Manshubatul Asma’: Isim-Isim yang Dibaca Nashab

Manshūbātul Asmā’ (مَنْصُوبَاتُ الأَسْمَاءِ)—yang sering juga ditulis mansubatul asma—adalah pembahasan dalam nahwu tentang isim-isim yang dibaca nashab karena posisinya dalam kalimat. Jadi, isim menjadi manshub bukan karena bentuk katanya, tetapi karena fungsi yang ia jalani.

Di bawah ini adalah jenis-jenis mansubatul asma’ yang paling sering ditemui. Penjelasannya artikel ini dibuat singkat dan praktis, karena masing-masing akan dibahas lebih rinci pada artikel lanjutan.

1. Maf‘ul Bih

Maf‘ul bih adalah isim yang menjadi objek langsung dari suatu perbuatan. Ia menjawab pertanyaan “apa” atau “siapa” yang dikenai fi‘il.

Contoh maf‘ul bih:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Kata الْكَوْثَرَ dibaca nashab (fathah) karena berfungsi sebagai maf‘ul bih, yaitu objek dari fi‘il أَعْطَيْنَا. Contoh ini terdapat dalam Surah Al-Kautsar ayat 1.

2. Maf‘ul Muthlaq

Maf‘ul muthlaq digunakan untuk menegaskan, menjelaskan jenis, atau menunjukkan jumlah suatu perbuatan. Biasanya berasal dari kata dasar fi‘il itu sendiri.

Contoh maf‘ul muthlaq:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan sebenar-benar pembicaraan.” Kata تَكْلِيمًا dibaca nashab (tanwin fathah) karena berfungsi sebagai maf‘ul muthlaq, yang menegaskan perbuatan berbicara. Contoh ini terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 164.

3. Maf‘ul Lah

Maf‘ul lahu berfungsi menjelaskan sebab atau tujuan dilakukannya suatu perbuatan. Biasanya berkaitan dengan makna perasaan atau niat.

Contoh maf‘ul lahu:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ

“Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah.” Kata ابْتِغَاءَ dibaca nashab (fathah) karena berfungsi sebagai maf‘ul lahu, yaitu menjelaskan tujuan atau alasan dilakukannya perbuatan. Contoh ini terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 207.

4. Maf‘ul Fihi

Maf‘ul fih menunjukkan waktu atau tempat terjadinya suatu perbuatan. Dalam praktiknya, ia sering berupa zharaf zaman atau zharaf makan.

Contoh maf‘ul fīhi:

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

“Maka Mahasuci Allah ketika kamu berada di waktu petang dan ketika kamu berada di waktu pagi.” Kata حِينَ pada ungkapan حِينَ تُمْسُونَ dan حِينَ تُصْبِحُونَ dibaca nashab karena berfungsi sebagai maf‘ul fīhi, yaitu keterangan waktu. Contoh ini terdapat dalam Surah Ar-Rum ayat 17.

5. Maf‘ul Ma‘ah

Maf‘ul ma‘ah menunjukkan kebersamaan dengan pelaku perbuatan, bukan sebagai objek, melainkan sebagai pendamping.

Contoh maful ma’ah:

سِرْتُ وَالنَّهْرَ

Aku berjalan bersama sungai. Kata النَّهْرَ dibaca nashab karena menunjukkan kebersamaan.

6. Hal

Hal dalam nahwu termasuk manshub. Hal berfungsi sebagai keterangan keadaan ketika perbuatan berlangsung. Biasanya berbentuk isim nakirah.

Contoh ḥāl:

وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا

“Dan Musa pun jatuh dalam keadaan pingsan.” Kata صَعِقًا dibaca nashab (fathah) karena berfungsi sebagai ḥāl, yaitu menjelaskan keadaan Nabi Musa saat perbuatan “jatuh” terjadi. Contoh ini terdapat dalam Surah Al-A‘raf ayat 143.

7. Tamyiz

Tamyiz dalam nahwu digunakan untuk menghilangkan kesamaran makna, baik pada jumlah, ukuran, maupun nisbat.

Contoh tamyīz:

وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا

“Dan Kami memancarkan bumi dengan mata-mata air.” Kata عُيُونًا dibaca nashab (tanwin fathah) karena berfungsi sebagai tamyīz, yaitu menjelaskan bentuk pancaran yang masih bersifat umum. Contoh ini terdapat dalam Surah Al-Qamar ayat 12.

8. Istitsna

Istitsna muncul dalam struktur pengecualian, yaitu mengeluarkan sesuatu dari kelompok yang disebut sebelumnya.

Contoh istitsnā’:

فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ إِلَّا إِبْلِيسَ

“Maka para malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis.” Kata إِبْلِيسَ dibaca nashab karena berfungsi sebagai isim istitsnā’ setelah kata إِلَّا. Contoh ini terdapat dalam Surah Al-Hijr ayat 30–31.

9. Munada

Munada adalah isim yang digunakan untuk memanggil atau menyeru. Dalam kondisi tertentu, ia dibaca nashab.

Contoh munada:

يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ

“Wahai penyesalan atas para hamba.” Kata حَسْرَةً adalah munādā yang dibaca nashab. Contoh ini terdapat dalam Surah Yasin ayat 30.

Intinya, mansubatul asma membantu kita memahami mengapa sebuah isim dibaca fathah. Selama posisinya dalam kalimat memang menuntut nashab, maka bacaan itu bersifat kaidah, bukan tebakan.

Pemahaman ini menjadi sangat penting saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an, karena perbedaan i‘rab sering kali berpengaruh langsung pada makna.

Dengan mengenali mansubatul asma, pembacaan Al-Qur’an menjadi lebih tertib, sadar struktur, dan jauh dari kesalahan pemahaman.