Pengertian dan Contoh Isim Isyarah

Isim isyarah (اِسْمُ الإِشَارَةِ) adalah kata tunjuk dalam tata bahasa Arab yang berfungsi untuk menandai dan menunjukkan objek tertentu (mushar ilaih) secara khusus, baik melalui isyarat fisik yang dapat diindra (hissiyyah) maupun isyarat makna yang abstrak (maknawiyyah).

Dalam tata kalimat bahasa Arab, isim isyarah tergolong ke dalam kelompok isim ma’rifat, karena kata ini menunjuk benda atau sosok yang sudah jelas dan tertentu (mu’ayyan), bukan hal yang umum atau samar.

Jika dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata tunjuk sederhana seperti ‘ini’ (untuk objek dekat) dan ‘itu’ (untuk objek jauh), sistem kata tunjuk dalam bahasa Arab memiliki kaidah yang jauh lebih teratur dan terperinci.

Penggunaan isim isyarah dipengaruhi secara langsung oleh jenis kelamin objek (mudzakkar atau mu’annats), jumlah bilangan objek (mufrad, mutsanna, atau jamak), serta tingkatan jarak antara pembicara dengan objek yang ditunjuk.

Tulisan ini menguraikan secara lengkap hakikat pengertian isim isyarah, unsur-unsur pembentuknya, pembagian tingkatan jarak, kaidah i’rob, hingga contoh penerapannya dalam kalimat dan ayat Al-Qur’an.

Pengertian Isim Isyarah Menurut Bahasa dan Istilah Nahwu

Secara etimologi (bahasa), istilah isim isyarah tersusun dari dua kata: isim dan isyarah. Dalam tinjauan kebahasaan, isim artinya kata nama atau kata benda yang menunjukkan makna mandiri tanpa terikat oleh waktu.

Adapun kata isyarah (الإِشَارَةُ) bermakna petunjuk, isyarat tangan, penandaan, atau tanda pengenal. Berdasarkan penggabungan kata ini, isim isyarah secara bahasa diartikan sebagai kata benda yang digunakan untuk memberikan tanda atau penunjukan.

Adapun menurut istilah para ulama nahwu, isim isyarah didefinisikan sebagai berikut:

اِسْمُ الإِشَارَةِ هُوَ مَا وُضِعَ لِمُعَيَّنٍ بِوَاسِطَةِ إِشَارَةٍ حِسِّيَّةٍ أَوْ مَعْنَوِيَّةٍ

“Isim isyarah adalah isim yang ditetapkan untuk menunjukkan objek tertentu dengan perantaraan isyarat fisik (inderawi) atau isyarat maknawi.”

Dari definisi di atas, terdapat tiga pilar pokok dalam pemahaman isim isyarah yang saling berkaitan:

  1. Isim Isyarah (اِسْمُ الإِشَارَةِ): Lafazh atau kata yang digunakan oleh pembicara sebagai alat untuk menunjuk, seperti lafazh هَذَا (ini) atau ذَلِكَ (itu).
  2. Mushar Ilaih (المُشَارُ إِلَيْهِ): Objek, dzat, atau hal yang ditunjuk oleh pembicara. Dalam istilah gramatika Arab, objek ini juga dinamai musamma atau perkara yang di-mu’ayyan-kan.
  3. Isyarah (الإِشَارَةُ): Proses atau tindakan penunjukan itu sendiri.

Para ulama nahwu membedakan penunjukan isyarah menjadi dua macam:

  • Isyarah Hissiyyah (إِشَارَةٌ حِسِّيَّةٌ): Penunjukan terhadap objek nyata yang hadir di depan mata dan dapat ditangkap oleh panca indra, misalnya dengan menggunakan gerakan jari, tangan, atau arah pandangan mata. Contohnya: هَذَا كِتَابٌ نَافِعٌ (“Ini adalah buku yang bermanfaat”) saat menunjuk buku fisik di atas meja.
  • Isyarah Maknawiyyah (إِشَارَةٌ مَعْنَوِيَّةٌ): Penunjukan terhadap perkara abstrak, ide pikiran, perkataan, sifat batin, atau objek yang tidak hadir secara fisik (ghaib). Contohnya: هَذَا رَأْيٌ صَائِبٌ (“Ini adalah pendapat yang tepat”) atau هَذَا حُكْمٌ عَادِلٌ (“Ini adalah keputusan yang adil”).

