Pengertian dan Contoh Fiil Amr

Kajian mengenai fiil amr (kata kerja perintah) tidak dapat dipisahkan dari pembahasan fiil mudhari. Dalam disiplin ilmu nahwu dan sharaf, kedua jenis kata kerja ini memiliki relasi morfologis (bangunan sighat) yang sangat erat, karena bentuk fiil amr hakikatnya diderivasi langsung dari pola fiil mudhari’nya.

Meskipun memiliki keterkaitan konstruksi, fiil amr memiliki karakteristik gramatika tersendiri yang membedakannya secara fungsional maupun hukum i’rob dari fiil madhi dan fiil mudhari. Artikel ini mengupas secara tuntas hakikat pengertian fiil amr, proses pembentukannya, kaidah mabni, tabel tasrif, hingga contoh penerapannya dalam kalimat bahasa Arab dan ayat suci Al-Qur’an.

Asal-Usul Pembentukan Fiil Amr

fiil-amr

Dalam tata bahasa Arab, pembagian kalimat fi’il berdasarkan aspek waktu (zaman) terbagi menjadi tiga: fi’il madhi (lampau), fi’il mudhari’ (sekarang atau akan datang), dan fi’il amr (tuntutan di masa mendatang). Secara historis morfologi bahasa Arab, fiil amr terbentuk dari fiil mudhari’ yang berkedudukan jazm.

Proses kelahiran fi’il amr bermula dari fi’il mudhari’ yang dimasuki oleh huruf lam amr (لَامُ الْأَمْرِ), yaitu huruf lam berharakat kasrah (لِـ) yang berfungsi memberikan makna perintah sekaligus menjazmkan fi’il. Contohnya:

  • Fi’il mudhari’ bentuk ghaib: يَضْرِبُ (artinya: “ia sedang atau akan memukul”), ketika dimasuki lam amr menjadi لِيَضْرِبْ (artinya: “hendaklah ia memukul”). Bentuk ini diistilahkan para ulama nahwu sebagai amr ghaib (أَمْرُ الْغَائِبِ).
  • Fi’il mudhari’ bentuk mukhatab (lawan bicara): تَضْرِبُ (artinya: “engkau sedang atau akan memukul”), ketika dimasuki lam amr menjadi لِتَضْرِبْ (artinya: “hendaklah engkau memukul”). Bentuk mukhatab inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya fiil amr hadhir (أَمْرُ الْحَاضِرِ) atau fi’il amr murni.

Karena frekuensi penggunaan kata perintah kepada lawan bicara langsung sangat tinggi, bangsa Arab melakukan proses peringan lafazh (takhfif):

  1. Huruf lam amr pada لِتَضْرِبْ dibuang untuk meringankan pengucapan, menyisakan bentuk sukun: تَضْرِبْ.
  2. Agar tidak rancu (iltibas) dengan bentuk fiil mudhari’ yang dibaca jazm oleh amil lain, maka huruf mudhara’ah (huruf تـ di awal) turut dibuang, sehingga tersisa susunan konsonan: ضْرِبْ.
  3. Dalam kaidah fonetik bahasa Arab, huruf mati (konsonan sukun) di awal kata tidak mungkin dapat dilafalkan langsung (la yubtada’u bis-sakin). Oleh karena itu, didatangkanlah hamzah washal (هَمْزَةُ الْوَصْلِ) sebagai jembatan artikulasi, menghasilkan bentuk baku: اِضْرِبْ (artinya: “pukullah!”).

Bentuk inilah yang dikenal luas dalam gramatika Arab sebagai fiil amr hadhir, atau fi’il amr bis-sighah (perintah langsung melalui bentuk kata kerja itu sendiri).

Pengertian Fiil Amr Menurut Bahasa dan Istilah Nahwu

Secara etimologi (bahasa), kata amr (أَمْر) bermakna tuntutan untuk mengerjakan suatu perbuatan secara mutlak (طَلَبُ الْفِعْلِ), tanpa memandang tingkatan kedudukan antara yang memerintah dan yang diperintah.

Adapun menurut terminologi ulama nahwu, fi’il amr (فِعْلُ الْأَمْرِ) didefinisikan sebagai:

مَا دَلَّ عَلَى طَلَبِ حُصُولِ شَيْءٍ فِي الْمُسْتَقْبَلِ بِنَفْسِ الصِّيغَةِ مِنْ غَيْرِ لَامِ الْأَمْرِ

“Kata kerja yang menunjukkan tuntutan terjadinya suatu perbuatan pada masa mendatang melalui sighat (bentuk kata) itu sendiri, tanpa perantara lam amr.”

