20+ Huruf Jar Lengkap Dengan Contoh

Huruf jar (حروف الجر) atau huruf khofadh adalah kelompok kalimat huruf yang bertugas mengejerkan kalimat isim yang jatuh tepat setelahnya.

Di dalam tata bahasa Arab, harakat jar merupakan salah satu dari tanda-tanda isim yang paling pokok. Kata yang dijatuhkan setelah huruf jar disebut isim majrur, dan gabungan keduanya dinamai susunan jar majrur atau syibhul jumlah.

Di dalam gramatika Arab, kalimat isim hanya bisa dibaca jar karena tiga sebab utama:

  1. Majrur karena kemasukan huruf jar: Kalimat isim dibaca jar karena didahului oleh amil huruf jar, misalnya pada ungkapan فِي الْمَسْجِدِ.
  2. Majrur karena susunan idhafah: Kalimat isim dibaca jar karena berposisi sebagai mudhaf ilaih (kata kedua yang disandari), misalnya pada lafazh كِتَابُ زَيْدٍ. Pada susunan ini, kata pertama (mudhaf) i’robnya mengikuti amil sebelumnya, sedangkan kata kedua (mudhaf ilaih) selalu majrur.
  3. Majrur karena tawabi’ (mengekor): Kalimat isim dibaca jar karena mengikuti kata sebelumnya yang majrur melalui perantara na’at (sifat), ‘athaf, taukid, atau badal, misalnya lafazh حَسَنٍ pada kalimat مَرَرْتُ بِرَجُلٍ حَسَنٍ.

Kajian huruf jar adalah materi mendasar yang diajarkan kepada santri sejak awal belajar nahwu. Dengan menguasai huruf-huruf ini, pembaca dapat mengurai struktur kalimat, memahami harakat akhir kata, serta membaca Al-Qur’an dan kitab kuning dengan benar.

Daftar Isi

Istilah-Istilah Seputar Huruf Jar

Untuk memudahkan penelaahan materi nahwu, berikut beberapa istilah pokok yang lazim dipakai para ulama:

  • Jar dan Khofadh: Dua istilah untuk satu jenis i’rob yang sama. Ulama madzhab Bashrah lazim memakai sebutan jar, sedangkan ulama madzhab Kufah menyebutnya khofadh. Tanda utamanya adalah harakat kasrah pada akhir kalimat.
  • Amil Jaar: Lafazh yang menyebabkan kata setelahnya dibaca jar, baik berupa huruf jar maupun isim yang di-idhafah-kan.
  • Majrur atau Makhfudh: Kalimat isim yang terletak setelah amil jaar sehingga status i’robnya menjadi jar.
  • Jar Majrur: Rangkaian kata yang terbentuk dari gabungan amil huruf jar bersama isim majrurnya.

Cara Membedakan Huruf Jar dan Isim Majrur

Untuk mengenali unsur jar dan majrur dalam kalimat, perhatikan contoh kalimat huruf berikut:

اَلْخَيْرُ فِي الْعِلْمِ

Artinya: “Kebaikan itu ada di dalam ilmu.”

Pada kalimat di atas, rangkaian فِي الْعِلْمِ adalah susunan jar majrur. Kata فِي bertindak sebagai huruf jar (amil jaar), sedangkan kata الْعِلْمِ berkedudukan sebagai isim majrur dengan harakat kasrah di akhirnya. Gabungan keduanya menempati mahal rafa’ sebagai khabar bagi mubtada’ (اَلْخَيْرُ).

Berapa Jumlah Huruf Jar Sebenarnya?

Para ulama nahwu merumuskan jumlah huruf jar dengan beberapa perincian, tergantung keluasan pembahasan kitab yang dikaji:

  • 12 Huruf Jar (Versi Matan Al-Ajurrumiyyah): Syaikh Ibnu Ajurrum menyebutkan sembilan huruf pokok (min, ila, ‘an, ‘ala, fi, rubba, ba’, kaf, lam) ditambah tiga huruf qasam (wawu, ba’, ta’). Pembagian ini dirancang sederhana agar mudah dihafal santri pemula.
  • 20 Huruf Jar (Versi Nadhom Alfiyyah Ibnu Malik): Syaikh Ibnu Malik merinci huruf jar hingga 20 huruf, mencakup huruf umum, huruf istitsna, serta huruf yang digunakan dalam ragam dialek kabilah Arab.
  • 21 Huruf Jar (Versi Pensyarah Turats): Sebagian pensyarah menghitung ba’ ashliyyah terpisah dari ba’ qasam, sehingga genap berjumlah 21 huruf.
  • 22 Huruf Jar (Versi Tambahan Mazhab Sibawaih): Imam Sibawaih memasukkan huruf laula saat bersambung dengan dhamir muttashil sebagai huruf jar khusus.
nadhom alfiyah huruf huruf jar
Haka hurufal jarri – Bait Alfiyyah Ibnu Malik bab huruf-huruf jar