Hukum Gramatika Isim Isyarah dalam Ilmu Nahwu

Kajian isim isyarah dalam ilmu nahwu mencakup beberapa ketetapan hukum pokok, mulai dari status kemakrifatannya, kedudukan mabni dan mu’rab, hingga aturan i’rob bagi kata yang berada setelahnya.

1. Status Kemakrifatan

Ditinjau dari segi makrifat dan nakirah, seluruh isim isyarah berstatus isim ma’rifat. Kedudukan makrifat ini diperoleh karena makna yang ditunjuk oleh isim isyarah bersifat khusus dan tertuju secara langsung kepada objek tertentu (mu’ayyan), bukan makna yang bersifat umum atau samar.

2. Hukum Asal Mabni dan Alasan Pembentukannya

Hukum asal dari seluruh isim isyarah adalah mabni (harakat akhir kata bersifat tetap dan tidak berubah meskipun dimasuki amil rafa’, nashab, maupun jar). Isim isyarah menempati posisi mahal i’rob (fii mahalli raf’in, nashbin, atau jarrin).

Penyebab utama isim isyarah berstatus mabni adalah karena menyerupai kalimat huruf (syabah bil harf) dalam dua aspek:

  1. Keserupaan Makna (Syabah Ma’nawi): Makna isyarah (penunjukan) sejatinya merupakan salah satu fungsi makna gramatika yang layak diwakili oleh huruf (sebagaimana huruf istifham atau huruf nafy). Namun, karena bangsa Arab tidak membuat huruf khusus untuk penunjukan, mereka menggunakan isim yang akhirnya mewarisi sifat kemabnian huruf.
  2. Keserupaan Bangunan Kata (Syabah Wadl’i): Sebagian besar kata dasar isim isyarah tersusun dari satu atau dua huruf asal saja, seperti lafazh ذَا dan ذِي, serupa dengan konstruksi huruf hijaiyah pada umumnya.

3. Perbedaan Pendapat Ulama pada Isim Isyarah Mutsanna

Pada bentuk mutsanna (dua objek), terdapat lafazh هَذَانِ dan هَاتَانِ pada saat rafa’, serta هَذَيْنِ dan هَاتَيْنِ pada saat nashab dan jar. Mengenai status i’robnya, para ulama nahwu terbagi dalam dua pandangan:

  • Pendapat Pertama (Jumhur Mu’ribin): Bentuk mutsanna dihukumi mu’rab mulhaq mutsanna. Tanda rafa’nya menggunakan huruf alif, sedangkan tanda nashab dan jarnya menggunakan huruf ya. Pendapat ini adalah pandangan yang paling banyak diajarkan dalam kitab-kitab nahwu tingkat dasar agar memudahkan pemula dalam mempraktikkan tanda i’rob.
  • Pendapat Kedua (Tahqiq Ulama Bashrah): Bentuk mutsanna tetap berstatus mabni demi menjaga kaidah asal kemabnian isim isyarah. Bentuk ini dihukumi mabni di atas alif pada kondisi rafa’ (مَبْنِيٌّ عَلَى الأَلِفِ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ), serta mabni di atas ya pada kondisi nashab dan jar (مَبْنِيٌّ عَلَى اليَاءِ فِي مَحَلِّ نَصْبٍ أَوْ جَرٍّ).

4. Kaidah Mushar Ilaih: Kapan Menjadi Badal dan Kapan Menjadi Khabar?

Salah satu kaidah penting yang sering menjadi bahan ujian nahwu adalah penentuan kedudukan i’rob dari kata yang terletak persis setelah isim isyarah. Terdapat dua kondisi utama yang menjadi patokan pokok:

