I’rob Surah Al Ala Ayat 1 Sampai 5

Al a’la yang memili arti “Yang paling tinggi” menjadi nama salah satu surah di dalam al Quran. Surah ini memiliki urutan ke-87. Dalam penyusunannya, surah al Ala berada setelah surat at Tariq dan sebelum surah Al-Ghasyiyah. Semua surah tersebut masuk dalam juz 30 atau dikenal dengan juzamma.

Al Quran surah al Ala ini diawali dengan bacaan sabbihisma rabbikal a’la. Ada kata sabih di awalnya. Dalam tashrif, ‘sabbih’ (سَبِّح) merupakan bentuk kata kerja atau Fiil Amar dari kata dasar atau mashdar tasbih (تسبيح) dengan fiil madhi sabbaha (سبَّحَ).

Arti dari tasbih adalah penyucian, peninggian dan pengagungan. Dari kata yang sama juga bisa dan biasa digunakan untuk Kalimah tasbih, seperti subhanallah dan beberapa variasinya. Intinya semua ini memiliki akar kata yang sama; tasbih.

Dari surah al Ala yang berisi 19 ayat ini, ilmu Nahwu ini akan mencoba meng-i’rob beberapa ayat dari surah ini. Namun, sebelum itu ada beberapa wawasan yang perlu diketahui terkait surah al Ala. Mari kita simak. Bismillahirrahmanirrahim, kita mulai!

Seputar Surah

Ada beberapa fakta menarik tentang Surah Al A’la ini.

  • Jumlah ayat: 19 ayat
  • Urutan dalam Al-Quran: Surah ke-87
  • Tempat turun: Mekkah
  • Golongan Surah Makkiyah
  • Waktu turun: Diperkirakan turun pada periode awal dakwah di Mekkah, sebelum Nabi hijrah ke Madinah.
  • Nama lain: Surah Al-A’la juga dikenal dengan nama Surah Sabbih
  • Tema utama dan kandungan surah al Ala

Alasan Penamaan Surah Al A’la

Penamaan surat ini dengan Surah Al-A’la, karena mengambil bunyi ayat pertamanya; sabbihisma rabbikal a’la. Kata ٱلۡأَعۡلَى al-a’la merupakan bentuk superlatif atau Tafshil dari kata al-‘aliy ٱلۡعَالِى. Al-Aliy artinya tinggi.

Sehingga al A’la memikii arti puncak ketinggian, yang menjadi antonim dari kerendahan baik secara material maupun immaterial. Jadi, Surah Al-A’la memang menunjukkan kemuliaan dan keagungan Allah swt. sebagai Pencipta dan Pemelihara seluruh alam semesta. Dalam ayat pertama, kata “al-a’la” yang berarti “yang Maha Tinggi” digunakan untuk menggambarkan ketinggian dan keagungan Allah.

Allah adalah yang Maha Tinggi, tidak ada yang dapat menandingi kedudukan-Nya. Ketinggian Allah bukanlah dalam arti material atau berada pada satu tempat tertentu, melainkan lebih kepada kedudukan dan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas.

Menurut Imam al-Ghazali, pada awalnya manusia mengaitkan ketinggian dengan tempat dan penglihatan indrawi, namun orang yang memiliki pengetahuan yang lebih menyadari bahwa ada pandangan bashirah yang berbeda dan tidak bergantung pada indrawi.

Ketinggian Allah memiliki dua aspek, yaitu ketinggian Dzat-Nya dan ketinggian kedudukan-Nya. Ketinggian kedudukan-Nya merupakan kesempurnaan yang diberikan oleh sifat-sifat terbaik yang dimiliki-Nya. Sementara itu, ketinggian Dzat-Nya berhubungan dengan pengetahuan tentang siapa Dia yang tidak dapat dicapai kecuali oleh-Nya sendiri.

Ayat pertama dari Surah Al-A’la mengajarkan kepada kita untuk mengagungkan nama Allah yang Maha Tinggi, sehingga kita bisa selalu mengingat bahwa Allah memiliki kedudukan yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun.

