Surah Al-Qari’ah merupakan surah ke-101 dalam mushaf Al-Qur’an yang terdiri atas 11 ayat dan tergolong dalam kelompok surah Makkiyyah karena diwahyukan di kota Makkah sebelum Rasulullah ﷺ berhijrah ke Madinah. Nama Al-Qari’ah disarikan dari kata pembuka pada ayat pertama yang secara harfiah bermakna “ketukan keras yang menggetarkan”, sebuah sebutan khusus bagi Hari Kiamat yang melukiskan bagaimana huru-hara kiamat mengetuk pendengaran dan mengguncang kesadaran manusia sebelum mereka digiring menuju hisab penimbangan amal (mizan).
Rangkaian ayat dalam surah ini menyajikan alur dramatis yang sangat gamblang: dimulai dari dentuman Kiamat yang menghancurkan tatanan semesta, kepanikan manusia yang terombang-ambing tanpa arah, hancurnya gunung-gunung pasak bumi menjadi seringan bulu, hingga puncaknya pada kepastian hisab yang memilah manusia ke dalam dua kelompok akhir: pemilik timbangan kebaikan yang berat menuju kehidupan yang penuh kepuasan (‘isyah radhiyah), atau pemilik timbangan ringan yang terjerumus ke dasar jurang neraka Hawiyah yang menyala-nyala.
Ciri Khas Surah Al-Qari’ah
Dalam susunan mushaf standar, Surah Al-Qari’ah menempati urutan ke-101, terletak tepat di antara Surah Al-‘Adiyat (ke-100) dan Surah At-Takatsur (ke-102). Para ulama tafsir mengelompokkannya sebagai surah Makkiyyah murni, ditandai oleh ciri khas sastra Al-Qur’an fase Makkah: untaian ayat-ayat pendek berirama ritmis (fawashil), hentakan kalimat yang menyentak akal budi, serta penegasan mutlak mengenai tauhid dan hari pembalasan.
Struktur tematik Surah Al-Qari’ah bergerak melalui empat babak utama:
- Dentuman Pembuka (Ayat 1-3): Pengulangan lafazh Al-Qari’ah sebanyak tiga kali untuk membangun ketegangan spiritual dan memusatkan perhatian pendengar terhadap kedahsyatan peristiwa yang belum pernah disaksikan manusia.
- Huru-hara Kosmis dan Psikologis (Ayat 4-5): Penggambaran visual tentang kondisi manusia yang tak berdaya layaknya laron beterbangan, serta kehancuran gunung-gunung yang berhamburan bagaikan bulu domba.
- Neraca Keadilan dan Surga Ridha (Ayat 6-7): Penegasan hisab melalui penimbangan amal (mizan), di mana hamba yang berat timbangan kebaikannya ditempatkan dalam kehidupan penuh kebahagiaan sejati.
- Jurang Hawiyah dan Api yang Menyala (Ayat 8-11): Peringatan keras bagi orang-orang yang ringan timbangan kebaikannya, yang tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah dengan kobaran api yang membakar hebat.
Teks Bacaan Surah Al-Qari’ah Lengkap Ayat 1-11

Surah Al-Qāri‘ah Latin dan Terjemahan

Berikut teks bacaan Surah Al-Qari’ah lengkap dari ayat 1 sampai 11, disertai transliterasi santri bebas makron serta terjemahan resmi Kementerian Agama RI:
Ayat 1
﴿ الْقَارِعَةُ ١ ﴾
Al-qari’ah.
“Hari Kiamat.” (QS. Al-Qari’ah: 1)
Ayat 2
﴿ مَا الْقَارِعَةُ ٢ ﴾
Mal-qari’ah.
“Apakah hari Kiamat itu?” (QS. Al-Qari’ah: 2)
Ayat 3
﴿ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ ٣ ﴾
Wa ma adraka mal-qari’ah.
“Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?” (QS. Al-Qari’ah: 3)
Ayat 4
﴿ يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ ٤ ﴾
Yauma yakunun-nasu kal-farasyil-mabtsuts.
“Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan.” (QS. Al-Qari’ah: 4)
Ayat 5
﴿ وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ ٥ ﴾
Wa takunul-jibalu kal-‘ihnil-manfusy.
“Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5)
Ayat 6
﴿ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ٦ ﴾
Fa amma man tsaqulat mawazinuh.
“Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya.” (QS. Al-Qari’ah: 6)
Ayat 7
﴿ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ٧ ﴾
Fa huwa fi ‘isyatir radhiyah.
“Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang).” (QS. Al-Qari’ah: 7)
Ayat 8
﴿ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ٨ ﴾
Wa amma man khaffat mawazinuh.
“Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya.” (QS. Al-Qari’ah: 8)
Ayat 9
﴿ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ٩ ﴾
Fa ummuhu hawiyah.
“Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 9)
Ayat 10
﴿ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ ١٠ ﴾
Wa ma adraka ma hiyah.
“Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?” (QS. Al-Qari’ah: 10)
Ayat 11
﴿ نَارٌ حَامِيَةٌ ١١ ﴾
Narun hamiyah.
“(Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qari’ah: 11)
Kandungan Tafsir Surah Al-Qari’ah Ayat demi Ayat
Menelaah kandungan Surah Al-Qari’ah memerlukan pemahaman terhadap bagaimana ayat-ayatnya dirangkai secara pedagogis oleh Allah Ta’ala. Al-Qur’an tidak sekadar mengabarkan pahala dan siksa secara kering, melainkan menyentak kesadaran imajinasi dan nalar manusia terlebih dahulu sebelum menuntut pertanggungjawaban amal.
Ayat 1-3: Makna Al-Qari’ah dan Retorika Pertanyaan Berulang
Tiga ayat pertama berpusat pada penegasan satu kata kunci: الْقَارِعَةُ. Secara etimologi bahasa Arab, kata ini berakar dari kata kerja qara’a (قَرَعَ) yang bermakna memukul, mengetuk, atau menghantam sesuatu dengan benturan yang sangat keras hingga menimbulkan bunyi menggelegar. Dalam terminologi syariat, Al-Qari’ah menjadi salah satu nama Hari Kiamat karena kedatangannya mengetuk dan memekakkan pendengaran manusia dengan tiupan sangkakala, sekaligus menghempas hati orang-orang kafir dengan rasa takut yang luar biasa.
Pola kalimat pada tiga ayat ini menggunakan gaya retorika khas Al-Qur’an (uslub ta’zhim wa tahwil):
- Pertama, Allah menyebut subjek tunggal: ﴿ الْقَارِعَةُ ١ ﴾ (Hari Kiamat).
- Kedua, Allah melontarkan pertanyaan retoris: ﴿ مَا الْقَارِعَةُ ٢ ﴾ (Apakah Hari Kiamat itu?).
- Ketiga, pertanyaan tersebut ditegaskan kembali dengan seruan pengagungan: ﴿ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ ٣ ﴾ (Dan tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?).
Sebagaimana diterangkan dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kementerian Agama RI, uslub pengulangan ini berfungsi membangkitkan rasa ingin tahu, melenyapkan kelalaian pembaca, serta menegaskan bahwa hakikat kedahsyatan Kiamat tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh akal fikiran manusia biasa tanpa petunjuk wahyu.
Ayat 4: Manusia Bagaikan Laron yang Beterbangan
Setelah menarik perhatian penuh, Allah Ta’ala melukiskan suasana manusia ketika peristiwa Kiamat terjadi:
﴿ يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ ٤ ﴾
“Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan.” (QS. Al-Qari’ah: 4)
Kata al-farasy (الْفَرَاشِ) merujuk pada serangga kecil sebangsa laron, kupu-kupu malam, atau anai-anai, sedangkan al-mabtsuts (الْمَبْثُوثِ) bermakna berhamburan, tercerai-berai, dan berserakan ke segala arah tanpa keteraturan. Perumpamaan ini menggambarkan keadaan manusia saat dibangkitkan dari kubur dalam keadaan panik, bingung, dan saling bertabrakan satu sama lain tanpa mengetahui ke mana harus menyelamatkan diri, persis seperti laron-laron yang beterbangan serampangan mengitari kobaran api.
Al-Qur’an sengaja memilih analogi serangga yang lemah untuk menyadarkan manusia bahwa segala keangkuhan, status sosial, dan kedigdayaan fisik yang dibanggakan di dunia akan runtuh seketika saat berhadapan dengan huru-hara Kiamat.