  1. Kondisi Pertama: Kata setelah isim isyarah beralif lam (الـ).
    Jika kata tersebut diawali alif lam, maka kedudukannya adalah sebagai badal (badal muthabiq) atau ‘athaf bayan jika berupa isim jamid (seperti الرَّجُلُ), dan sebagai na’at jika berupa isim musytaq (seperti الْعَالِمُ). I’robnya mengikuti kedudukan isim isyarah di depannya. Susunan ini belum menjadi kalimat sempurna (belum menjadi jumlah mufidah) sebelum dihadirkan khabar penuntas.
    Contoh: هَذَا الْكِتَابُ مُفِيدٌ (“Buku ini bermanfaat”). Kata هَذَا berkedudukan sebagai mubtada’, kata الْكِتَابُ adalah badal yang marfu’, dan kata مُفِيدٌ berkedudukan sebagai khabar penuntas makna.
    Contoh lain dengan amil nasikh: إِنَّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ صَادِقَانِ (“Sesungguhnya kedua lelaki ini adalah orang yang jujur”). Kata هَذَيْنِ adalah isim Inna, kata الرَّجُلَيْنِ adalah badal manshub dengan tanda ya, dan kata صَادِقَانِ adalah khabar Inna yang marfu’ dengan tanda alif.
  2. Kondisi Kedua: Kata setelah isim isyarah tidak beralif lam (مُجَرَّدٌ مِنْ أَلْ).
    Jika kata tersebut tidak diawali alif lam — baik berupa isim nakirah bertanwin maupun isim ma’rifat selain alif lam (seperti isim ‘alam atau mudhaf kepada dhomir/isim lain) — maka kata tersebut pada umumnya langsung berkedudukan sebagai khabar, dan susunan kalimat langsung membentuk jumlah mufidah yang sempurna.
    Contoh dengan isim nakirah: هَذَا كِتَابٌ (“Ini adalah sebuah buku”). Kata هَذَا adalah mubtada’, dan كِتَابٌ langsung menjadi khabar yang marfu’ dengan tanda dhammah.
    Contoh dengan isim ‘alam: هَذَا مُحَمَّدٌ (“Ini adalah Muhammad”). Kata مُحَمَّدٌ berkedudukan sebagai khabar yang marfu’.
    Contoh dengan susunan idhafah: هَذَا كِتَابِي (“Ini adalah buku saya”). Kata كِتَابِي berkedudukan sebagai khabar yang marfu’ dengan dhammah muqaddarah pada huruf ba’.

Unsur Pembentuk Kata Isim Isyarah: Ha’ Tanbih, Lam Bu’di, dan Kaf Khithab

Dalam susunan lafazh aslinya, kata tunjuk bahasa Arab terdiri dari bentuk dasar yang ringkas, lalu dapat digabungkan dengan huruf-huruf penjelas sesuai konteks percakapan:

  1. Bentuk Dasar Isim Isyarah (أَصْلُ اسْمِ الإِشَارَةِ):
    Bentuk asal kata tunjuk sebenarnya sangat ringkas tanpa imbuhan huruf apa pun di depan maupun di belakangnya:
    • Mufrad mudzakkar: ذَا (dza).
    • Mufrad mu’annats: ذِي (dzi), ذِهْ (dzih), تِي (ti), تِهْ (tih), dan تَا (ta).
    • Mutsanna: ذَانِ / ذَيْنِ untuk laki-laki, dan تَانِ / تَيْنِ untuk perempuan.
    • Jamak: أُولَى (dialek Bani Tamim dibaca pendek/qashr) dan أُولَاءِ (dialek Hijaz dibaca panjang/madd).
  2. Huruf Ha’ Tanbih (هَاءُ التَّنْبِيهِ):
    Huruf tambahan هَا yang diletakkan pada permulaan kata isim isyarah. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian dan membangun kewaspadaan lawan bicara (tanbihul mukhatab) sebelum ucapan inti disampaikan. Contoh penggabungannya:
    هَا + ذَا = هَذَا
    هَا + ذِهِ = هَذِهِ
    هَا + أُولَاءِ = هَؤُلَاءِ
    Huruf ha’ tanbih ini berkedudukan sebagai huruf tambahan penegas yang tidak memiliki kedudukan i’rob (harfu tanbihin la mahalla lahu minal i’rab).
  3. Huruf Kaf Khithab (كَافُ الْخِطَابِ):
    Huruf kaf yang diletakkan di akhir isim isyarah untuk menunjukkan bahwa objek yang ditunjuk berada pada jarak jauh dari pembicara. Perlu dicatat secara cermat bahwa kaf ini berstatus sebagai huruf murni, bukan dhomir muttashil yang menjadi mudhaf ilaih.
    Harakat dan akhiran huruf kaf ini dapat berubah secara luwes menyesuaikan siapa lawan bicara yang diajak bercakap-cakap:
    • Satu pria: ذَٰلِكَ (dzalika)
    • Satu wanita: ذَٰلِكِ (dzaliki)
    • Dua orang: ذَٰلِكُمَا (dzalikuma)
    • Rombongan pria: ذَٰلِكُمْ (dzalikum)
    • Rombongan wanita: ذَٰلِكُنَّ (dzalikunna)