Imam Ibnu Malik menghimpun keduapuluh huruf jar tersebut dalam dua bait nadhom Alfiyyah berikut:

هَاكَ حُرُوفَ الْجَرِّ وَهْيَ: مِنْ، إِلَى ¤ حَتَّى، خَلَا، حَاشَا، عَدَا، فِي، عَنْ، عَلَى
مُذْ، مُنْذُ، رُبَّ، اللَّامُ، كَيْ، وَاوٌ، وَتَا ¤ وَالْكَافُ، وَالْبَا، وَلَعَلَّ، وَمَتَى

Artinya: “Terimalah huruf-huruf jar, yaitu: min, ila, hatta, khala, hasya, ‘ada, fi, ‘an, ‘ala, mudz, mundzu, rubba, lam, kai, wawu, ta’, kaf, ba’, la’alla, dan mata.”

Contoh Huruf Jar dalam Al-Qur’an

Huruf jar tersebar merata di hampir seluruh surah Al-Qur’an. Menemukan dan menelaah contoh ayat Al-Qur’an sangat membantu santri dalam mengasah kepekaan i’rob. Berikut sepuluh contoh ayat Al-Qur’an yang memuat susunan jar majrur beserta penjelasannya:

1. Huruf Fi dalam Surah Al-Anbiya Ayat 90

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

Artinya: “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik.” (QS. Al-Anbiya: 90)

Susunan jar majrur pada ayat ini terletak pada lafazh فِي الْخَيْرَاتِ. Kata الْخَيْرَاتِ dibaca jar dengan tanda kasrah karena merupakan bentuk jamak muannats salim.

2. Huruf Min dalam Surah An-Nisa Ayat 12

وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ

Artinya: “(Sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (QS. An-Nisa: 12)

Huruf jar مِنْ masuk pada lafazh Jalalah sehingga dibaca مِنَ اللَّهِ. Nun sukun pada kata min diharakati fathah untuk mencegah bertemunya dua sukun saat menyambung dengan alif lam.

3. Huruf Lam dalam Surah Al-Waqi’ah Ayat 38

Contoh penggunaan huruf jar lam terdapat di dalam surah Al-Waqi’ah:

لِأَصْحَابِ الْيَمِينِ

Artinya: “(Yaitu) untuk golongan kanan.” (QS. Al-Waqi’ah: 38)

Huruf lam mengejerkan lafazh أَصْحَابِ dengan tanda kasrah, sedangkan kata الْيَمِينِ majrur karena berposisi sebagai mudhaf ilaih.

4. Huruf Fi dalam Surah Yasin Ayat 40

وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Artinya: “Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin: 40)

Lafazh فِي فَلَكٍ merupakan susunan jar majrur di mana kata falak berharakat kasratain karena berbentuk isim nakirah mufrad.

5. Huruf Lam dalam Surah An-Nur Ayat 26

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

Artinya: “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).” (QS. An-Nur: 26)

Ayat ini menyajikan variasi tanda i’rob jar: lafazh لِلْخَبِيثِينَ dan لِلطَّيِّبِينَ bertanda jar huruf ya’ karena jamak mudzakkar salim, sedangkan لِلْخَبِيثَاتِ dan لِلطَّيِّبَاتِ bertanda kasrah karena jamak muannats salim.

6. Huruf Min dalam Surah Maryam Ayat 58

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ

Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam…” (QS. Maryam: 58)

Terdapat dua huruf jar min: pertama pada مِنَ النَّبِيِّينَ (tanda ya’ pada jamak mudzakkar salim), dan kedua pada مِنْ ذُرِّيَّةِ (tanda kasrah pada isim mufrad).