مَا دَلَّ عَلَى طَلَبِ حُصُولِ شَيْءٍ فِي الْمُسْتَقْبَلِ بِنَفْسِ الصِّيغَةِ مِنْ غَيْرِ لَامِ الْأَمْرِ

Ciri utama yang membedakan fiil amr dari kalimat lainnya adalah kemampuannya memenuhi dua kriteria secara bersamaan:

  1. Memiliki makna thalab (tuntutan perbuatan di masa yang akan datang).
  2. Dapat menerima ya’ mu’annatsah mukhatabah (يَاءُ الْمُؤَنَّثَةِ الْمُخَاطَبَةِ), yaitu huruf ya penanda lawan bicara perempuan tunggal, seperti firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an Surat Al-Fajr ayat 28:

ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

Artinya: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya.” (QS. Al-Fajr: 28)

Lafazh ارْجِعِي adalah fi’il amr karena menunjukkan tuntutan perbuatan dan bersambung langsung dengan ya’ mukhatabah.

Kaidah dan Cara Membuat Fiil Amr

Untuk menyusun fi’il amr dari fi’il tsulatsi mujarrad, kita berpijak pada pola contoh fiil mudhari mukhatabnya. Langkah-langkah pembentukannya adalah:

  1. Ambil fi’il mudhari’ untuk mukhatab tunggal (misal: تَفْتَحُ, تَنْصُرُ, تَضْرِبُ).
  2. Sukunkan (jazmkan) huruf akhirnya: تَفْتَحْ, تَنْصُرْ, تَضْرِبْ.
  3. Buang huruf mudhara’ah di awal (تـ): menyisakan فْتَحْ, نْصُرْ, ضْرِبْ.
  4. Amati huruf pertama setelah huruf mudhara’ah dibuang:
    • Jika huruf pertama sukun (mati): Wajib menambahkan hamzah washal (ا) di depannya agar kata tersebut dapat dibaca.
    • Jika huruf pertama berharakat (hidup): Tidak perlu menambahkan hamzah washal, biarkan sesuai bentuk aslinya. Contoh pada fi’il ruba’i bab tafil: تُفَرِّحُ dijazmkan menjadi تُفَرِّحْ, setelah huruf تـ dibuang langsung menjadi فَرِّحْ (artinya: “gembirakanlah!”).

Ketentuan Harakat Hamzah Washal pada Fiil Amr

Dalam fi’il tsulatsi mujarrad, penentuan harakat hamzah washal bergantung pada harakat ‘ain fi’il pada fi’il mudhari’nya:

Kondisi ‘Ain Fi’il Harakat Hamzah Contoh Pembentukan Makna
‘Ain fi’il berharakat Fathah Kasrah (اِ) تَفْتَحُ ➔ اِفْتَحْ Bukalah!
‘Ain fi’il berharakat Kasrah Kasrah (اِ) تَضْرِبُ ➔ اِضْرِبْ Pukullah!
‘Ain fi’il berharakat Dhammah Dhammah (اُ) تَنْصُرُ ➔ اُنْصُرْ Tolonglah!

Perlu diperhatikan penulisan hamzah washal pada fi’il tsulatsi: hamzah washal ditulis berupa alif tegak tanpa kepala hamzah di atas maupun di bawahnya (اِفْتَحْ, bukan إِفْتَحْ; dan اُنْصُرْ, bukan أُنْصُرْ). Dari kaidah ini, fi’il madhi كَتَبَ menjadi اُكْتُبْ (artinya: “tulislah!”), dan fi’il madhi دَخَلَ menjadi اُدْخُلْ (artinya: “masuklah!”).