Kemuliaan dan keagungan Allah dapat memberikan rasa percaya diri pada seseorang meskipun dia memiliki keterbatasan dalam hal fisik, harta, atau dalam pertarungan hidupnya. Seperti pada perang Uhud yang mempertemukan antara kaum Muslimin dan musyrikin, walaupun kalah dalam pertarungan, namun dengan keyakinan akan keagungan Allah, mereka tetap bisa meraih kemuliaan dan kekuatan.

Ayat pertama dari Surah Al-A’la juga menunjukkan betapa pentingnya memahami prinsip-prinsip pokok dalam Islam. Ketika Rasulullah saw. belum memiliki pengikut yang banyak, kekuatan dan kemuliaan batin yang diberikan oleh ayat-ayat suci seperti ini membantunya meraih kekuatan dan kemuliaan lahiriah di masa depan.

Nama Lain

Surat al ala memliki nama lain, diantaranya adalah surah Sabbih karena lafazh itu menjadi pembuka surah ini. Ada juga yang menyebutnya surah Sabbihisma. Alasan penamaan ini sama dengan alasan yang pertama. Namun demikian, ada sebagian kecil yang menyebutnya dengan surah Sabbihisma rabbikal a’la.

Selain itu, penamaan dengan Sabbih atau Sabbihisma yang berarti ‘sucikanlah’ merupakan tema utama surah ini. Keterangan alasan ini bisa baca pada sub kandungan surah di bawah.

Golongan Surah

Ada silang pendapat tentang kota turunnya surat al ala ini. Menurut jumhur (mayoritas) ulama, semua ayat-ayatnya turun di kota Mekah. Artinya surat al ala diturunkan di kota Mekah. Dengan demikian, surat al ala tergolong surat makkiyah.

Masih menurut jumhur ulama, surat ini turun sebelum Nabi melakukan hijrah. Ini artinya  surah al ala turun sebelum adanya tahun hijriyah, karena tahun hijriyah dimulai saat nabi melakukan hijrah ke kota Madinah.

Urutan Wahyu

Dalam urutannya ada beberapa pendapat besar. Pendapat pertama mengatakan bahwa surah sabihis ini merupakan wahyu ke-7 yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Surat al ala diturunkan setelah surat at Takwir yang bunyi ayat pertamanya Idza asy Syamsu Kuwwirat.

Sementara bagi ulama yang menganggap surah al Fatihah sebagai surah pertama atau ke-3, maka surat sabihisma ini menempati urutan ke-8.

Tulisan Surah Al Ala Arab-Latin

Mengutip Quran Kemenag, berikut kami sertakan Surah Al A’la dalam tulisan Arab, Latin dan terjemahannya.

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى ﴿١﴾ الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ ﴿٢﴾ وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ ﴿٣﴾ وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَىٰ ﴿٤﴾ فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَىٰ ﴿٥﴾ سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَىٰ ﴿٦﴾ إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ ﴿٧﴾ وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ ﴿٨﴾ فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَىٰ ﴿٩﴾ سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَىٰ ﴿١٠﴾ وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى ﴿١١﴾ الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَىٰ ﴿١٢﴾ ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ ﴿١٣﴾ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ ﴿١٤﴾ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ ﴿١٥﴾ بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ﴿١٧﴾ إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ ﴿١٨﴾ صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ ﴿١٩﴾ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ

Surah al Ala Latin Beserta Artinya

Berikut kami sertakan Surah al Ala dalam tulisan Latin beserta artinya atau terjemahannya.