7. Huruf Ba dalam Surah Al-‘Alaq Ayat 1

Penggunaan huruf ba’ tercantum pada ayat permulaan wahyu di surah Iqra (Al-‘Alaq):

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Susunan jar majrur بِاسْمِ berta’alluq kepada fi’il amr sebelumnya (اقْرَأْ), menunjukkan fungsi ba’ sebagai sarana perantara (isti’anah).

8. Huruf Hatta dalam Surah Al-Qadr Ayat 5

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Artinya: “Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)

Lafazh حَتَّىٰ مَطْلَعِ membuktikan bahwa hatta bertindak sebagai amil jaar yang mengejerkan isim zhahir penunjuk batas akhir waktu.

9. Huruf Fi dalam Surah Al-Qadr Ayat 1

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)

Susunan jar majrur فِي لَيْلَةِ menerangkan wadah waktu (zharf zaman) dari peristiwa turunnya Al-Qur’an.

10. Huruf Ba dalam Bacaan Basmalah

Pada setiap pembukaan surah dan amalan ibadah harian, bacaan bismillah senantiasa dilantunkan:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Lafazh بِسْمِ terdiri dari huruf jar ba’ dan isim majrur ismi, yang berta’alluq kepada kata kerja tersimpan yang ditakdirkan di awal (seperti ucapan: ibtada’tu atau aqra’u).

Klasifikasi Sistematis 20+ Huruf Jar

Di dalam literatur turats seperti Syarah Ibnu ‘Aqil, Syarah Al-Asymuni, dan Jami’ud Durus al-‘Arabiyyah, para ulama mengklasifikasikan huruf-huruf jar ke dalam lima tinjauan sistematis:

1. Huruf Jar yang Masuk pada Isim Zhahir dan Isim Dhamir

Kelompok ini beranggotakan tujuh huruf yang memiliki jangkauan paling luwes, yakni dapat mengejerkan kata benda nampak (isim zhahir) maupun kata ganti (isim dhamir):

مِنْ، إِلَى، عَنْ، عَلَى، فِي، الْبَاءُ، اللَّامُ

Bila masuk pada isim dhamir muttashil, huruf-huruf ini membentuk lafazh majrur mahal seperti: مِنْهُ، إِلَيْهِ، عَنْهُ، عَلَيْهِ، فِيهِ، بِهِ، لَهُ.

2. Huruf Jar yang Khusus Masuk pada Isim Zhahir Saja

Kelompok ini terdiri dari tujuh huruf yang tidak diperkenankan masuk pada isim dhamir dalam kaidah bahasa Arab fashih:

  • رُبَّ (Rubba): Khusus masuk pada isim nakirah yang disifati.
  • مُذْ dan مُنْذُ (Mudz dan Mundzu): Khusus masuk pada isim penunjuk waktu (zaman).
  • الْكَافُ (Al-Kaf): Khusus masuk pada isim zhahir untuk penyerupaan.
  • حَتَّى (Hatta): Khusus masuk pada isim zhahir yang menjadi titik batas akhir.
  • وَاوُ الْقَسَمِ (Wawu Sumpah): Khusus masuk pada isim zhahir yang dijadikan sumpah.
  • تَاءُ الْقَسَمِ (Ta’ Sumpah): Khusus masuk pada lafazh Jalalah (تَاللَّهِ).

Kekhususan kelompok ini ditegaskan oleh Ibnu Malik dalam bait Alfiyyah:

وَالظَّاهِرَ اخْصُصْ بِمُنْذُ مُذْ وَحَتَّى ¤ وَالْكَافِ وَالْوَاوِ وَرُبَّ وَالتَّا

3. Huruf Jar Istitsna (Pengecualian)

Kelompok ini terdiri dari tiga lafazh: خَلَا، حَاشَا، عَدَا. Ketiganya berfungsi sebagai huruf jar jika tidak didahului oleh ma mashdariyyah, sehingga isim setelahnya dibaca majrur.

Namun apabila didahului oleh ma (مَا خَلَا، مَا عَدَا), maka ketiganya beralih status menjadi fi’il madhi dan kata setelahnya wajib dibaca nashab sebagai maf’ul bih.