Ayat 5: Gunung-gunung Seperti Bulu yang Dihamburkan
Kerapuhan tidak hanya menimpa makhluk hidup, melainkan merembet pada benda-benda materi paling kokoh di muka bumi:
﴿ وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ ٥ ﴾
“Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5)
Secara bahasa, al-‘ihn (الْعِهْنِ) adalah bulu domba atau wol yang telah dicelup berbagai warna, sedangkan al-manfusy (الْمَنْفُوشِ) adalah bulu yang telah disisir, dicabik-cabik, dan ditiup angin hingga menjadi sangat ringan berhamburan. Di dunia, gunung dikenal sebagai pasak bumi yang perkasa dan berat. Namun pada Hari Kiamat, struktur batu cadas yang kokoh tersebut dihancurkan lebur hingga menyerupai gumpalan bulu yang melayang tanpa bobot.
Penggambaran ini selaras dengan ayat-ayat lain seperti Surah Thaha ayat 105 dan Surah Al-Waqi’ah ayat 5-6, mempertegas pesan bahwa tatanan hukum alam semesta yang selama ini diandalkan manusia akan sirna dalam sekejap di hadapan kekuasaan Allah Ta’ala.
Ayat 6-7: Timbangan Amal Kebaikan yang Berat Menuju Kehidupan Ridha
Setelah meruntuhkan rasa aman palsu terhadap materi duniawi, Al-Qur’an memindahkan sorotan kepada titik penentu nasib akhir manusia: hisab dan timbangan amal (mizan).
﴿ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ٦ ﴾
“Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya.” (QS. Al-Qari’ah: 6)
﴿ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ٧ ﴾
“Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang).” (QS. Al-Qari’ah: 7)
Kata mawazinuh (مَوَازِينُهُ) adalah bentuk jamak dari mizan (alat timbang) atau mauzun (amal yang ditimbang). Di padang mahsyar kelak, amal kebajikan dan keburukan setiap hamba akan ditimbang secara adil hakiki tanpa ada kezaliman sedikit pun. Siapa saja yang neraca kebaikannya lebih berat daripada keburukannya, maka ia berhak menerima balasan yang disebut sebagai ‘isyah radhiyah (عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ).
Secara balaghah, ungkapan ‘isyah radhiyah berbentuk isim fa’il (kehidupan yang meridhai/memuaskan), bermakna bahwa kehidupan surga tersebut begitu sempurna hingga sang kehidupan itu sendiri seakan-akan meridhai penghuninya, dan sang penghuni merasakan kepuasan mutlak yang tidak lagi diusik oleh kesedihan, keletihan, maupun kekhawatiran.
Ayat 8-9: Peringatan Keras Bagi Pemilik Timbangan yang Ringan
Sebaliknya, Allah Ta’ala memperingatkan nasib kelompok kedua yang mengalami kerugian mutlak:
﴿ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ٨ ﴾
“Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya.” (QS. Al-Qari’ah: 8)
﴿ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ٩ ﴾
“Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 9)
Frasa fa-ummuhu hawiyah (فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ) memuat rahasia sastra Arab yang sangat mendalam. Kata umm (أُمّ) secara harfiah berarti “ibu”. Mengapa neraka disebut sebagai ibu bagi orang yang ingkar? Para ulama tafsir menjelaskan dua takwil agung:
- Pertama, sebagaimana seorang anak kecil yang ketakutan senantiasa berlari mencari dekapan ibunya sebagai tempat bernaung, demikian pula para pendosa tidak memiliki tempat berlindung dan tempat kembali pada hari itu selain rengkuhan jurang neraka yang menenggelamkan mereka.
- Kedua, kata umm bermakna ummur ra’s (bagian atas kepala/ubun-ubun), mengisyaratkan bahwa para penghuni neraka akan dicampakkan ke dalam jurang yang dalam dengan posisi kepala terjungkal ke bawah terlebih dahulu.
Adapun kata Hawiyah berakar dari kata kerja hawa-yahwi (هَوَى – يَهْوِي) yang berarti jatuh terperosok ke dasar jurang yang sangat dalam.
Ayat 10-11: Hakikat Api Neraka Hawiyah
Surah ini menutup uraiannya dengan kembali mengajukan pertanyaan penegas sebelum mengungkap hakikat neraka tersebut:
﴿ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ ١٠ ﴾
“Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?” (QS. Al-Qari’ah: 10)
﴿ نَارٌ حَامِيَةٌ ١١ ﴾
“(Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qari’ah: 11)
Huruf ha pada lafazh هِيَهْ adalah ha as-saktah yang berfungsi menjaga keselarasan rima akhir ayat ketika waqaf. Jawaban yang diberikan Al-Qur’an sangat singkat namun menghujam: narun hamiyah (نَارٌ حَامِيَةٌ), yaitu kobaran api yang telah mencapai puncak panas yang dahsyat.