    Perubahan bentuk kaf ini tampak nyata dalam Al-Qur’an Surat Yusuf ayat 37: ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِي رَبِّي (“Itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan Tuhanku kepadaku”). Nabi Yusuf menggunakan lafazh ذَٰلِكُمَا karena sedang berbicara kepada dua orang teman penjaranya, meskipun objek yang ditunjuk berbentuk mufrad.

  4. Huruf Lam Bu’di (لَامُ الْبُعْدِ):
    Huruf lam yang disisipkan di antara kata dasar isim isyarah dan kaf khithab untuk menegaskan kejauhan jarak objek yang ditunjuk. Dalam asal pembentukannya, huruf lam bu’di ini berharakat sukun. Ketika disisipkan setelah kata dasar ذَا yang berakhiran alif sukun, terjadi pertemuan dua huruf mati (iltiqa’us sakinain). Demi menghilangkan sukun ganda tersebut, huruf alif pada ذَا digugurkan dalam penulisan maupun bacaan, lalu huruf lam dikasrahkan demi kelancaran pengucapan menjadi: ذَا + لْـ + كَ ➔ ذَلِكَ (dzalika).

Dalam kaidah tata bahasa Arab, terdapat aturan penting: huruf lam bu’di tercegah (mumtani’) hadir pada tiga kondisi demi menjaga keserasian bunyi dan mencegah berlebihannya huruf tambahan (istiqtsar az-ziyadah):

  1. Jika sudah didahului oleh Ha’ Tanbih (هَاءُ التَّنْبِيهِ): Lam bu’di tidak boleh berkumpul bersama ha’ tanbih dalam satu kata. Oleh sebab itu, tercegah diucapkan هَذَلِكَ. Pilihan susunan yang sah hanyalah memakai ha’ tanbih saja (هَذَا), memakai kaf saja (ذَاكَ), atau memadukan lam dan kaf (ذَلِكَ).
  2. Pada Isim Isyarah Mutsanna (المُثَنَّى): Bentuk mutsanna sudah memiliki tambahan tanda tatsniyah (alif/ya dan nun). Menurut ketetapan Jumhur Ulama Nahwu, lam bu’di tercegah masuk ke dalamnya, sehingga tidak boleh diucapkan ذَانِلِكَ atau تَانِلِكَ. Untuk jarak jauh pada mutsanna, cukup disambung dengan kaf khithab saja menjadi ذَانِكَ dan تَانِكَ.
  3. Pada Isim Isyarah Jamak Dialek Madd (أُولَاءِ): Menurut dialek Hijaz (dialek yang digunakan dalam Al-Qur’an), kata jamak yang dibaca panjang (madd) tidak boleh disisipi lam bu’di, sehingga tercegah diucapkan أُولَائِلِكَ. Susunan yang sah cukup menambahkan kaf khithab menjadi أُولَٰئِكَ. Adapun jika menggunakan dialek Bani Tamim yang dibaca pendek (qashr: أُولَى), barulah lam bu’di boleh disisipkan menjadi أُولَالِكَ.