4. Huruf Jar Dialek dan Penggunaan Khusus

Empat huruf berikutnya memiliki corak pemakaian khusus dalam ragam dialek Arab:

  • مَتَى (Mata): Berlaku sebagai huruf jar yang bermakna min (dari) khusus dalam dialek kabilah Hudzail.
  • لَعَلَّ (La’alla): Berlaku sebagai huruf jar yang bermakna harapan (raja’) khusus dalam dialek kabilah ‘Uqail.
  • كَيْ (Kai): Menjadi huruf jar penerang sebab (ta’lil) saat masuk pada ma istifhamiyyah atau menjarkan mashdar mu’awwal dari an mashdariyyah.
  • لَوْلَا (Laula): Menurut pendapat Imam Sibawaih, lafazh ini menjadi huruf jar saat bersambung dengan isim dhamir muttashil.

5. Pembagian Huruf Jar dari Segi Ta’alluq

Ditinjau dari kebutuhan maknanya terhadap keterikatan kalimat, huruf jar dipilah menjadi tiga kategori:

  • Huruf Jar Ashli: Memiliki faedah makna mandiri dan wajib berta’alluq kepada fi’il atau syibhul fi’il (contoh: min, ila, ‘an, ‘ala, fi, ba’, lam).
  • Huruf Jar Za’id: Huruf jar tambahan yang berfungsi menegaskan kalimat (taukid). Huruf ini tidak membutuhkan ta’alluq, dan isim majrurnya secara kedudukan hakiki menempati fungsi asalnya seperti fa’il, maf’ul bih, atau mubtada’ (contoh: min za’idah dan ba’ za’idah).
  • Huruf Jar Syabih biz Za’id: Huruf jar yang menyerupai za’id karena tidak membutuhkan ta’alluq, namun menyerupai ashli karena membawa makna khusus yang tidak boleh ditiadakan (contoh: rubba dan la’alla dialek ‘Uqail).

Rincian Lengkap 20+ Huruf Jar: Arti Pokok dan Contoh Penggunaannya

Berikut telaah menyeluruh mengenai makna pokok, aturan gramatika, serta contoh tuturan fashih untuk setiap huruf jar:

1. الْبَاءُ (بِ)

Huruf ba memiliki ragam faedah yang sangat luas. Faedah pokoknya meliputi al-ilshaq (menempel erat), al-isti’anah (memakai alat), dan at-ta’diyah (mentransitifkan fi’il lazim). Contoh dalam tuturan fashih:

مَرَرْتُ بِزَيْدٍ وَكَتَبْتُ بِالْقَلَمِ

Artinya: “Aku berjalan berpapasan dengan Zaid dan aku menulis dengan pena.”

Huruf ba’ juga dapat berfungsi sebagai huruf za’idah penguat (taukid), seperti firman Allah: وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (QS. An-Nisa: 79). Pada ayat ini, lafazh Jalalah majrur secara lafazh namun menempati mahal rafa’ sebagai fa’il dari kata kafa.

2. مِنْ

Huruf min berfaedah utama ibtida’ul ghayah (permulaan batas ruang atau waktu), at-tab’idh (sebagian), dan bayanul jins (penjelas jenis bahan). Contoh permulaan tempat dan waktu:

سِرْتُ مِنَ الْبَصْرَةِ مِنْ يَوْمِ الْخَمِيسِ

Artinya: “Aku berjalan mulai dari Bashrah sejak hari Kamis.”

3. إِلَى

Huruf ila berfaedah utama intiha’ul ghayah (titik akhir batas ruang atau rentang waktu). Contoh batas perjalanan tempat dan waktu:

سِرْتُ إِلَى الْكُوفَةِ إِلَى يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Artinya: “Aku berjalan sampai ke Kufah hingga hari Jumat.”

Batas akhir waktu juga dicontohkan dalam Al-Qur’an terkait ketentuan ibadah puasa: ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ (QS. Al-Baqarah: 187).

4. عَنْ

Huruf ‘an berfaedah utama al-mujawazah (melampaui, melewati, atau menjauhi sesuatu). Contoh dalam tuturan fashih santri:

رَمَيْتُ السَّهْمَ عَنِ الْقَوْسِ

Artinya: “Aku melepaskan anak panah melesat melewati busurnya.”

Huruf ini juga membawa makna penggantian (al-badaliyyah), sebagaimana sabda Nabi ﷺ mengenai puasa nadzar orang tua yang telah wafat.

5. عَلَى

Huruf ‘ala berfaedah utama al-isti’la’ (berada di posisi atas), baik bersifat fisik nyata maupun kedudukan derajat. Contoh penggunaan fisik:

صَعِدْتُ عَلَى السَّطْحِ

Artinya: “Aku menaiki bagian atas loteng.”