Fiil Amr pada Kata Kerja yang Mengalami I’lal

Pada kata kerja yang memiliki huruf ‘illat (alif, wawu, ya), pembentukan fi’il amr melewati proses kaidah sharaf (i’lal) sehingga bentuk lahiriahnya tampak lebih ringkas:

  • Bina’ Ajwaf (huruf tengah ‘illat): Fi’il fi’il madhi نَامَ (artinya: “tidur”), fi’il mudhari’nya يَنَامُ, bentuk mukhatab jazmnya تَنَمْ (huruf alif dibuang karena bertemunya dua huruf sukun / iltiqa’us-sakinain). Bentuk fi’il amr-nya menjadi نَمْ (artinya: “tidurlah!”). Demikian pula kata قَالَ menjadi قُلْ (artinya: “katakanlah!”).
  • Bina’ Lafif Mafruq (dua huruf ‘illat terpisah): Fi’il madhi وَقَى (artinya: “menjaga”), fi’il mudhari’nya يَقِي. Ketika dibentuk amr, huruf wawu di awal dibuang dan huruf ‘illat di akhir turut dibuang karena tanda jazm, menyisakan satu huruf saja: قِ (artinya: “jagalah” atau “peliharalah!”).
  • Distingsi Penting Fi’il Ata vs Aata:
    • Kata أَتَى – يَأْتِي (artinya: “datang”, tsulatsi mujarrad) fi’il amr-nya adalah ائْتِ (artinya: “datanglah!”).
    • Adapun kata آتَى – يُؤْتِي (artinya: “memberi”, ruba’i bab af’ala) fi’il amr-nya adalah آتِ (artinya: “berilah!”).

Kedua contoh fi’il amr ringkas di atas terhimpun indah dalam doa sapu jagad Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 201:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

Pada ayat di atas, lafazh آتِ (berilah) dan قِ (peliharalah) keduanya berkedudukan sebagai fi’il amr yang bermakna doa permohonan (thalabud-du’a).

Hukum Mabni Fiil Amr

Menurut mazhab ulama Bashrah yang menjadi konsensus jumhur ahli nahwu, seluruh fi’il amr berhukum mabni (tidak mengalami perubahan harakat i’rob). Kaidah induk yang berlaku adalah:

يُبْنَى فِعْلُ الْأَمْرِ عَلَى مَا يُجْزَمُ بِهِ مُضَارِعُهُ

“Fi’il amr dimabnikan di atas tanda jazm fi’il mudhari’nya.”

Berdasarkan akhir kalimah dan unsur yang bersambung dengannya, fi’il amr memiliki empat keadaan mabni:

Tanda Mabni Syarat dan Kondisi Kalimat Contoh Lafazh Keterangan
Mabni Sukun 1. Fi’il shahih akhir dan tidak bersambung dengan sesuatu di akhirnya.
2. Bersambung dengan nun niswah (jamak muannats).
اِضْرِبْ
اِضْرِبْنَ
Bentuk asal mabni amr.
Huruf ba’ sukun sebelum nun.
Mabni Hadzfu Harfil ‘Illah Fi’il mu’tal akhir (berakhiran huruf alif, wawu, atau ya’). Huruf ‘illat dibuang sebagai penanda mabni. اِرْضَ (asal: يَرْضَى)
اُدْعُ (asal: يَدْعُو)
اِرْمِ (asal: يَرْمِي)
Alif dibuang (fathah tersisa).
Wawu dibuang (dhammah tersisa).
Ya’ dibuang (kasrah tersisa).
Mabni Hadzfun Nun Fi’il amr yang mudhari’nya berupa af’alul khamsah (bersambung dengan alif tasniyah, wawu jamak, atau ya’ mukhatabah). اُكْتُبَا (berdua)
اُكْتُبُوا (kalian pria)
اُكْتُبِي (engkau wanita)
Huruf nun di akhir dibuang sebagaimana tanda jazm pada af’alul khamsah.
Mabni Fathah Bersambung langsung dengan nun taukid tsaqilah (bertasydid) atau nun taukid khafifah (sukun) untuk penegasan perintah. اِضْرِبَنَّ
اِضْرِبَنْ
Mabni fathah pada huruf ba’ demi kelancaran artikulasi taukid.