Dalam hadis shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa api yang dinyalakan anak keturunan Adam di dunia hanyalah satu dari tujuh puluh bagian dari panasnya api neraka Jahannam. Jawaban pamungkas ini menegaskan bahwa penyesalan di neraka Hawiyah adalah penyesalan abadi yang tiada tara.
Pelajaran dan Ibrah Utama Surah Al-Qari’ah
Dari telaah ayat demi ayat di atas, Surah Al-Qari’ah menggariskan beberapa pedoman hidup penting bagi setiap muslim:
- Kepastian Hari Kiamat dan Hari Berbangkit: Hari Kiamat bukan sekadar konsep filsafat yang abstrak, melainkan kepastian faktual yang pasti tiba dan akan disaksikan oleh seluruh umat manusia.
- Kerapuhan Materi Dunia: Kehormatan semu dan harta benda tidak memiliki daya tahan di hadapan kehendak Allah. Gunung batu yang perkasa pun akan dihamburkan bagaikan bulu domba.
- Keadilan Mutlak Penimbangan Mizan: Keselamatan manusia di akhirat tidak ditentukan oleh nasab atau klaim lisan semata, melainkan bobot riil keimanan dan amal shaleh yang ditimbang secara objektif di hadapan pengadilan Ilahi.
- Pendidikan Jiwa Melalui Visualisasi Nyata: Al-Qur’an mendidik fitrah manusia dengan menghadirkan gambaran visual konkret (laron berhamburan, bulu bertebaran, panas api membara) agar hati manusia tergugah sebelum ajal menjemput.
- Menghargai Kesempatan Hidup: Selagi hayat masih dikandung badan, manusia memiliki peluang emas untuk memperberat timbangan kebaikan melalui shalat, sedekah, adab mulia, dan amal kebaikan lainnya demi menyongsong kehidupan yang memuaskan (‘isyah radhiyah).
Tabel Pemetaan Pokok Ayat Surah Al-Qari’ah
Berikut rangkuman pemetaan tematik dan kata kunci dari sebelas ayat Surah Al-Qari’ah:
| Rentang Ayat | Fokus Kandungan | Lafazh Kunci Arab | Pesan Teologis |
|---|---|---|---|
| Ayat 1-3 | Pemberitahuan nama dan kedahsyatan Kiamat | الْقَارِعَةُ | Membangun kesadaran batin melalui hentakan kata berulang |
| Ayat 4 | Kondisi kejiwaan manusia saat dibangkitkan | كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ | Kepanikan massal dan hilangnya keteraturan dunia |
| Ayat 5 | Kehancuran struktur fisik alam semesta | كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ | Kerapuhan pasak bumi di hadapan kekuasaan Allah |
| Ayat 6-7 | Hasil timbangan kebajikan yang berat | ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ | Kehidupan surga yang penuh keridhaan dan kebahagiaan hakiki |
| Ayat 8-9 | Nasib orang dengan timbangan kebajikan ringan | فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ | Terjerembap ke dalam rengkuhan jurang kehancuran neraka |
| Ayat 10-11 | Hakikat siksaan neraka Hawiyah | نَارٌ حَامِيَةٌ | Siksaan api yang menyala dengan panas puncak tak tertandingi |
Kesimpulan
Surah Al-Qari’ah menegaskan bahwa kehidupan dunia merupakan arena persiapan yang amat singkat sebelum datangnya Hari Kiamat yang mengetuk kesadaran manusia dengan kedahsyatan tiada tara. Melalui sebelas ayat yang ringkas namun sarat makna, Allah Ta’ala tidak hanya melukiskan runtuhnya tatanan kosmis dan kebingungan manusia bagaikan laron berhamburan, melainkan mengarahkan fokus sanubari kepada neraca penimbangan amal yang adil mutlak. Tiada jalan keselamatan selain memperberat timbangan kebaikan melalui iman dan amal shaleh demi meraih kehidupan yang diridhai di surga, serta menjauhkan diri dari kelalaian yang mengantarkan jiwa ke dasar jurang api neraka Hawiyah yang menyala-nyala.