6. فِي

Huruf fi berfaedah utama azh-zharfiyyah (wadah penampung), baik wadah ruang tempat nyata maupun wadah waktu kejadian. Contoh wadah ruang:

اَلْمَاءُ فِي الْكُوزِ

Artinya: “Air itu berada di dalam kendi.”

7. الْكَافُ (كَ)

Huruf kaf berfaedah pokok at-tasybih (penyerupaan sifat). Huruf ini hanya masuk pada isim zhahir:

زَيْدٌ كَالْبَدْرِ فِي الْحُسْنِ

Artinya: “Zaid itu laksana bulan purnama dalam ketampanan.”

Selain penyerupaan, kaf juga dapat bertindak sebagai huruf za’idah penguat kesucian sifat Allah: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ (QS. Asy-Syura: 11).

8. اللَّامُ (لِ)

Huruf lam memiliki faedah kepemilikan hakiki (al-milkiyyah), pengkhususan (al-ikhtishash), dan kelayakan hak (al-istihqaq). Contoh kepemilikan dan penyerahan hak:

اَلْمَالُ لِزَيْدٍ وَالْجُلُّ لِلْفَرَسِ

Artinya: “Harta itu milik Zaid dan pelana kain itu khusus untuk kuda.”

9. وَاوُ الْقَسَمِ (وَ)

Wawu sumpah khusus masuk pada isim zhahir, dan kata kerja sumpahnya wajib dibuang. Contoh dalam ucapan sumpah santri:

وَاللهِ لَأَجْتَهِدَنَّ فِي التَّعَلُّمِ

Artinya: “Demi Allah, aku sungguh-sungguh akan bersungguh-sungguh dalam belajar.”

10. بَاءُ الْقَسَمِ (بِ)

Ba’ sumpah adalah induk huruf sumpah (ashlul qasam).

Kelebihan huruf jer ba’ dibanding wawu dan ta’ adalah ia boleh masuk pada isim zhahir maupun isim dhamir (بِكَ لَأَفْعَلَنَّ), serta kata kerja sumpahnya boleh dimunculkan secara jelas, seperti ucapan: أُقْسِمُ بِاللهِ (Aku bersumpah demi Allah).

11. تَاءُ الْقَسَمِ (تَ)

Ta’ sumpah memiliki pemakaian paling khusus di antara huruf sumpah, yakni hanya masuk pada lafazh Jalalah (تَاللَّهِ), sebagaimana firman Allah ﷻ pada kisah Nabi Yusuf: قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ (QS. Yusuf: 85).

12. مُذْ dan 13. مُنْذُ

Kedua huruf ini khusus masuk pada isim zhahir penunjuk waktu. Ketentuan maknanya terbagi tiga kondisi:

  • Jika menunjukkan waktu lampau, bermakna min (sejak): مَا رَأَيْتُ زَيْدًا مُذْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ (Aku tidak melihat Zaid sejak hari Jumat).
  • Jika menunjukkan waktu berjalan, bermakna fi (pada): مَا رَأَيْتُهُ مُنْذُ يَوْمِنَا (Aku tidak melihatnya pada hari ini).
  • Jika menunjukkan hitungan bilangan tempo, bermakna rentang masa: مَا كَلَّمْتُهُ مُذْ يَوْمَيْنِ (Aku tidak berbicara dengannya selama dua hari).

14. رُبَّ

Huruf jar syabih biz za’id yang berfaedah menyatakan sedikit (at-taqlil) atau banyak (at-taktsir). Huruf ini khusus masuk pada isim nakirah yang disifati:

رُبَّ رَجُلٍ كَرِيمٍ لَقِيتُهُ

Artinya: “Sedikit sekali (atau betapa banyak) orang dermawan yang telah kujumpai.”

Lafazh رَجُلٍ majrur harakatnya, namun menempati kedudukan rafa’ sebagai mubtada’.

15. حَتَّى

Huruf hatta berfaedah menandai puncak batas akhir kejadian (intiha’ul ghayah). Majrur dari huruf hatta wajib berupa isim zhahir yang merupakan bagian akhir dari hal yang disebut sebelumnya:

أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسِهَا

Artinya: “Aku memakan ikan itu sampai ke kepalanya.”