Tabel Tasrif Lughawi Fiil Amr (6 Dhomir Khithab)

Karena perintah hanya ditujukan kepada orang kedua (lawan bicara langsung), tasrif lughawi fiil amr hanya memiliki 6 bentuk perubahan sighat mengikuti dhamir khithab:

Dhamir Khithab Bentuk Fiil Amr Arti Kalimat Status Fa’il & Mabni
Anta (أَنْتَ)
1 Laki-laki
اُكْتُبْ Tulislah engkau (1 pria)! Mabni sukun. Fa’il berupa dhomir mustatir wujuban takdirnya أَنْتَ.
Antuma (أَنْتُمَا)
2 Laki-laki
اُكْتُبَا Tulislah kalian berdua (pria)! Mabni hadzfun nun. Alif tasniyah berkedudukan sebagai fa’il.
Antum (أَنْتُمْ)
Jamak Laki-laki
اُكْتُبُوا Tulislah kalian (banyak pria)! Mabni hadzfun nun. Wawu jamak berkedudukan sebagai fa’il.
Anti (أَنْتِ)
1 Perempuan
اُكْتُبِي Tulislah engkau (1 wanita)! Mabni hadzfun nun. Ya’ mukhatabah berkedudukan sebagai fa’il.
Antuma (أَنْتُمَا)
2 Perempuan
اُكْتُبَا Tulislah kalian berdua (wanita)! Mabni hadzfun nun. Alif tasniyah berkedudukan sebagai fa’il.
Antunna (أَنْتُنَّ)
Jamak Perempuan
اُكْتُبْنَ Tulislah kalian (banyak wanita)! Mabni sukun. Nun niswah berkedudukan sebagai fa’il.

Contoh Kalimat Fiil Amr dalam Bahasa Arab

Berikut beberapa contoh penerapan fiil amr dalam susunan kalimat percakapan sehari-hari beserta penjelasannya:

  1. أَطْعِمْ قِطَّكَ ➔ Beri makanlah kucingmu! (Fi’il amr bab af’ala: أَطْعَمَ – يُطْعِمُ – أَطْعِمْ, mabni sukun).
  2. اُدْعُ الطَّبِيبَ ➔ Panggillah dokter itu! (Fi’il amr bina’ naqish: دَعَا – يَدْعُو – اُدْعُ, mabni hadzful wawu).
  3. اُخْرُجُوا إِلَى الْحُقُولِ ➔ Keluarlah kalian menuju ladang! (Fi’il amr jamak mudzakkar: خَرَجَ – يَخْرُجُ – اُخْرُجُوا, mabni hadzfun nun).
  4. سَاعِدْ أَخَاكَ ➔ Tolonglah saudaramu! (Fi’il amr bab faa’ala: سَاعَدَ – يُسَاعِدُ – سَاعِدْ, mabni sukun).

Contoh Fiil Amr dalam Al-Qur’an

Dalam mushaf Al-Qur’an, terdapat ragam contoh fiil amr dalam Al-Qur’an dengan aneka bentuk makna permohonan doa, bimbingan, maupun perintah syariat:

1. Doa Permohonan Petunjuk (QS. Al-Fatihah: 6)

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Lafazh اهْدِ adalah fi’il amr dari fi’il mu’tal هَدَى – يَهْدِي, berhukum mabni dengan membuang huruf ‘illat ya (hadzful ya’).

2. Perintah Beriman (QS. Al-Baqarah: 13)

آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ

Artinya: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” (QS. Al-Baqarah: 13)

Lafazh آمِنُوا adalah fi’il amr jamak dari آمَنَ – يُؤْمِنُ, berhukum mabni dengan membuang huruf nun (hadzfun nun), dan wawu jamak sebagai fa’il.

3. Perintah Bertasbih dan Beristighfar (QS. An-Nashr: 3)

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.” (QS. An-Nashr: 3)

Ayat di atas memuat dua fi’il amr sekaligus: سَبِّحْ (bab tafil) dan اسْتَغْفِرْ (bab istif’al), yang keduanya berhukum mabni sukun karena berakhiran huruf shahih.

Kesimpulan

Fiil amr adalah kata kerja yang difungsikan untuk menuntut perwujudan suatu perbuatan di masa mendatang melalui bentuk sighatnya sendiri.

Dalam kaidah sharaf, fiil amr hadhir dibentuk dari fiil mudhari’ mukhatab yang dijazmkan, dibuang huruf mudhara’ahnya, serta diberi hamzah washal jika huruf awalnya sukun.

Seluruh fiil amr berstatus mabni dengan empat keadaan:

  • mabni sukun,
  • mabni hadzfu harfil ‘illah,
  • mabni hadzfun nun,
  • atau mabni fathah.

Memahami konstruksi dan kaidah i’rob fiil amr membuka pintu pemahaman mendalam terhadap teks-teks Al-Qur’an, hadits nabawi, dan khazanah literatur kitab turats Islam.