ayat Sajdah dalam Mushaf Al-Qur’an

Bagaimana cara kita mengenali bahwa ayat yang sedang kita baca adalah ayat sajdah saat membuka mushaf? Para ulama ahli rasm mushaf sudah merumuskan penanda visual yang sangat rapi dan baku agar pembaca tidak terlewat. Sebagaimana dijelaskan dalam panduan tanda baca Al-Qur’an, ada tiga penanda khas yang bisa kita temukan langsung di mushaf cetak standar:

  1. Garis Lurus Horizontal (Khat): Terdapat garis tipis tepat di atas lafazh yang menjadi pemicu perintah sujud, seperti di atas kata yasjudun, usjudu, atau kharru sujjadan. Garis ini memberi petunjuk bahwa inti makna sujud berada pada kata tersebut.
  2. Simbol Kubah atau Mihrab (۩): Di akhir ayat setelah lingkaran nomor ayat, dicantumkan ornamen berbentuk kubah masjid atau mihrab kecil (۩). Simbol inilah batas akhir ayat tempat kita dianjurkan mulai melakukan sujud tilawah.
  3. Catatan Pinggir (Hamisy): Pada pias margin luar halaman mushaf yang sejajar dengan baris ayat tersebut, biasanya tertulis kaligrafi kecil bertuliskan as-sajdah (السجدة). Tujuannya sederhana: agar mata kita langsung bersiap sebelum ayat selesai dibaca.

Perbandingan Hukum dan Jumlah Ayat Sajdah Lintas Empat Mazhab

Nah, kalau soal berapa jumlah pasti ayat sajdah dan bagaimana hukum menjalankannya, para ulama empat mazhab ternyata memiliki rincian pandangan yang berbeda. Perbedaan ini wajar dan berakar dari cara pandang masing-masing mazhab dalam memahami hadits Nabawi serta amalan para sahabat:

Mazhab Jumlah Titik Status Hukum Rincian Pendapat dan Argumen
Mazhab Syafi’i 14 (atau 15) Sunnah Muakkadah Menetapkan 14 titik sujud tilawah (termasuk 2 sajdah dalam Surah Al-Hajj dan 3 surah Mufashshal: An-Najm, Al-Insyiqaq, Al-‘Alaq). Adapun sujud pada QS. Shad: 24 dihukumi sebagai sujud syukur atas taubatnya Nabi Dawud, bukan sujud tilawah salat. Jika dihitung total tempat yang disunnahkan sujud di mushaf, jumlahnya mencapai 15 tempat.
Mazhab Hanafi 14 Tempat Wajib Menghukumi sujud tilawah sebagai wajib bagi pembaca dan pendengar berdasarkan keumuman perintah sujud. Menetapkan 14 tempat dengan memasukkan QS. Shad: 24, namun hanya mengakui satu sajdah dalam Surah Al-Hajj (ayat 18 saja; ayat 77 tidak dihitung karena dipahami sebagai perintah ruku dan sujud salat biasa).
Mazhab Maliki 11 Tempat Sunnah Hanya menetapkan 11 ayat sajdah. Mazhab Maliki tidak menghitung ayat sajdah pada surah-surah Mufashshal (An-Najm, Al-Insyiqaq, Al-‘Alaq) dan menolak sajdah kedua pada Surah Al-Hajj ayat 77 berdasarkan amalan penduduk Madinah tempo dulu.
Mazhab Hanbali 15 Tempat Sunnah Muakkadah Mengakui seluruh 15 tempat secara utuh, mencakup kedua ayat sajdah dalam Surah Al-Hajj, ketiga surah Mufashshal, serta sujud pada QS. Shad ayat 24 sebagai sujud tilawah yang sah dikerjakan di dalam maupun di luar salat.

Di Indonesia, amalan fikih mayoritas kaum Muslimin berpegang pada Mazhab Syafi’i. Kita menempatkan sujud tilawah sebagai sunnah muakkadah dengan 14 titik resmi di dalam salat. Sementara untuk ayat ke-24 dalam Surah Shad, para ulama Syafi’iyyah memandangnya sebagai sujud syukur atas taubatnya Nabi Dawud, sehingga sunnah dilakukan di luar salat dan tercegah (tidak sah) apabila dikerjakan sengaja di dalam salat tanpa mengikuti imam.

Sujud Tilawah dan Dzikir Pengganti saat Berhalangan

Ketika membaca atau mendengar salah satu dari 15 ayat sajdah, respons terbaik kita adalah menyegerakan sujud tilawah. Doa ma’tsur yang paling masyhur dan shahih dibaca bersumber dari riwayat Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Untuk rincian lafazh doa versi sahabat Ibnu Abbas ra, alternatif bacaan tasbih biasa, serta tata cara pelaksanaan sujud baik di dalam salat maupun di luar salat, pembaca bisa menyimak panduan lengkapnya pada kajian bacaan sujud tilawah sebelumnya.

Dzikir Pengganti saat Tidak Memungkinkan Bersujud Fisik

Dalam realitas sehari-hari, situasi kita tentu tidak selalu memungkinkan untuk langsung bersujud ke lantai. Kadang kita sedang menyetir kendaraan, berdiri di dalam angkutan umum yang padat, berada di tempat yang kotor, atau sedang belum berwudhu. Lalu, apakah kesempatan beribadah itu hilang begitu saja?

Nah, para ulama fikih Mazhab Syafi’i—sebagaimana dicatat dalam kitab I’anatuth Thalibin, Nihayatul Muhtaj, dan Hasyiyah Al-Bajuri—memberikan jalan keluar berupa kompensasi lisan (badal). Caranya adalah dengan membaca kalimat thayyibah sebanyak empat kali:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.” (Dibaca 4 kali)

Sebenarnya persoalan dalilnya perlu kita dudukkan secara jujur: anjuran dzikir empat kali ini merupakan hasil ijtihad ulama fikih, bukan hadits marfu’ dari Rasulullah ﷺ. Tujuannya agar lisan kita tetap aktif mengagungkan Allah saat raga sedang terhalang untuk bersujud secara fisik.

Kesimpulan

Kesimpulannya, istilah 15 surat sajdah yang sering kita temukan di masyarakat sebenarnya salah kaprah penyebutan. Yang benar adalah 15 lokasi atau titik ayat sajdah yang tersebar di 14 surah, dengan Surah Al-Hajj memuat dua ayat sajdah sekaligus.

Keberadaan tanda garis mendatar (khat) dan simbol kubah (۩) di mushaf membantu kita mengenali kapan saat yang disunnahkan untuk bersujud. Dengan memahami peta sebaran ayat ini serta tata cara fikihnya, tilawah kita sehari-hari insya Allah menjadi lebih tertib, hidup, dan penuh pemahaman.