16. خَلَا، 17. عَدَا، dan 18. حَاشَا

Ketiga lafazh ini berfungsi untuk pengecualian (istitsna’). Jika tidak didahului ma mashdariyyah, ketiganya sah diamalkan sebagai huruf jar:

  • قَامَ الْقَوْمُ خَلَا زَيْدٍ (Semua orang berdiri kecuali Zaid).
  • حَضَرَ الطُّلَّابُ عَدَا بَكْرٍ (Para santri hadir selain Bakar).
  • نَجَحَ التَّلَامِيذُ حَاشَا خَالِدٍ (Para murid lulus terbebas dari Khalid). Huruf hasya mengandung makna penyucian dari sifat tercela yang disematkan kepada kelompok sebelumnya.

19. كَيْ

Huruf kai berfaedah menerangkan alasan atau sebab (at-ta’lil). Huruf ini menjadi huruf jar dalam dua kondisi:

  1. Ketika masuk pada ma istifhamiyyah (kata tanya), di mana alif pada kata ma dibuang dan diberi ha’ saktah: كَيْمَهْ؟ (maknanya: untuk apa / mengapa hal itu engkau lakukan?).
  2. Ketika masuk pada fi’il mudhari’ yang didahului an mashdariyyah yang tersimpan: جِئْتُ كَيْ أَتَعَلَّمَ (artinya: likai ata’allama). Huruf kai menjarkan mashdar mu’awwal yang terbentuk dari fi’il tersebut.

20. مَتَى (Dialek Kabilah Hudzail)

Mayoritas kabilah Arab memakai mata sebagai isim zharf zaman (kata tanya atau penunjuk waktu). Namun menurut dialek kabilah Hudzail, lafazh ini diperlakukan sebagai huruf jar yang bermakna min (dari), sebagaimana tertera dalam syair Abu Dzu’aib Al-Hudzali:

شَرِبْنَ بِمَاءِ الْبَحْرِ ثُمَّ تَرَفَّعَتْ ¤ مَتَى لُجَجٍ خُضْرٍ لَهُنَّ نَئِيجُ

Artinya: “Gumpalan awan itu meminum air laut lalu naik membubung tinggi dari samudra luas nan biru dengan gemuruh suara yang menderu.”

Pada bait di atas, ungkapan مَتَى لُجَجٍ berposisi sebagai jar majrur dalam dialek Hudzail, sepadan maknanya dengan مِنْ لُجَجٍ.

21. لَعَلَّ (Dialek Kabilah ‘Uqail)

Umumnya la’alla termasuk jajaran Inna wa akhawatuha yang menashabkan isim dan merafa’kan khabar. Akan tetapi, kabilah ‘Uqail memperlakukannya sebagai huruf jar syabih biz za’id untuk menyatakan harapan (at-tarajji). Contoh masyhur yang dikutip dalam Syarah Ibnu ‘Aqil adalah bait syair berikut:

فَقُلْتُ ادْعُ أُخْرَى وَارْفَعِ الصَّوْتَ جَهْرَةً ¤ لَعَلَّ أَبِي الْمِغْوَارِ مِنْكَ قَرِيبُ

Artinya: “Maka kukatakan: serulah sekali lagi dan lantangkan suaramu dengan jelas, semoga Abu Al-Mighwar berada dekat darimu.”

Pada bait di atas, lafazh أَبِي الْمِغْوَارِ dibaca jar dengan tanda ya’ karena termasuk asma’ul khamsah setelah huruf la’alla. Adapun dalam naskah lama juga kerap disitir bait sindiran satire (tahakkum) kabilah: لَعَلَّ اللهِ فَضَّلَكُمْ عَلَيْنَا, di mana lafazh Jalalah dibaca majrur kasrah oleh huruf la’alla.

22. لَوْلَا Menurut Mazhab Imam Sibawaih

Imam Sibawaih menetapkan bahwa lafazh laula berstatus sebagai huruf jar khusus manakala bersambung dengan isim dhamir muttashil, seperti dalam tuturan fashih: لَوْلَاكَ، لَوْلَاهُ، لَوْلَايَ.

Menurut ketetapan beliau, isim dhamir tersebut menempati mahal jar karena amil laula. Walaupun demikian, mayoritas ulama nahwu lainnya (termasuk Al-Akhfash) menilai dhamir tersebut tetap berada pada mahal rafa’ sebagai mubtada’.