Al Ala LatinAyatTerjemahan
Sabbiḫisma rabbikal-a‘lâ1Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi,
Alladzî khalaqa fa sawwâ2yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),
Walladzî qaddara fa hadâ3dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,
Walladzî akhrajal-mar‘â4dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,
Fa ja‘alahû ghutsâ’an aḫwâ5lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.
Sanuqri’uka fa lâ tansâ6Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa,
Illâ mâ syâ’allâh, innahû ya‘lamul-jahra wa mâ yakhfâ7kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.
Wa nuyassiruka lil-yusrâ8dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah,
Fa dzakkir in nafa‘atidz-dzikrâ9oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat,
Sayadzdzakkaru may yakhsyâ10orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran,
Wa yatajannabuhal-asyqâ11dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.
Alladzî yashlan-nâral-kubrâ12(Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).
Tsumma lâ yamûtu fîhâ wa lâ yaḫyâ13Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.
Qad aflaḫa man tazakkâ14Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),
Wa dzakarasma rabbihî fa shallâ15dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.
Bal tu’tsirûnal-ḫayâtad-dun-yâ16Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.
Wal-âkhiratu khairuw wa abqâ17Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.
Inna hâdzâ lafish-shuḫufil-ûlâ18Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu,
Shuḫufi ibrâhîma wa mûsâ19(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.
Sٍurat al A’la Latin beserta artinya

Menurut beberapa keterangan, setelah membaca Surat Al-A’la ini dianjurkan membaca ‘alaihimas salam. Ini bentuk salam kepada kedua Nabi yang disebutkan dalam Al-Ala ayat 19, yaitu Nabi Ibrahim dan Musa.

Kandungan Surah Al A’la

Tulisan latin Surah al a'la
Bacaan dan Tulisan latin Surah al ala 1-5

Kandungan Utama

Tema atau kandungan utama surah ini terangkum dalam penamaan surah. Yaitu al a’la yang bertema penyucian, penetapan kekuasaan dan ke-esa-an Allah. Dalam kitab tafsir al Wasith disebutkan tujuan atau kandungan utama surah al Ala, berikut selengkapnya:

8 Kandungan Surah al A’la

Berdasarkan kitab tafsir di atas, terdapat 8 kandungan surah al Ala dari ayat 1 sampai ayat 19.. Berikut selengkapnya:

  1. Penyucian dzat dan pengangungan Dzat Allah
  2. Menjelaskan penciptaan, penyempurnaan dan penentuan makhluq.
  3. Mengarahkan manusia berpikir terhadap hasil ciptaan Allah
  4. Memberitahu nabi, bahwa Allah akan membacakan kepadanya untu dihafal. Semua atas kehendak-Nya.
  5. Perintah kepada rasul untuk memberi peringatan agar orang yang takut kepada Allah mendapatkan manfaat dari peringatan itu.
  6. Menginformasikan kepada nabi, bahwa kaum yang menentangnya akan celaka dan masuk neraka.
  7. Kemenangan bagi orang yang menyucikan dari syirik dan maksiat serta yang menyebut nama-Nya.
  8. Tanshis atau kutipan, bahwa hal ini juga terdapat dalam suhuf Nabi Ibrahim dan Musa. Suhuf adalah lembaran-lembaran berisi wahyu ilahi.

Keutamaan Surat Al A’la

Surah Sabbihisma ini merupakan salah  satu surah favorit Nabi Muhammad saw. Dalam berbagai shalat, Nabi sering membacanya, seperti dalam shalat Jumat, shalat led, shalat Witir, dan sesekali di shalat Maghrib rakaat awal. Sehingga Fuqoha menyimpulkan sunnah hukumnya membaca surah al Ala dalam shalat sebagaimana Nabi mempraktekkannya.

I’rob Surah al A’la Ayat 1 Sampai 5

Perkalimah dan Artinya

 Ayat 1 سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَى

سَبِّحِ kalimah fiil dan isim dhomir. Artinya: Sucikanlah (kamu)

ٱسْمَ رَبِّكَ kalimah isim semua (3). Artinya: nama Tuhanmu

ٱلْأَعْلَى kalimah huruf, kalimah isim. Artinya: Yang Maha Tinggi

Ayat 2 اَلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ

اَلَّذِى خَلَقَ kalimah isim, kalimah fiil, isim dhomir. Artinya: yang (Dia) ciptakan

فَسَوَّىٰ kalimah huruf, kalimah isim. Isim dhomir. Artinya: kemudian (Dia) menyempurnakannya

Ayat 3 وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ

وَٱلَّذِى قَدَّرَ kalimah huruf, isim, fiil dan isim dhomir. Artinya: dan (Dia) yang menentukan kadar