Pembagian Tingkatan Jarak Menurut Ulama Nahwu

Mengenai tingkatan jarak objek yang ditunjuk, terdapat dua madzhab utama di kalangan ulama bahasa Arab:

  • Pendapat Jumhur Ulama Nahwu (Tiga Tingkatan Jarak):
    Mayoritas pakar nahwu membagi jarak isyarah menjadi tiga tingkatan:
    1. Jarak Dekat (القريب): Menggunakan kata dasar yang bebas dari kaf dan lam, dan lazimnya diawali oleh ha’ tanbih, seperti هَذَا dan هَذِهِ.
    2. Jarak Sedang / Menengah (المتوسط): Menggunakan kata dasar yang diakhiri kaf khithab saja tanpa huruf lam, seperti ذَاكَ dan تَاكَ.
    3. Jarak Jauh (البعيد): Menggunakan kata dasar yang digabungkan dengan lam bu’di dan kaf khithab sekaligus, seperti ذَلِكَ dan تِلْكَ.
  • Pendapat Ibnu Malik dalam Alfiyyah (Dua Tingkatan Jarak):
    Syaikh Muhammad bin Malik berpendapat bahwa tingkatan jarak isim isyarah hakikatnya hanya terbagi menjadi dua: dekat (al-qarib) dan jauh (al-ba’id). Jarak dekat adalah bentuk yang tidak disertai kaf khithab, sedangkan jarak jauh mencakup seluruh bentuk yang bersambung dengan kaf khithab, baik kaf tersebut berdiri sendiri maupun disertai lam bu’di.

Kaidah penunjukan jarak ini ditegaskan oleh Ibnu Malik dalam bait-bait nadhom Alfiyyah:

بِذَا لِمُفْرَدٍ مُذَكَّرٍ أَشِرْ / بِذِي وَذِهْ تِي تَا عَلَى الأُنْثَى اقْتَصِرْ

وَذَانِ تَانِ لِلْمُثَنَّى الْمُرْتَفِعْ / وَفِي سِوَاهُ ذَيْنِ تَيْنِ اذْكُرْ تُطِعْ

وَبِأُولَى أَشِرْ لِجَمْعٍ مُطْلَقَا / وَالمَدُّ أَوْلَى وَلَدَى البُعْدِ انْطِقَا

بِالْكَافِ حَرْفًا دُونَ لَامٍ أَوْ مَعَهْ / وَاللَّامُ إِنْ قَدَّمْتَ هَا مُمْتَنِعَهْ

“Gunakanlah ‘dza’ untuk menunjuk mufrad mudzakkar. Cukupkanlah pada ‘dzi’, ‘dzih’, ‘ti’, dan ‘ta’ untuk mufrad mu’annats. Gunakan ‘dzani’ dan ‘tani’ untuk mutsanna dalam kondisi rafa’, dan dalam kondisi lainnya sebutkanlah ‘dzaini’ dan ‘taini’ niscaya engkau ditaati. Dan dengan ‘ula’ tunjuklah jamak secara mutlak, sedangkan lafazh yang dibaca mad (‘ulaa-i’) itu lebih utama. Dan ketika menunjuk jarak jauh, ucapkanlah dengan menyertakan huruf kaf, baik tanpa huruf lam maupun bersamanya. Namun huruf lam tercegah hadir jika engkau telah mendahulukan huruf ha tanbih.” (Alfiyyah Ibnu Malik)

Tabel Lengkap Macam-Macam Isim Isyarah Berdasarkan Gender dan Kuantitas

Agar memudahkan pemetaan dan hafalan, berikut rincian pembagian isim isyarah untuk jarak dekat dan jarak jauh berdasarkan jenis kelamin (mudzakkar dan mu’annats) serta jumlah bilangannya (mufrad, mutsanna, dan jamak):

1. Isim Isyarah untuk Objek Dekat (Al-Qarib)

Kategori Objek Bentuk Asal Disertai Ha’ Tanbih Arti dan Keterangan
Mufrad Mudzakkar (1 Laki-laki) ذَا هَذَا Ini (satu orang/benda maskulin)
Mufrad Mu’annats (1 Perempuan) ذِيْ / ذِهْ / تِيْ / تَا هَذِهِ / هَاتِهْ Ini (satu orang/benda feminin)
Mutsanna Mudzakkar (Rafa’) ذَانِ هَذَانِ Ini (dua orang/benda maskulin kondisi rafa’)
Mutsanna Mudzakkar (Nashab/Jar) ذَيْنِ هَذَيْنِ Ini (dua orang/benda maskulin kondisi nashab/jar)
Mutsanna Mu’annats (Rafa’) تَانِ هَاتَانِ Ini (dua orang/benda feminin kondisi rafa’)
Mutsanna Mu’annats (Nashab/Jar) تَيْنِ هَاتَيْنِ Ini (dua orang/benda feminin kondisi nashab/jar)
Jamak (Pria dan Wanita) أُولَى / أُولَاءِ هَؤُلَاءِ Ini semua (berakal maupun benda jamak)