Aturan Keterikatan Makna (Ta’alluq) Jar Majrur

Di dalam gramatika nahwu, susunan jar majrur tidak dapat berdiri sendiri secara maknawi. Karena huruf jar berfungsi menjembatani makna antara perbuatan dan sasarannya, susunan jar majrur wajib memiliki keterikatan makna (ta’alluq) dengan kata lain di dalam kalimat.

Kaidah dasar ta’alluq dalam ilmu nahwu menetapkan:

Setiap susunan jar majrur wajib berta’alluq kepada fi’il (kata kerja), syibhul fi’il (kata yang menyerupai fi’il seperti isim fa’il, isim maf’ul, mashdar, atau sifat musyabbahah), atau lafazh yang membawa kandungan makna fi’il.

Contohnya pada tuturan أَنَا مُسَافِرٌ إِلَى مَكَّةَ, susunan إِلَى مَكَّةَ berta’alluq kepada isim fa’il مُسَافِرٌ. Begitu pula pada كَتَبْتُ بِالْقَلَمِ, susunan jar majrurnya berta’alluq langsung kepada fi’il كَتَبْتُ.

Apabila di dalam kalimat tidak nampak kata kerja atau yang menyerupainya, maka ta’alluq-nya ditakdirkan terikat pada kata yang tersimpan (mahdzuf). Hal ini berlaku ketika jar majrur menempati fungsi sintaksis:

  • Khabar mubtada’: Pada kalimat اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, susunan jar majrur لِلَّهِ berta’alluq kepada kata tersimpan yang ditakdirkan berupa كَائِنٌ atau اسْتَقَرَّ.
  • Sifat isim nakirah: Seperti pada kalimat رَأَيْتُ طَائِرًا عَلَى الْغُصْنِ (Aku melihat seekor burung yang bertengger di atas dahan).
  • Hal isim ma’rifat: Seperti pada ungkapan أَبْصَرْتُ الْهِلَالَ بَيْنَ السَّحَابِ.
  • Shilah maushul: Seperti pada ungkapan جَاءَ الَّذِي فِي الدَّارِ.

Aturan Fonetis Santri: Pertemuan Sukun dengan Alif Lam

Dalam praktik melafalkan naskah Arab gundul maupun bertanda baca, huruf jar yang berakhiran huruf mati (sukun) akan mengalami penyesuaian harakat ketika bertemu dengan kata yang diawali hamzah washal (seperti kata dengan alif lam). Penyesuaian ini dirancang untuk mencegah bertemunya dua sukun berturut-turut (iltiqa’us sakinain):

  • Huruf مِنْ (Min): Nun sukunnya diubah menjadi harakat fathah, sehingga dibaca مِنَ الْبَصْرَةِ (minal bashrah). Para ulama nahwu menerangkan bahwa fathah dipilih demi meringankan ucapan lidah karena huruf mim sebelumnya telah berharakat kasrah. Jika dibaca kasrah (minil), pelafalan akan terasa berat di lisan orang Arab.
  • Huruf Sukun Lainnya: Huruf jar berakhiran sukun selain min umumnya diubah menjadi harakat kasrah selaras kaidah umum pemecah sukun (al-ashlu fit tahrikil kasru). Contohnya lafazh عَنْ berubah menjadi عَنِ الْقَوْسِ (‘anil qausi), dan lafazh مُذْ berubah menjadi مُذِ الْيَوْمِ (mudzil yaum).

Tabel Perbandingan 20+ Huruf Jar Lengkap

Untuk memudahkan pemetaan seluruh huruf jar yang telah diuraikan, perhatikan tabel ringkasan perbandingan berikut:

No Huruf Jar Karakter Masuk Makna Pokok Status Ta’alluq Bentuk Tarkib
1 الْبَاءُ (بِ) Isim Zhahir dan Dhamir Ilshaq, isti’anah, ta’diyah, taukid Ashli (Za’id bila taukid) بِـ + اسم ظاهر / ضمير
2 مِنْ Isim Zhahir dan Dhamir Ibtida’ul ghayah, tab’idh, bayanul jins Ashli (Za’id bila taukid) مِنْ + اسم مكان / زمان
3 إِلَى Isim Zhahir dan Dhamir Intiha’ul ghayah tempat dan waktu Ashli (Wajib) إِلَى + نهاية الغاية
4 عَنْ Isim Zhahir dan Dhamir Al-Mujawazah, badaliyyah Ashli (Wajib) عَنْ + المجاوز عنه
5 عَلَى Isim Zhahir dan Dhamir Al-Isti’la’ fisik dan maknawi Ashli (Wajib) عَلَى + المستعلى عليه
6 فِي Isim Zhahir dan Dhamir Azh-Zharfiyyah ruang dan waktu Ashli (Wajib) فِي + الظرف المكاني/الزماني
7 الْكَافُ (كَ) Khusus Isim Zhahir At-Tasybih, za’idah lit taukid Ashli (Za’id bila taukid) كَـ + المشبه به
8 اللَّامُ (لِ) Isim Zhahir dan Dhamir Milkiyyah, ikhtishash, istihqaq Ashli (Wajib) لِـ + المالك / المختص
9 وَاوُ الْقَسَمِ Khusus Isim Zhahir Sumpah (Fi’il wajib dibuang) Ashli (Fi’il mahdzuf) وَ + المقسم به الظاهر
10 بَاءُ الْقَسَمِ Isim Zhahir dan Dhamir Induk Sumpah (Fi’il boleh nampak) Ashli (Wajib) بِـ + المقسم به
11 تَاءُ الْقَسَمِ Khusus Lafazh Jalalah Sumpah khusus nama Allah Ashli (Fi’il mahdzuf) تَـ + لفظ الجلالة
12 مُذْ Khusus Isim Zaman Awal waktu (min) / Pada waktu (fi) Ashli (Wajib) مُذْ + اسم الزمان
13 مُنْذُ Khusus Isim Zaman Awal waktu (min) / Pada waktu (fi) Ashli (Wajib) مُنْذُ + اسم الزمان
14 رُبَّ Khusus Isim Nakirah Taqlil (sedikit) / Taktsir (banyak) Syabih biz Za’id (Tidak ada) رُبَّ + نكرة موصوفة
15 حَتَّى Khusus Isim Zhahir Intiha’ul ghayah (ujung batas akhir) Ashli (Wajib) حَتَّى + الاسم الظاهر الآخر
16 خَلَا Isim Zhahir (Tanpa Ma) Istitsna’ (Pengecualian) Ashli (Wajib) خَلَا + المستثنى المجرور
17 عَدَا Isim Zhahir (Tanpa Ma) Istitsna’ (Pengecualian) Ashli (Wajib) عَدَا + المستثنى المجرور
18 حَاشَا Isim Zhahir Istitsna’ wat Tanzih (Penyucian) Ashli (Wajib) حَاشَا + المستثنى المجرور
19 كَيْ Ma Istifham / Mashdar Ta’lil (Penerang alasan/sebab) Ashli (Wajib) كَيْ + ما الاستفهامية / أنْ
20 مَتَى Dialek Kabilah Hudzail Semakna dengan Min (dari) Ashli (Wajib) مَتَى + الاسم المجرور
21 لَعَلَّ Dialek Kabilah ‘Uqail Tarajji (Harapan) Syabih biz Za’id (Tidak ada) لَعَلَّ + الاسم المجرور لفظا
22 لَوْلَا Mazhab Imam Sibawaih Khusus Isim Dhamir Muttashil Syabih biz Za’id (Menurut Sibawaih) لَوْلَا + ضمير متصل

Kesimpulan

Huruf jar merupakan instrumen gramatika pokok dalam bahasa Arab yang berfungsi mengejerkan kalimat isim di belakangnya sehingga membentuk susunan jar majrur yang berkedudukan sebagai syibhul jumlah.

Perbedaan penyebutan jumlah huruf jar antara 12 huruf dalam Al-Ajurrumiyyah, 20 huruf dalam nadhom Alfiyyah Ibnu Malik, hingga 22 huruf dalam kajian pensyarah turats dan mazhab Sibawaih, bermuara pada tingkat keluasan perincian serta pencakupan dialek kabilah Arab.

Sebagian huruf jar dapat masuk pada isim zhahir dan isim dhamir secara leluasa, sementara sebagian lainnya terikat pada persyaratan khusus seperti pembatasan pada isim zaman, isim nakirah yang disifati, nama sumpah, atau pengecualian tanpa perantara huruf ma.

Penguasaan terhadap faedah makna dan hukum keterikatan (ta’alluq) setiap huruf jar memberikan landasan kukuh bagi para santri untuk mengurai kedudukan i’rob, memahami susunan kalimat, serta membaca Al-Qur’an dan literatur kitab kuning secara tertib dan bernalar.