فَهَدَىٰ kalimah huruf, isim, isim dhomir. Artinya: kemudian (Dia) memberi petunjuk

Ayat 4 وَٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ ٱلْمَرْعَىٰ

وَٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ kalimah huruf, isim, fiil dan isim dhomir. Artinya: dan (Dia) yang menumbuhkan

ٱلْمَرْعَىٰ kalimah huruf, isim. Artinya: rerumputan

Ayat 5 فَجَعَلَهُۥ غُثَآءً أَحْوَىٰ

فَجَعَلَهُۥ kalimah huruf, fiil, isim dhomir, isim dhomir. Artinya: lalu dijadikan-Nya rerumputan itu…

غُثَآءً أَحْوَىٰ kalimah isim, isim. Artinya: … kering kehitam-hitaman

Irob Lengkap

سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى

سَبِّحِ fiil amar, failnya dlomir mustatir taqdirnya أنت. Lafazh اِسْمَ sebagai maf’ul bih, dibaca nashab. رَبِّكَ mudhof ilaih dari mudhof اِسْمَ. Dibaca jar. ‘kaf’ (كَ) mudhof ilaih dari muddhof ربِّ. Lafazh الْأَعْلَى menjadi na’at dan man’ut berupa رَبِّكَ dibaca jar karena murakkab bayani (na’tiyyah).

Jumlah سبح adalah contoh jumlah fi’liyah, ia berposisi sebagai ibtida’iyyah sehingga la mahalla laha (لا محل لها) minal i’rob atau tidak memiliki kedudukan dalam pengiroban.

ٱلَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ

الَّذِي isim maushul, naat ke-2 dari رَبِّكَ. Kalimah  خَلَقَ fiil madhi, fa’ilnya tersimpan mentaqdirkan هو.

Jumlah خَلَقَ menjadi Shilah-nya isim maushul.

فَسَوّى ‘fa’ huruf athof, سوّى fiil madhi dengan fa’il berupa isim dhomir mustatir jawaz, artinya subyek dhomir yang tersimpan mentaqdirkan هو. Jumlah فَسَوّى ma’thuf kepada ma’thuf ‘laih berupa خَلَقَ.

وَٱلَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ

وَٱلَّذِي wawu huruf athof. الذي ma’thuf kepada الذي sebelumnya. I’rob قَدَّرَ فَهَدى seperti i’rob-nya خلق فسوى.

وَٱلَّذِيٓ أَخۡرَجَ ٱلۡمَرۡعَىٰ

I’robnya وَٱلَّذِيٓ أَخۡرَجَ seperti i’robnya وَٱلَّذِي قَدَّرَ. Kalimah الْمَرْعى menjadi maf’ul bih, dibaca nashab dengan alamat fathah muqaddarah pada akhir kalimah.

فَجَعَلَهُۥ غُثَآءً أَحۡوَىٰ

‘Fa’ huruf athof. جعله fiil madhi, failnya tersimpan men-taqdirkan هو. ‘Ha’ pada جعله sebagai maf’ul bih, manshub. غُثاءً sebagai maf’ul bih ke-2, dibaca nashab. أَحْوى menjadi naat atau hal (حال) dibaca nashab. Jika sebagai naat, maka man’utnya غثاء. Jika hal, maka shohibul hal-nya kalimah المرعى.

Kesimpulan

Surah al Ala ini merupakan salah satu surah yang mengajak manusia untuk berpikir dan tadabbur tentang mahluk-mahluk Allah. Di dalamnya menerangkan ke-Maha Mampu-an Allah menciptakan kemudian mematikannya.

Selain itu, Allah memberikan segala yang dibutuhkan makhluk-mahluk-Nya dalam menjalani kehidupan. Di sisi yang lain, pemberian-Nya juga memiliki pertanggungjawaban. Dengan membaca, memahami, merenungi dan mengamalkan apa yang dikandung dalam surat Al ala ini semoga kita termasuk orang-orang yang takut (kepada Allah) dan mendapat pelajaran (dzikra) darinya. Amin.