2. Isim Isyarah untuk Objek Jauh (Al-Ba’id)

Kategori Objek Tingkat Sedang (Kaf Saja) Tingkat Jauh (Disertai Lam Bu’di) Arti dan Keterangan
Mufrad Mudzakkar ذَاكَ ذَلِكَ Itu (satu orang/benda maskulin)
Mufrad Mu’annats تَاكَ تِلْكَ Itu (satu orang/benda feminin)
Mutsanna Mudzakkar (Rafa’) ذَانِكَ Tercegah (cukup kaf saja) Itu (dua pria kondisi rafa’)
Mutsanna Mudzakkar (Nashab/Jar) ذَيْنِكَ Tercegah (cukup kaf saja) Itu (dua pria kondisi nashab/jar)
Mutsanna Mu’annats (Rafa’) تَانِكَ Tercegah (cukup kaf saja) Itu (dua wanita kondisi rafa’)
Mutsanna Mu’annats (Nashab/Jar) تَيْنِكَ Tercegah (cukup kaf saja) Itu (dua wanita kondisi nashab/jar)
Jamak (Pria dan Wanita) أُولَاكَ / أُولَٰئِكَ أُولَالِكَ (dialek qashr) Itu semua (rombongan orang banyak)

Catatan Kaidah Jamak Ghairu ‘Aqil: Apabila objek yang ditunjuk berupa benda jamak yang tidak berakal (jam’u taksir lighairil ‘aqil), maka dalam kaidah bahasa Arab objek tersebut lazim diperlakukan setara dengan mufrad mu’annats.

Oleh sebab itu, kata tunjuk yang digunakan adalah هَذِهِ untuk jarak dekat, dan تِلْكَ untuk jarak jauh. Contohnya: هَذِهِ أَيَّامٌ مَعْدُودَاتٌ (“Ini adalah hari-hari yang berbilang”) atau firman Allah untuk jarak jauh: تِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ (“Hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia…” — QS. Ali ‘Imran: 140) dan تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ (“Itulah batasan-batasan ketetapan Allah…” — QS. Al-Baqarah: 187).

Adapun penggunaan kata tunjuk mu’annats pada jamak berakal seperti firman Allah تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ (QS. Al-Baqarah: 253), para ulama nahwu dan tafsir menjelaskan bahwa hal itu berpijak pada kaidah ta’wil bil-jama’ah (memandang kelompok para rasul sebagai satu kesatuan jama’ah yang agung) sekaligus isyarah balaghah untuk memuliakan keluhuran derajat mereka (‘uluwwul manzilah), bukan karena berstatus ghairu ‘aqil.

Isim Isyarah Khusus Tempat (Zharof Makan)

Selain digunakan untuk menunjuk orang atau benda (dzat), bangsa Arab memiliki kata tunjuk khusus yang diperuntukkan bagi penunjukan lokasi atau tempat (isyarah lil makan):

  1. Tempat Dekat (المَكَانُ القَرِيبُ):
    Menggunakan lafazh هُنَا (huna) atau diawali ha’ tanbih menjadi هَاهُنَا (hahuna), yang bermakna “di sini”.
    Contohnya perkataan Bani Israil kepada Nabi Musa dalam Al-Qur’an Surat Al-Ma’idah ayat 24:

    فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

    “Maka pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Sungguh, kami tetap berada di sini duduk menanti.” (QS. Al-Ma’idah: 24)

  2. Tempat Jauh (المَكَانُ البَعِيدُ):
    Untuk menunjuk lokasi yang berjarak jauh (“di sana”), bahasa Arab menyediakan beberapa lafazh pilihan:
    • هُنَاكَ (hunaka): disambung dengan kaf khithab saja.
    • هُنَالِكَ (hunalika): dipadukan dengan lam bu’di dan kaf khithab untuk menegaskan kejauhan tempat atau peristiwa penting. Contohnya firman Allah dalam Surat Ali ‘Imran ayat 38:

      هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ

      “Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya…” (QS. Ali ‘Imran: 38)

    • ثَمَّ (tsamma): dibaca dengan huruf tsa berharakat fathah dan mim bertasydid (berbeda dari kata sambung tsumma yang berarti ‘kemudian’). Kata ini semakna dengan hunaka. Contohnya firman Allah dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 64:

      وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ

      “Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain.” (QS. Asy-Syu’ara: 64)

    • ثَمَّةَ (tsammata): kata tsamma yang diimbuhi huruf ta ta’nits lafzhiyyah di ujungnya.
    • Lafazh dialek lain yang diakui dalam gramatika Arab seperti هَنَّا (hanna) dan هِنَّا (hinna).

Seluruh isim isyarah tempat ini berkedudukan sebagai zharof makan (keterangan tempat), dihukumi mabni di atas tanda sukun atau fathah, dalam posisi mahal nashab (فِي مَحَلِّ نَصْبٍ عَلَى الظَّرْفِيَّةِ الْمَكَانِيَّةِ).

Contoh Penggunaan Isim Isyarah dalam Kalimat dan Pola I’robnya

Untuk memperdalam pemahaman tarkib, berikut ragam Contoh isim isyarah dalam berbagai kedudukan i’rob sehari-hari beserta uraian kedudukannya:

  1. Sebagai Mubtada’ (Rafa’):
    هَذَا رَجُلٌ شَرِيفٌ ➔ Ini adalah seorang lelaki yang mulia.
    Uraian i’rob: Kata هَذَا tersusun dari ha’ tanbih dan isim isyarah ذَا yang berstatus mabni sukun fii mahalli raf’in sebagai mubtada’. Kata رَجُلٌ adalah khabar marfu’ dengan tanda dhammah, dan شَرِيفٌ adalah na’at marfu’.
  2. Sebagai Mubtada’ Mu’annats:
    هَذِهِ حُجْرَةٌ وَاسِعَةٌ ➔ Ini adalah kamar yang luas.
    Uraian i’rob: Kata هَذِهِ adalah isim isyarah mufrad mu’annats mabni kasrah fii mahalli raf’in sebagai mubtada’, kata حُجْرَةٌ adalah khabar marfu’ dengan dhammah, dan وَاسِعَةٌ adalah na’at marfu’.
  3. Sebagai Fa’il (Rafa’):
    جَاءَ هَذَا الطَّالِبُ ➔ Siswa ini telah datang.
    Uraian i’rob: Kata جَاءَ adalah fi’il madhi mabni fathah. Kata هَذَا adalah isim isyarah mabni sukun fii mahalli raf’in sebagai fa’il (pelaku). Kata الطَّالِبُ adalah badal dari fa’il, berstatus marfu’ dengan tanda dhammah.
  4. Sebagai Maf’ul Bih (Nashab):
    قَرَأْتُ هَذَا الْكِتَابَ ➔ Aku telah membaca buku ini.
    Uraian i’rob: Kata قَرَأْتُ tersusun dari fi’il dan fa’il (dhomir ta). Kata هَذَا adalah isim isyarah mabni sukun fii mahalli nashbin sebagai maf’ul bih (objek). Kata الْكِتَابَ adalah badal manshub dengan tanda fathah.
  5. Sebagai Majrur Huruf Jar (Jar):
    سَلَّمْتُ عَلَى هَذَا الشَّيْخِ ➔ Aku memberi salam kepada syaikh ini.
    Uraian i’rob: Kata عَلَى adalah huruf jar. Kata هَذَا adalah isim isyarah mabni sukun fii mahalli jarrin dengan huruf ‘ala. Kata الشَّيْخِ adalah badal majrur dengan tanda kasrah.

Contoh Isim Isyarah dalam Ayat Al-Qur’an

Mushaf Al-Qur’an memuat beragam variasi isim isyarah yang kaya, baik untuk objek tunggal, mutsanna, maupun jamak, serta penunjukan jarak dekat maupun jarak jauh:

1. Isim Isyarah Mufrad Mudzakkar (QS. At-Tin: 3)

وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ

“Dan demi kota (Mekkah) ini yang aman.” (QS. At-Tin: 3)

Pada ayat Surah At-Tin ini, huruf wawu adalah wawu qasam (huruf sumpah yang men-jarkan isim).

Lafazh هَٰذَا adalah isim isyarah mufrad mudzakkar mabni sukun fii mahalli jarrin karena qasam. Kata الْبَلَدِ berkedudukan sebagai badal majrur dengan tanda kasrah, dan kata sifat bagi kota Mekkah tersebut dijelaskan secara mendalam dalam artikel al amin artinya kota yang aman sentosa.

2. Isim Isyarah Mufrad Mu’annats (QS. Al-Insan: 29)

إِنَّ هَٰذِهِ تَذْكِرَةٌ

“Sungguh, (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan…” (QS. Al-Insan: 29)

Lafazh هَٰذِهِ adalah isim isyarah mufrad mu’annats, mabni di atas harakat kasrah fii mahalli nashbin sebagai isim Inna. Kata tunjuk berbentuk mu’annats digunakan karena merujuk kepada kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an atau peringatan (tadzkiroh). Adapun kata تَذْكِرَةٌ berkedudukan sebagai khabar Inna yang marfu’ dengan tanda dhammah.

3. Isim Isyarah Mutsanna Mudzakkar Rafa’ (QS. Al-Hajj: 19)

هَٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka…” (QS. Al-Hajj: 19)

Lafazh هَٰذَانِ adalah isim isyarah untuk dua laki-laki (mutsanna mudzakkar) dalam kondisi rafa’ sebagai mubtada’ dengan tanda huruf alif. Kata خَصْمَانِ berkedudukan sebagai khabar mubtada’ marfu’ dengan tanda huruf alif karena berbentuk isim tasniyah.

4. Isim Isyarah Mutsanna Mu’annats Majrur (QS. Al-Qashas: 27)

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ

“Berkatalah dia (Syu’aib): ‘Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, atas dasar bahwa engkau bekerja denganku delapan tahun…'” (QS. Al-Qashas: 27)

Lafazh هَاتَيْنِ adalah isim isyarah mutsanna mu’annats dalam kondisi majrur dengan tanda huruf ya. Kedudukannya adalah sebagai na’at (sifat) bagi lafazh ابْنَتَيَّ yang berkedudukan majrur sebagai mudhaf ilaih dari kata إِحْدَى.

5. Isim Isyarah Jamak Dekat (QS. Thaha: 84)

قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَىٰ أَثَرِي

“Berkata Musa: ‘Itulah mereka sedang menyusul aku di belakangku…'” (QS. Thaha: 84)

Lafazh أُولَاءِ adalah isim isyarah untuk jamak (banyak orang) tanpa awalan ha’ tanbih, dibaca panjang (madd) menurut dialek Hijaz. Di sini أُولَاءِ berkedudukan sebagai khabar bagi mubtada’ dhomir هُمْ, dalam posisi mahal rafa’.

Kesimpulan

Isim isyarah adalah kata tunjuk dalam tata bahasa Arab yang berfungsi mengkhususkan objek tertentu (mushar ilaih) melalui isyarat inderawi maupun isyarat maknawi. Berstatus sebagai isim ma’rifat, hukum asal isim isyarah adalah mabni menempati posisi mahal i’rob, dengan perincian bentuk mutsanna yang dihukumi mu’rab mulhaq mutsanna atau mabni ala shuratil i’rob.

Dari segi tingkatan jarak, isim isyarah terbagi menjadi jarak dekat (memakai bentuk dasar atau ha’ tanbih), jarak sedang (disertai kaf khithab), dan jarak jauh (dipadukan dengan lam bu’di dan kaf khithab).

Aturan bacaan terhadap kata setelah isim isyarah sangat ditentukan oleh kehadiran alif lam: jika beralif lam kata tersebut dihukumi sebagai badal atau na’at (memerlukan khabar penuntas), sedangkan jika tanpa alif lam kata tersebut langsung berkedudukan sebagai khabar yang menyempurnakan kalimat.